Kemendikdasmen Dorong Digitalisasi Pembelajaran untuk Wujudkan Kelas Interaktif

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 15 September 2025 - 07:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KlopakIndonesia — Pendidikan di Indonesia sedang melangkah ke arah baru. Melalui program Digitalisasi Pembelajaran yang dicanangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), ruang kelas kini hadir lebih dinamis, interaktif, sekaligus merata untuk semua anak di berbagai pelosok negeri. Program ini lahir bukan semata karena tren teknologi, melainkan sebagai respons atas berbagai tantangan pendidikan, mulai dari rendahnya capaian literasi hingga _learning loss_ akibat pandemi.

“Digitalisasi pembelajaran menjadi upaya percepatan agar anak-anak Indonesia bisa mengejar ketertinggalan sekaligus terbiasa dengan keterampilan abad 21,” jelas Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dikdasmen), Gogot Suharwoto, dalam sebuah program SINIAR eps 12: Digitalisasi Pembelajaran pada kanal YouTube Kemdikdasmen.

Dasar hukum penguatan program ini tercantum dalam Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 yang menekankan revitalisasi satuan pendidikan, pembangunan sekolah unggul, hingga implementasi digitalisasi pembelajaran. Presiden sendiri menegaskan komitmen tersebut dalam pidato Hari Guru Nasional 2024 serta Hari Pendidikan Nasional 2025 dengan menargetkan setiap sekolah memperoleh perangkat Papan Interaktif Pintar (_smartboard_) yang disebut _Interactive Flat Panel_ (IFP) untuk menunjang proses belajar. Papan interaktif mulai didistribusikan ke sejumlah wilayah. Tahap 1 ditujukan untuk sekolah-sekolah di wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Adapun untuk wilayah lainnya, proses distribusi akan dilakukan pada tahap berikutnya.

Berbeda dengan televisi pintar yang hanya menyajikan informasi satu arah, Papan Interaktif Pintar dirancang agar guru dan siswa dapat berkolaborasi langsung melalui layar sentuh. Kontennya bisa berupa teks, video, audio, gamifikasi, bahkan _augmented reality_. “Anak-anak dapat memutar model jantung, memperbesar, memperkecil, dan menjawab soal interaktif di layar. Semua ini membuat pembelajaran lebih mudah dipahami sekaligus menyenangkan,” jelas Dirjen Gogot.

Baca Juga :  Bio Farma dan Gates Foundation berkolaborasi untuk Meningkatkan Kapasitas Vaksin di Indonesia

Digitalisasi Pembelajaran ini tidak hanya berupa perangkat, tetapi juga konten pembelajaran interaktif serta bimbingan teknis bagi guru agar mampu merancang pembelajaran yang kreatif dan inovatif. “Ini satu paket. Tidak cukup hanya alat tanpa konten, atau konten tanpa pendampingan. Semuanya terintegrasi,” tambah Gogot.

*Testimoni Positif Guru dan Murid atas Manfaat Papan Interaktif Pintar*

Manfaat nyata dari digitalisasi pembelajaran juga dirasakan langsung oleh Haryanto, guru Informatika di SMP Negeri 86 Jakarta. Ia menyebut, Papan Interaktif Pintar telah mengubah suasana kelas menjadi jauh lebih hidup. “Anak-anak jadi lebih antusias karena format belajarnya variatif. Mereka yang tadinya malu untuk maju, sekarang berani karena merasa bermain sekaligus belajar. Misalnya ada soal interaktif yang harus digeser jawabannya di papan, mereka berebut ingin mencoba,” ungkapnya.

Selain Papan Interaktif Pintar, Haryanto juga menggunakan platform Ruang Murid yang berisi materi dari SD hingga SMA/SMK, lengkap dengan video, buku digital, laboratorium maya, hingga gim edukasi. “Ketika membahas topik perundungan (_bullying_), saya bisa langsung menampilkan video dari platform, menambahkan gambar dari internet, lalu anak-anak diminta menjelaskan di papan. Mereka _excited_ sekali, seolah-olah jadi tutor sebaya,” ceritanya.

Menurutnya, kehadiran teknologi justru memperkuat peran guru sebagai desainer pembelajaran. “Alat ini ibarat ‘jembatan’. Guru tetap kunci, tapi kini punya banyak cara untuk membuat kelas lebih menarik, mendalam, dan menyenangkan,” tambahnya.

Meski kerap muncul pandangan bahwa digitalisasi hanya cocok untuk sekolah di kota besar, pemerintah memastikan program ini menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). “Kami bekerja sama dengan PLN untuk menyediakan panel surya bagi sekolah yang belum punya listrik. Untuk sekolah tanpa internet, kami berikan perangkat tambahan agar tetap terhubung. Bahkan konten interaktif bisa diakses tanpa internet melalui penyimpanan eksternal yang disiapkan khusus,” jelas Gogot.

Baca Juga :  Investor Kalangan Milenial Terus Bertambah

Selain itu, sistem pelatihan guru juga dibuat berlapis mulai dari pelatihan langsung, webinar, pengimbasan antarguru, hingga modul belajar mandiri di platform digital kementerian. Dengan cara ini, guru didorong untuk cepat beradaptasi dan saling berbagi praktik baik melalui komunitas belajar di sekolah masing-masing. Tak sedikit yang mengkhawatirkan bahwa distribusi perangkat ini hanya formalitas belaka. Menjawab kekhawatiran itu, Gogot menegaskan, pemerintah menggunakan tiga lapis verifikasi agar perangkat benar-benar sampai ke sekolah yang tepat: Data Pokok Pendidikan (Dapodik), validasi dari dinas, serta pernyataan kesediaan dari sekolah penerima.

“Digitalisasi bukan sekadar membagi alat, tapi memastikan mutu pembelajaran merata di seluruh Indonesia. Prinsipnya inklusif, adaptif, dan partisipatif. Semua anak berhak atas layanan pendidikan yang setara,” tegasnya.

Sementara itu, Haryanto menilai perangkat ini benar-benar memberi dampak positif. “Murid saya bahkan _nyeletuk_, ‘Pak, besok kita ke sini lagi ya.’ Itu artinya mereka senang dan merasa belajar jadi lebih seru. Kami pun terbantu karena Papan Interaktif Pintar bisa menggantikan banyak perangkat lain, lebih praktis tanpa kabel dan laptop tambahan,” katanya.

Digitalisasi Pembelajaran kini dipandang sebagai salah satu pilar penting dalam mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Pilar inklusif menegaskan layanan merata tanpa kesenjangan, pilar adaptif mendorong adopsi teknologi dan keterampilan abad 21, sedangkan pilar partisipatif membuka ruang kontribusi guru dan komunitas dalam mengembangkan konten. “Dengan digitalisasi, kita ingin menutup _learning loss_, memperkuat literasi, sekaligus menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan zaman. Anak-anak kita tidak boleh tertinggal dari perkembangan teknologi dunia,” pungkas Dirjen Gogot.

 

Follow WhatsApp Channel klopakindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Berbagi Reformasi Pendidikan ke Palestina, Perkuat Kerja Sama Global
Perdagangan 24 Satwa Dilindungi di Manado Terungkap, Tersangka Terancam 15 Tahun Penjara
Kemenhut Perkuat Pengamanan Perbatasan di Entikong Antisipasi Karhutla akibat El Nino
Prabowo Terbitkan 3 Regulasi Baru untuk Ketahanan Pangan Nasional, Ini Rinciannya
BMKG: Musim Kemarau 2026 di Jawa Barat Lebih Kering dan Panjang, 93 Persen Wilayah Alami Hujan di Bawah Normal
Pasanggiri Paduan Suara Puspa Swara Wanoja Sunda 2026 Resmi Dibuka di Bogor
Poltekkes Kemenkes Bandung dan Pelija Tanam Pohon, Dorong Kesadaran Lingkungan di Bandung Timur
Bio Farma Group Perkuat Diplomasi Kesehatan Global, Dorong Daya Saing Industri Farmasi Nasional

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 20:05 WIB

Indonesia Berbagi Reformasi Pendidikan ke Palestina, Perkuat Kerja Sama Global

Sabtu, 18 April 2026 - 07:35 WIB

Perdagangan 24 Satwa Dilindungi di Manado Terungkap, Tersangka Terancam 15 Tahun Penjara

Sabtu, 18 April 2026 - 07:31 WIB

Kemenhut Perkuat Pengamanan Perbatasan di Entikong Antisipasi Karhutla akibat El Nino

Sabtu, 18 April 2026 - 07:16 WIB

Prabowo Terbitkan 3 Regulasi Baru untuk Ketahanan Pangan Nasional, Ini Rinciannya

Kamis, 16 April 2026 - 19:03 WIB

BMKG: Musim Kemarau 2026 di Jawa Barat Lebih Kering dan Panjang, 93 Persen Wilayah Alami Hujan di Bawah Normal

Berita Terbaru