Surakarta – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa kecerdasan artifisial (KA) bukanlah ancaman bagi profesi guru, melainkan peluang strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperkuat peran pendidik dalam membentuk karakter generasi bangsa.
Hal tersebut disampaikan Wamen Fajar saat menghadiri Yudisium Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Surakarta, Sabtu (31/1/2026). Ia menyampaikan bahwa di era disrupsi teknologi, guru dituntut adaptif sekaligus tetap menjaga martabat profesinya.
“KA tidak menggantikan guru. Teknologi hadir sebagai asisten pembelajaran, sementara nilai keteladanan, empati, kebijaksanaan, dan pembentukan karakter tetap menjadi peran utama guru,” ujar Fajar.
Ia mengungkapkan, secara global lebih dari 78 persen organisasi telah memanfaatkan KA, dan otomatisasi diproyeksikan memangkas hingga 57 persen jam kerja dunia. Kondisi tersebut berdampak langsung pada dunia pendidikan dan menuntut kesiapan guru dalam membekali peserta didik dengan kompetensi masa depan.
Menurutnya, pemanfaatan KA seperti Papan Interaktif Digital (PID) dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih personal, inklusif, dan bermakna. Namun, literasi digital kritis dan kapasitas pedagogik yang kuat menjadi kunci agar teknologi dimanfaatkan secara bijak dan bertanggung jawab.
“Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses pemanusiaan manusia. Di sinilah peran guru tidak tergantikan,” tegasnya.
Wamen Fajar juga menyoroti tantangan etis penggunaan KA, mulai dari ketergantungan berlebihan hingga menurunnya daya kritis peserta didik. Karena itu, peningkatan kompetensi guru menjadi prioritas utama agar pemanfaatan teknologi tetap bermartabat.
Ia menambahkan, orientasi pembelajaran kini bergeser pada penguatan daya kritis siswa. Guru didorong melatih peserta didik untuk mengajukan pertanyaan, bukan sekadar menjawab soal. Pendekatan ini sejalan dengan filosofi Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Dalam menghadapi era KA, Kemendikdasmen telah menerapkan pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai mata pelajaran pilihan, terintegrasi dalam pembelajaran lain serta kegiatan ekstrakurikuler. Hingga tahun ajaran 2025/2026, puluhan ribu guru telah mengikuti pelatihan literasi digital dan berpikir komputasional.
Selain itu, Wamen Fajar mengingatkan pentingnya profesionalisme guru, termasuk kesiapan mengabdi di daerah terpencil. “Anak-anak di Flores, di Talaud, berhak mendapatkan pendidikan dan guru terbaik,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Harun Joko Prayitno, menegaskan komitmen UMS sebagai LPTK untuk melahirkan guru masa depan yang adaptif terhadap teknologi, beretika, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kebangsaan.
Perwakilan wisudawan, Ahmad Lutfi, menyampaikan bahwa PPG bukan hanya pendidikan profesi, tetapi juga proses pendewasaan diri. “Guru adalah penjaga nilai, penumbuh mimpi, dan penentu masa depan bangsa,”


























