Jakarta – PT Sinkona Indonesia Lestari (SIL) mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun buku 2025. Capaian tersebut disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Ruang Rapat Soekaryo, Kantor Pusat Kimia Farma, Jakarta, pada 23 Juni 2026.
Perusahaan yang dikenal sebagai salah satu produsen kina dan minyak atsiri terbesar di dunia itu menegaskan kesiapan memasuki fase ekspansi bisnis yang lebih agresif pada 2026. Fokus pengembangan diarahkan pada produk natural extract guna memperluas penetrasi pasar industri natural healthcare global.
Sebagai perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh PT Kimia Farma Tbk yang tergabung dalam Bio Farma Group dan PT Perkebunan Nusantara I, SIL berhasil menunjukkan performa operasional yang kuat melalui efisiensi produksi dan penguatan pasar internasional.
Direktur Utama PT Sinkona Indonesia Lestari, Wisnu Sucahyo, mengatakan pencapaian tersebut merupakan hasil dari transformasi dan pembenahan yang dilakukan perusahaan sejak 2022.
“Kinerja positif pada 2025 menjadi bukti bahwa fondasi bisnis perusahaan telah semakin kuat. Saat ini kami siap memasuki fase ekspansi agresif pada 2026 untuk memperkokoh posisi di pasar global maupun nasional,” ujar Wisnu.
Menurutnya, periode 2022 hingga 2023 menjadi masa penting bagi perusahaan untuk melakukan penataan organisasi dan pembenahan internal. Selanjutnya pada 2024 hingga 2025, fokus diarahkan pada penguatan fondasi bisnis di seluruh lini operasional.
Strategi tersebut terbukti mampu meningkatkan kinerja perusahaan dan memperkuat posisi SIL sebagai salah satu pemain utama industri pengolahan kina di tingkat global.
Sepanjang 2025, perusahaan juga berhasil mengoptimalkan bisnis ekspor serta memperluas pasar bisnis ke bisnis (B2B) untuk produk minyak atsiri. Selain itu, SIL terus memperkuat penetrasi pasar produk ritel melalui merek Selensia yang mengusung berbagai produk berbasis minyak atsiri.
Wisnu menambahkan, momentum RUPST menjadi landasan penting bagi perusahaan untuk menjalankan berbagai agenda pertumbuhan pada tahun berjalan, termasuk peningkatan standar kualitas produk sesuai kebutuhan pasar internasional.
“Kami ingin mengambil peran yang lebih besar dalam memperkuat ketahanan kesehatan nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia dalam industri bahan baku kesehatan global,” katanya.
PT Sinkona Indonesia Lestari berdiri sejak 1986 dan berfokus pada produksi garam kina beserta turunannya serta minyak atsiri yang digunakan sebagai bahan baku berbagai industri, mulai dari farmasi, makanan dan minuman, kosmetik hingga industri kimia.
Dengan fasilitas produksi yang berlokasi di Subang, Jawa Barat, perusahaan saat ini mengekspor produknya ke berbagai negara di Asia, Eropa, Amerika, dan Afrika. SIL juga dikenal sebagai salah satu produsen quinine salts terbesar di dunia yang memasok kebutuhan bahan baku bagi industri global.
Melalui pengembangan produk natural extract dan diversifikasi bisnis berbasis minyak atsiri, SIL optimistis dapat memperluas pangsa pasar sekaligus mendukung program hilirisasi industri nasional yang menjadi prioritas pemerintah.


























