Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencanangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan sebagai upaya mendorong kesetaraan gender dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.
Pencanangan tersebut dilakukan pada Rabu (1/4) di Kantor Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Jakarta, sebagai respons atas berbagai tantangan yang masih dihadapi perempuan, mulai dari keterbatasan akses pendidikan, stereotip gender, hingga ancaman kekerasan baik di ruang fisik maupun digital.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pendidikan merupakan kunci utama dalam pemberdayaan perempuan sekaligus bagian penting dari visi besar pendidikan nasional.
“Pendidikan tidak boleh diskriminatif, tidak boleh membatasi cita-cita anak perempuan, dan tidak boleh membiarkan stereotip ataupun rasa takut menghambat potensi mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemberdayaan perempuan harus menjangkau seluruh lapisan, termasuk anak perempuan di wilayah desa, pesisir, pegunungan, hingga daerah terdepan yang masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Menurutnya, penguatan literasi menjadi fondasi penting dalam membangun perempuan yang cerdas, mandiri, dan berdaya saing. Literasi yang dimaksud tidak hanya baca-tulis, tetapi juga literasi digital, hukum, hingga literasi kritis agar perempuan mampu mengambil keputusan serta melindungi diri.
Kegiatan ini mengusung tema “Pemberdayaan Perempuan: Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menjelaskan bahwa pendidikan menjadi jalan utama untuk membuka akses perempuan terhadap pengetahuan, meningkatkan kepercayaan diri, serta memperluas peran dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
“Melalui pendidikan, partisipasi perempuan dalam pembangunan dapat semakin luas, sekaligus mendorong masyarakat yang lebih berpengetahuan dan berkeadaban,” jelas Hafidz.
Ia juga menekankan peran penting bahasa dan sastra sebagai medium pembentuk kesadaran, penguatan daya pikir kritis, serta ruang refleksi atas kontribusi perempuan dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
Pencanangan ini juga bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kartini yang dimaknai sebagai penguatan gerakan literasi, pendidikan karakter, serta aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993–1995, Wardiman Djojonegoro, yang turut hadir, menilai pendidikan merupakan kunci utama dalam menempatkan perempuan sebagai subjek pembangunan, pelaku perubahan, sekaligus kekuatan kemajuan bangsa.
Melalui pencanangan ini, Kemendikdasmen berharap pemberdayaan perempuan melalui pendidikan dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi kemajuan bangsa.


























