Herman Khaeron Soroti Efisiensi Pembangkit PLN dan Subsidi Listrik Rp172 Triliun, BAKN Dorong Reformasi Sistem Kelistrikan

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 13 Februari 2026 - 19:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI, Herman Khaeron saat melakukan kunjungan kerja ke PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Semarang, Jawa Tengah, Kamis (12/2/2026). Foto : Foto : Mro/Andri

Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI, Herman Khaeron saat melakukan kunjungan kerja ke PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Semarang, Jawa Tengah, Kamis (12/2/2026). Foto : Foto : Mro/Andri

Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Herman Khaeron, melakukan kunjungan kerja ke PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Semarang, Jawa Tengah, Kamis (12/2/2026). Kunjungan tersebut bertujuan untuk mendalami peran strategis Indonesia Power dalam mendukung sistem ketenagalistrikan nasional.

Dalam kunjungan tersebut, Herman menegaskan bahwa BAKN DPR RI telah menangkap secara jelas substansi operasional Indonesia Power sebagai subholding pembangkitan yang menopang kinerja PT PLN (Persero) secara keseluruhan. Sinergi antar-subholding dalam satu ekosistem pembangkit dinilai krusial dalam menjaga ketersediaan energi nasional.

Ia mengapresiasi peningkatan efisiensi sejumlah pembangkit yang telah beroperasi dengan baik. Menurutnya, pembangkit berbasis gas memiliki keunggulan dari sisi kebersihan dan fleksibilitas dibandingkan pembangkit berbasis batubara. Meski demikian, pemilihan jenis energi tetap harus disesuaikan dengan kapasitas pembangkit serta ketersediaan sumber daya. Politisi Fraksi Partai Demokrat itu mencatat bahwa ketergantungan terhadap pembangkit diesel berbahan bakar solar kini telah menurun signifikan, sementara porsi pembangkitan nasional masih didominasi batubara, disusul gas.

Ke depan, ia menekankan bahwa bauran energi di sektor pembangkitan harus terus didorong dan dipercepat. Salah satu agenda penting yang menjadi fokus BAKN adalah menelaah besaran Biaya Pokok Penyediaan Tenaga Listrik (BPPTL). Biaya produksi di sektor pembangkit dinilai memiliki korelasi langsung terhadap BPPTL listrik nasional dan pada akhirnya berdampak pada tarif listrik.

Baca Juga :  Gerak Masif, 75 Perguruan Tinggi Teken Komitmen Pengelolaan Sampah dengan Pemkot Bandung

Herman mengungkapkan bahwa saat ini negara mengalokasikan subsidi listrik sekitar Rp72 triliun bagi masyarakat tidak mampu, khususnya pelanggan daya 450 VA dan sebagian 900 VA. Di sisi lain, skema kompensasi yang sebelumnya ditujukan sebagai stimulus bagi kelompok masyarakat menengah ke atas kini membengkak hingga sekitar Rp100 triliun.

Ia menilai kondisi tersebut sebagai pemborosan keuangan negara yang seharusnya dapat ditekan melalui peningkatan efisiensi di sektor hulu, khususnya pembangkit. “Oleh karena itu, demi kepentingan bangsa dan negara ke depan, kami ingin mengurai persoalan ini secara menyeluruh, tidak hanya pada transmisi dan distribusi, tetapi juga dari hulunya, yaitu pembangkit,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya kejelasan roadmap pembangkit nasional ke depan, apakah akan tetap bertumpu pada batubara, air, panas bumi, tenaga surya, atau sumber energi lainnya. Kejelasan arah tersebut dinilai penting agar progres pengembangan pembangkit dapat dikawal secara konsisten. Herman turut menyinggung pengalaman sejumlah negara Eropa yang telah mulai menyeimbangkan penggunaan energi fosil dengan energi berkelanjutan melalui peningkatan porsi energi baru terbarukan.

Baca Juga :  Mendikdasmen Tegaskan Peran Pendidikan Jadi Investasi Jangka Panjang Generasi Muda

Selain itu, ia tidak menutup kemungkinan opsi energi nuklir di masa depan, mengingat Indonesia memiliki potensi sumber daya uranium. Namun demikian, hal tersebut ditegaskan sebagai kebijakan strategis negara yang memerlukan kajian mendalam serta keputusan bersama.

Herman menegaskan bahwa DPR RI, khususnya melalui BAKN, akan terus berperan aktif dalam mengurai sistem ketenagalistrikan nasional, baik untuk kebutuhan saat ini maupun ke depan. Upaya tersebut mencakup sektor pembangkit, transmisi, dan distribusi, hingga perumusan langkah-langkah strategis agar terdapat keselarasan pandangan antara pemerintah dan DPR dalam membangun sistem dan ekosistem kelistrikan nasional yang kokoh.

“Tujuan akhirnya adalah menekan biaya produksi melalui peningkatan efisiensi, memastikan elektrifikasi yang merata hingga ke daerah 3T, serta mencapai target besar negara, yaitu swasembada energi,” tegas Legislator Daerah Pemilihan Jawa Barat VIII itu.

Ia menutup dengan menekankan bahwa BAKN tidak berorientasi pada mencari kesalahan, melainkan solusi. Seluruh langkah pengawasan dilakukan dalam rangka mewujudkan tata kelola kelistrikan yang efisien dan efektif, serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat, bangsa, dan negara.

Follow WhatsApp Channel klopakindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bio Farma Raih Dua Penghargaan Reputasi Perusahaan 2026
Andi Amran Sulaiman Raih Skor Kinerja Tertinggi Menteri Kabinet Merah Putih
15 Talenta Terbaik LDI 2026 Disiapkan Menuju Panggung Internasional
Kemendikdasmen Buka Beasiswa S1/D4 untuk 32.828 Guru di Indonesia
BI Ungkap Alasan Terbitkan Kartu Kredit Indonesia, Jadi Buffer Konsumsi Rakyat
Mentan Amran Sebut 90 Persen Beras Fortifikasi Bermasalah, KFI Soroti Pengawasan
Presiden Prabowo Imbau Warga Jakarta, Banten dan Lampung Waspada Gunung Anak Krakatau
Bandara Kertajati Jadi Alternatif Usai 8 Bandara Ditutup Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 15:45 WIB

Bio Farma Raih Dua Penghargaan Reputasi Perusahaan 2026

Kamis, 10 September 2026 - 07:30 WIB

Andi Amran Sulaiman Raih Skor Kinerja Tertinggi Menteri Kabinet Merah Putih

Kamis, 10 September 2026 - 07:24 WIB

15 Talenta Terbaik LDI 2026 Disiapkan Menuju Panggung Internasional

Selasa, 8 September 2026 - 08:41 WIB

Kemendikdasmen Buka Beasiswa S1/D4 untuk 32.828 Guru di Indonesia

Senin, 7 September 2026 - 14:38 WIB

Mentan Amran Sebut 90 Persen Beras Fortifikasi Bermasalah, KFI Soroti Pengawasan

Berita Terbaru

Opini

Desil oh Desil

Sabtu, 12 Sep 2026 - 19:39 WIB

NEWS

Bio Farma Raih Dua Penghargaan Reputasi Perusahaan 2026

Sabtu, 12 Sep 2026 - 15:45 WIB