Beras Oplosan Dijual Rp 15.000 Per Kg, Konsumen Dirugikan Hingga Rp 99 Triliun

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 25 Juli 2025 - 09:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Skandal peredaran beras oplosan secara masif di sejumlah daerah mengungkap kerugian besar bagi konsumen. Beras dengan kualitas rendah dijual sebagai beras premium dengan harga Rp 15.000 per kilogram, menimbulkan potensi kerugian nasional hingga Rp 99,35 triliun per tahun. Pemerintah, aparat penegak hukum, hingga Kejaksaan Agung kini bergerak menyikapi kasus yang dinilai serius ini.

Harga Tak Turun di Masa Panen, Kementan Lakukan Investigasi

Kasus ini mencuat setelah Kementerian Pertanian (Kementan) mencurigai naiknya harga beras di pasar pada masa panen raya pertengahan tahun 2025. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan, produksi beras nasional dalam kondisi surplus, namun harga di pasaran justru melonjak.

“Di tengah panen raya, seharusnya harga turun. Tapi faktanya justru naik. Ini mengindikasikan ada yang tidak beres di sistem distribusi dan mutu beras,” ujar Amran dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (24/7).

Investigasi pun dilakukan bersama sejumlah lembaga seperti Satgas Pangan Bareskrim Polri, Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan laboratorium independen. Sebanyak 268 merek beras dari 10 provinsi diuji di 13 laboratorium terverifikasi. Hasilnya mengejutkan:

  • 85–88 persen merek beras tidak sesuai label mutu.
  • 60–95 persen dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
  • 22–91 persen kemasan memiliki berat lebih rendah dari keterangan yang tertera.

“Ini penipuan terang-terangan. Masyarakat beli beras premium, tapi kualitas dan beratnya tidak sesuai,” tegas Amran.

Modus: Medium Dioplos Jadi Premium

Satgas Pangan mengungkap bahwa para pelaku mengambil beras medium seharga sekitar Rp 12.000/kg, lalu mengemas ulang dengan merek dan label premium untuk dijual Rp 15.000/kg. Beras yang seharusnya berada di kelas menengah itu tidak mengalami proses peningkatan mutu, namun langsung dipasarkan dengan label yang menyesatkan.

Baca Juga :  Menyusuri Jejak Arena Adu Domba di Hutan Kota Babakan Siliwangi

Perbedaan harga sekitar Rp 3.000 per kg inilah yang menyebabkan kerugian besar secara agregat. Dengan asumsi konsumsi beras 30 juta ton per tahun, maka kerugian publik bisa mencapai Rp 99,35 triliun.

Sebanyak 212 merek yang teridentifikasi bermasalah telah ditindak, dan penyidikan dilakukan terhadap sejumlah perusahaan seperti PT PIM, PT FS, dan beberapa distributor di wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Kejaksaan Agung Siap Ambil Alih Perkara

Melihat skala kerugian dan dampaknya yang luas terhadap masyarakat, Kejaksaan Agung Republik Indonesia menyatakan kesiapan untuk mengambil alih penyidikan, bila ditemukan indikasi tindak pidana korupsi atau pelanggaran terhadap Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan UU Pangan.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah mengatakan bahwa Kejagung terus memantau perkembangan kasus ini dan telah berkoordinasi dengan Satgas Pangan serta Kementan.

“Kami membuka opsi untuk menaikkan kasus ini ke tingkat pidana khusus apabila terbukti ada penyalahgunaan wewenang, pemalsuan mutu pangan, dan manipulasi harga yang berdampak sistemik,” kata Febrie di Gedung Bundar, Kejaksaan Agung, Kamis (25/7).

Febrie menegaskan, pelaku bisa dijerat dengan Pasal 62 UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, serta Pasal-pasal dalam UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan, yang ancamannya bisa mencapai 5 tahun penjara.

Baca Juga :  Jaga Produksi Beras di Tengah Iklim Ekstrem, Kementan Percepat Infrastruktur Irigasi

Kejagung juga mendalami kemungkinan adanya keterlibatan pejabat atau aparat yang “bermain” dalam sistem distribusi pangan nasional.

Pemerintah Minta Restitusi, Presiden Prabowo Tegas

Presiden Prabowo Subianto menyatakan kemarahan atas skandal ini dan menegaskan pentingnya restitusi. Ia meminta para pelaku usaha yang melakukan pengoplosan beras segera mengembalikan kerugian yang diderita publik.

“Kalau bisa dikembalikan Rp 100 triliun, itu bagus. Kalau mereka mau restitusi, kita bisa pertimbangkan aspek hukumnya,” ujar Prabowo saat rapat terbatas dengan para menteri terkait.

Langkah ini dinilai sebagai bagian dari pendekatan “restorative justice” namun tetap membuka ruang penindakan hukum jika pelaku tidak kooperatif.

Perlindungan Konsumen dan Pengawasan Diperketat

Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi, meminta seluruh pelaku usaha beras memperbaiki sistem mutu, label, dan distribusi. Ia mengingatkan bahwa pengawasan terhadap mutu pangan kini tidak bisa ditawar-tawar.

“Kami pastikan pengawasan mutu pangan akan diperketat. Pelaku usaha harus jujur dan taat regulasi,” ujar Arief.

Pemerintah juga akan membentuk tim audit mutu gabungan lintas lembaga, serta membuka akses pengaduan bagi masyarakat yang mencurigai praktik serupa di wilayahnya.

Kasus beras oplosan ini menyoroti lemahnya pengawasan terhadap mutu dan distribusi pangan di Indonesia. Dengan nilai kerugian yang fantastis, aparat hukum termasuk Kejaksaan Agung kini bersiap turun tangan. Sementara itu, masyarakat diimbau untuk lebih kritis dalam memilih beras dan melaporkan produk yang diduga tidak sesuai standar.

Reporter: Tim Redaksi Klopak Indonesia
Editor: Redaktur Pelaksana

 

Follow WhatsApp Channel klopakindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Berbagi Reformasi Pendidikan ke Palestina, Perkuat Kerja Sama Global
Perdagangan 24 Satwa Dilindungi di Manado Terungkap, Tersangka Terancam 15 Tahun Penjara
Kemenhut Perkuat Pengamanan Perbatasan di Entikong Antisipasi Karhutla akibat El Nino
Prabowo Terbitkan 3 Regulasi Baru untuk Ketahanan Pangan Nasional, Ini Rinciannya
BMKG: Musim Kemarau 2026 di Jawa Barat Lebih Kering dan Panjang, 93 Persen Wilayah Alami Hujan di Bawah Normal
Pasanggiri Paduan Suara Puspa Swara Wanoja Sunda 2026 Resmi Dibuka di Bogor
Poltekkes Kemenkes Bandung dan Pelija Tanam Pohon, Dorong Kesadaran Lingkungan di Bandung Timur
Bio Farma Group Perkuat Diplomasi Kesehatan Global, Dorong Daya Saing Industri Farmasi Nasional

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 20:05 WIB

Indonesia Berbagi Reformasi Pendidikan ke Palestina, Perkuat Kerja Sama Global

Sabtu, 18 April 2026 - 07:35 WIB

Perdagangan 24 Satwa Dilindungi di Manado Terungkap, Tersangka Terancam 15 Tahun Penjara

Sabtu, 18 April 2026 - 07:31 WIB

Kemenhut Perkuat Pengamanan Perbatasan di Entikong Antisipasi Karhutla akibat El Nino

Sabtu, 18 April 2026 - 07:16 WIB

Prabowo Terbitkan 3 Regulasi Baru untuk Ketahanan Pangan Nasional, Ini Rinciannya

Kamis, 16 April 2026 - 19:03 WIB

BMKG: Musim Kemarau 2026 di Jawa Barat Lebih Kering dan Panjang, 93 Persen Wilayah Alami Hujan di Bawah Normal

Berita Terbaru