Misteri Kematian Satu Keluarga di Glamping Posong Terungkap, Polisi Pastikan Keracunan Karbon Monoksida

- Jurnalis

Selasa, 16 Juni 2026 - 06:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TEMANGGUNG – Misteri kematian satu keluarga yang ditemukan tak bernyawa di dalam tenda glamping kawasan Wisata Alam Posong, Kabupaten Temanggung, akhirnya terungkap.

Setelah hampir tiga pekan melakukan penyelidikan, Polda Jawa Tengah memastikan empat anggota keluarga asal Kabupaten Semarang tersebut meninggal dunia akibat keracunan gas karbon monoksida (CO) yang berasal dari pembakaran briket arang di dalam tungku tanah liat.

Kesimpulan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Borobudur Mapolda Jawa Tengah, Semarang, Senin (15/6/2026). Hasil penyelidikan sekaligus mematahkan dugaan awal yang mengarah pada kebocoran gas portable maupun keracunan makanan.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto, menjelaskan bahwa seluruh kesimpulan didasarkan pada metode Scientific Crime Investigation melalui olah tempat kejadian perkara (TKP), autopsi, pemeriksaan laboratorium forensik, hingga simulasi di lokasi kejadian.

“Hari ini kami memaparkan hasil penyelidikan berbasis Scientific Crime Investigation terhadap peristiwa tersebut. Seluruh kesimpulan yang disampaikan didasarkan pada hasil olah TKP, autopsi, pemeriksaan laboratorium forensik, dan rangkaian penyelidikan yang dilakukan secara komprehensif,” ujar Artanto.

Autopsi Pastikan Korban Keracunan Karbon Monoksida

Kabid Dokkes Polda Jateng, Kombes Pol drg Agung Hadi Wijanarko, mengungkapkan hasil autopsi menunjukkan seluruh korban mengalami keracunan karbon monoksida yang menyebabkan mati lemas.

Pemeriksaan forensik terhadap tubuh dan sampel darah korban menemukan tanda-tanda paparan karbon monoksida dalam jumlah tinggi. Sementara itu, tidak ditemukan luka akibat kekerasan maupun kandungan zat beracun lain seperti sianida.

“Pemeriksaan forensik terhadap korban dan sampel darahnya menunjukkan adanya tanda-tanda keracunan karbon monoksida. Kami juga tidak menemukan luka akibat kekerasan di tubuh para korban maupun kandungan zat beracun lain seperti sianida yang dapat menyebabkan kematian,” kata Agung.

Hasil pemeriksaan laboratoris kriminalistik juga memperkuat temuan tersebut. Seluruh barang bukti yang diperiksa dinyatakan positif mengandung karbon monoksida dan negatif sianida.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Tinjau Program MBG di Bogor, Tegaskan Komitmen untuk Anak Bangsa

Simulasi Ungkap Sumber Gas Mematikan

Untuk memastikan sumber paparan karbon monoksida, Bidang Laboratorium Forensik Polda Jateng melakukan simulasi langsung di lokasi kejadian.

Kasubbid Kimia Biologi Forensik Bidlabfor Polda Jateng, AKBP Ibnu Sutarto, menjelaskan bahwa hasil simulasi menunjukkan gas karbon monoksida berasal dari pembakaran briket arang di dalam tungku tanah liat yang ditempatkan di dalam tenda.

“Hasil simulasi yang kami lakukan menunjukkan diduga kuat gas karbon monoksida berasal dari pembakaran tungku di dalam tenda. Konsentrasi gas yang dihasilkan dapat mencapai 2.000 ppm yang sangat berbahaya bagi manusia,” ujarnya.

Menurut Ibnu, kadar tersebut jauh melampaui ambang batas aman bagi manusia. Bahkan saat pengujian dilakukan dengan tungku berada di luar tenda, karbon monoksida masih berpotensi masuk ke dalam dan melebihi batas aman.

Berawal dari Liburan Keluarga

Peristiwa tragis tersebut terjadi di Glamping Safari Nomor 3, Taman Wisata Alam Posong, Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung.

Korban merupakan satu keluarga asal Banyubiru, Kabupaten Semarang, yaitu Muhammad Ali Munawar (52), Maghfiroh (43), Bagas Amar Hakiki (21), dan Alvino Evan Hakim (16).

Kapolres Temanggung, AKBP Zamrul Aini, menjelaskan keluarga tersebut tiba di lokasi wisata pada Selasa malam, 26 Mei 2026, sekitar pukul 21.40 WIB menggunakan mobil Honda Jazz berwarna putih.

Saat check-in, petugas pengelola memberikan fasilitas berupa makanan ringan, minuman, air mineral, serta tungku tanah liat lengkap dengan briket arang untuk keperluan memanggang makanan.

Pihak pengelola juga telah memberikan peringatan agar tungku tidak digunakan di dalam tenda karena berpotensi menimbulkan kebakaran maupun gangguan pernapasan akibat asap dan gas hasil pembakaran.

Namun berdasarkan hasil penyelidikan, tungku tersebut diduga dibawa masuk ke dalam tenda yang tertutup rapat saat malam hari untuk menghangatkan ruangan.

Baca Juga :  JABAR PUNYA KAPER ANYAR: MENDUKBANGGA DORONG INOVASI DAN INTEGRASI PROGRAM STRATEGIS

Akibat minimnya ventilasi, gas karbon monoksida terakumulasi hingga mencapai kadar mematikan. Keesokan harinya, seluruh korban ditemukan dalam posisi tidur dan sudah meninggal dunia.

“Saat dilakukan pengecekan, tungku tanah liat ditemukan berada di dalam tenda dekat pintu masuk, sementara kompor portabel berada di luar tenda,” kata Zamrul.

Dugaan Keracunan Makanan Gugur

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jateng, Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir, mengatakan penyidik sebelumnya sempat mendalami kemungkinan keracunan makanan maupun paparan gas dari kompor portable.

Berbagai sampel makanan, peralatan memasak, hingga tabung gas portable telah diperiksa di laboratorium forensik. Namun hasil pemeriksaan tidak menemukan zat beracun yang menjadi penyebab kematian korban.

“Pada tahap awal kami mendalami kemungkinan keracunan makanan. Namun setelah dilakukan pemeriksaan terhadap makanan yang dibawa korban maupun sisa makanan di rumah korban yang dikonsumsi sebelum keberangkatan, tidak ditemukan zat beracun yang menjadi penyebab kematian,” ujarnya.

Anwar juga menegaskan bahwa penyidik tidak menemukan unsur kelalaian dari pihak pengelola wisata karena prosedur keselamatan telah dijalankan dan peringatan penggunaan tungku telah disampaikan kepada para tamu.

Jadi Pelajaran Penting

Polda Jawa Tengah berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tidak menggunakan alat pembakaran berbahan arang di ruang tertutup.

Karbon monoksida merupakan gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau, sehingga sering kali tidak disadari keberadaannya. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kehilangan kesadaran hingga kematian dalam waktu singkat.

“Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua mengenai pentingnya mematuhi prosedur keselamatan saat menggunakan alat pembakaran di area perkemahan maupun ruang tertutup,” pungkas Kombes Pol Artanto.

Follow WhatsApp Channel klopakindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Moka Jabar 2026 Didorong Jadi Komunikator Strategis Pariwisata di Era Digital
HUT ke-81 Jabar, Pemprov Fokus Perkuat Infrastruktur, Kesehatan, dan Pendidikan
DPR RI Desak Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Karhutla di Sumatra dan Kalimantan
Dampak Karhutla, Kemendikdasmen Siapkan Protokol Pembelajaran Darurat Asap
Pembelajaran Mendalam Bantu Guru Ubah Kesulitan Menulis Menjadi Pengalaman Belajar Menyenangkan
BNNP Jabar Ungkap Peredaran 5 Kg Sabu di Cinere Depok, Dua Tersangka Diamankan
BGN Ungkap Dugaan Kelalaian Pengolahan Ikan dalam Insiden MBG di Karo
Insiden Keamanan Pangan MBG di Karo, BGN Siapkan Sanksi Tegas hingga Pemecatan ASN

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 07:34 WIB

Moka Jabar 2026 Didorong Jadi Komunikator Strategis Pariwisata di Era Digital

Minggu, 23 Agustus 2026 - 17:46 WIB

HUT ke-81 Jabar, Pemprov Fokus Perkuat Infrastruktur, Kesehatan, dan Pendidikan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:34 WIB

DPR RI Desak Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Karhutla di Sumatra dan Kalimantan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:17 WIB

Dampak Karhutla, Kemendikdasmen Siapkan Protokol Pembelajaran Darurat Asap

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:01 WIB

BNNP Jabar Ungkap Peredaran 5 Kg Sabu di Cinere Depok, Dua Tersangka Diamankan

Berita Terbaru

AGRICULTURE

Perbedaan Melon Hamigua dan Hamigua Lavender, Mana Lebih Manis?

Minggu, 23 Agu 2026 - 17:55 WIB