Indonesia Tegaskan Peran Pendidikan dalam Membangun Kepercayaan di Tengah Polarisasi Dunia

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 12 November 2025 - 15:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Jakarta, 12 November 2025 – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam menumbuhkan kepercayaan sosial _(social trust)_ di tengah dunia yang semakin terpolarisasi. Hal ini disampaikan dalam Panel 1 bertema _“Education to Foster Social Trust in a Polarized World”_ pada konferensi _International Cross-Cultural Religious Literacy_ (ICCRL) yang diselenggarakan oleh Leimena Institut bekerja sama dengan Pusat Penguatan Karakter (Puspeka), Kemendikdasmen di Jakarta pada tanggal 11-12 November 2025.

Dalam paparannya, Wamendikdasmen Fajar mengawali dengan mengingatkan kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada September 2024 yang ditulis dalam buku _Faith, Eternity, and Compassion_ terbitan Kompas. Ia menyebut bahwa kunjungan tiga Paus ke Indonesia pada 1970, 1989, dan 2024 menjadi pesan moral kuat bagi kemanusiaan. “Ini menunjukkan bahwa Indonesia dianggap dunia sebagai negara yang memiliki nilai-nilai toleransi tinggi, dan penguatan literasi lintas budaya berjalan dengan baik,” ujarnya.

Wamen Fajar juga mengingatkan kembali apresiasi Presiden Nelson Mandela saat menjamu kunjungan Indonesia pada 1997. Presiden Mandela memuji kemampuan Indonesia menjadikan keragaman sebagai kekuatan. Menurut Wamen Fajar, hal itu menegaskan filosofi Bhinneka Tunggal Ika yang hidup dalam harmoni dan persaudaraan. “Indonesia memiliki modal sosial yang sangat kuat, dan itulah semangat besar konferensi ini: bagaimana pendidikan bisa menumbuhkan kepercayaan sosial di tengah dunia yang terpolarisasi,” kata Wamen Fajar di Jakarta pada Selasa (11/11).

Ia juga menyampaikan bahwa jutaan anak Indonesia setiap hari belajar berdampingan dengan teman yang berbeda agama, budaya, dan bahasa. Dalam konteks ini, pendidikan menjadi wadah alami untuk membangun rasa saling percaya. Wamen Fajar mengatakan bahwa hasil penelitiannya bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, tentang praktik pendidikan inklusif di wilayah mayoritas nonmuslim seperti Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Kalimantan Barat.

Penelitian tersebut, yang menghasilkan buku Kristen Muhammadiyah, menemukan bahwa sekolah-sekolah Muhammadiyah di daerah-daerah tersebut dapat diterima dengan baik oleh masyarakat setempat bahkan mendidik anak-anak Katolik dan Protestan. “Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan yang tulus dan inklusif mampu menumbuhkan kepercayaan sosial yang otentik,” tegasnya.

Baca Juga :  Yuk Ikutan Lomba Foto Bandung Great Sale, Simak Waktu dan Ketentuannya!

Lebih lanjut, Wamen Fajar menjelaskan bahwa arah pendidikan Indonesia kini diperkaya dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang bukan sekadar kurikulum baru, melainkan upaya memuliakan manusia. “Hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia. Di tengah tantangan digitalisasi dan kecerdasan buatan, kita perlu menegaskan kembali apa arti menjadi manusia,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pendidikan abad ke-21 harus menekankan soft skills seperti berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, komunikatif, dan empati yang termasuk nilai-nilai yang juga menjadi inti dari 8 Dimensi Profil Lulusan. “Soft skill bukan tambahan, melainkan inti dari kompetensi kemanusiaan,” ujarnya.

Wamen Fajar kemudian berbagi pengalaman pribadinya saat menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pengalaman tersebut mengajarkan pentingnya menumbuhkan literasi lintas budaya dan keberagamaan sejak dini, termasuk melalui seni dan budaya. “Beragama membutuhkan hati, dan seni adalah bagian dari memperhalus kemanusiaan,” katanya.

Wamendikdasmen juga menyoroti tantangan baru dunia pendidikan, terutama terkait pengaruh besar media sosial terhadap generasi muda. “Anak-anak hari ini cenderung kehilangan kepercayaan terhadap teman sebaya maupun institusi pendidikan. Bahkan agama kini ditantang relevansinya dalam memberi makna hidup,” ujarnya.

Karena itu, Wamen Fajar juga menyampaikan bahwa dalam membangun kembali kepercayaan sosial di lingkungan pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan berbagai kelompok keagamaan. “Pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia. Dan inti dari kemanusiaan adalah kemampuan untuk mempercayai orang lain, menjauhkan prasangka, dan menghapus stigma negatif,” ujarnya.

Di sisi lain, Plt. Wakil Menteri bidang Keuangan, Departemen Pendidikan Filipina, Edson Byron K. Sy, yang turut hadir dalam panel yang sama menjelaskan bahwa saat ini Filipina tengah menghadapi bencana super topan yang merusak sedikitnya 1.500 ruang kelas, namun semangat pendidikan tetap tidak surut.

Baca Juga :  bank bjb Tawarkan SBN Ritel Seri SR021 Dengan Kupon Investasi Hingga 6,45%.

“Di Filipina, ukuran kepercayaan tidak diukur pada hari yang tenang, melainkan di tengah badai. Ketika topan datang, yang menyelamatkan kami bukan hanya kekuatan atap, tetapi keyakinan bahwa seseorang akan membantu,” ujarnya. Ia mencontohkan seorang guru yang membuka sekolah sebagai tempat berlindung, atau tetangga yang berbagi beras saat persediaan menipis. “Kepercayaan adalah infrastruktur tak kasat mata yang mempersatukan rakyat ketika segalanya runtuh,” tuturnya.

Edson juga menegaskan bahwa Departemen Pendidikan Filipina terus memperkuat pendidikan nilai dan moral, memperluas pendidikan inklusif, serta memperkenalkan mata pelajaran baru seperti _global citizenship_, _civil engagement_, dan _community action_ dalam kurikulum menengah atas yang diperbarui. “Kompetensi tanpa nurani adalah kehampaan. Karena itu, kami ingin melahirkan pelajar yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berempati dan berperikemanusiaan,” tegas Edson.

“Pendidikan bukan sekadar membangun pikiran yang terinformasi, tetapi juga hati yang berbelas kasih. Di kawasan yang majemuk seperti ASEAN, literasi lintas agama dan budaya bukanlah kemewahan, melainkan bahasa perdamaian dan tata bahasa kepercayaan,” tambahnya.

Sementara itu, _Chairman of Manara Center for Coexistence of Dialogue_, UAE, Ali Rashed Al Nuaimi, ​menekankan bahwa peran penting pendidikan, budaya, dan keimanan dalam membentuk masa depan bangsa. Ia menyebut bahwa keanekaragaman merupakan sumber kekuatan, bukan perpecahan.

“Keberagaman bahasa, etnis, dan keyakinan seperti yang dimiliki Indonesia dan banyak negara ASEAN, harus dipandang sebagai kekayaan yang mempersatukan. Kita bisa memilih untuk membiarkan perbedaan memecah, atau mengelolanya untuk membangun jembatan kepercayaan,” ujar Ali.

Ali menyoroti pentingnya menempatkan kewarganegaraan _(citizenship)_ sebagai payung utama dalam agenda nasional dan pendidikan. “Kewarganegaraanlah yang menyatukan kita semua. Di bawahnya, agama dan budaya memiliki tempat yang terhormat. Jangan abaikan para pemimpin agama, libatkan mereka dalam dialog. Mereka bagian dari solusi,” katanya.

 

Follow WhatsApp Channel klopakindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Berbagi Reformasi Pendidikan ke Palestina, Perkuat Kerja Sama Global
Perdagangan 24 Satwa Dilindungi di Manado Terungkap, Tersangka Terancam 15 Tahun Penjara
Kemenhut Perkuat Pengamanan Perbatasan di Entikong Antisipasi Karhutla akibat El Nino
Prabowo Terbitkan 3 Regulasi Baru untuk Ketahanan Pangan Nasional, Ini Rinciannya
BMKG: Musim Kemarau 2026 di Jawa Barat Lebih Kering dan Panjang, 93 Persen Wilayah Alami Hujan di Bawah Normal
Pasanggiri Paduan Suara Puspa Swara Wanoja Sunda 2026 Resmi Dibuka di Bogor
Poltekkes Kemenkes Bandung dan Pelija Tanam Pohon, Dorong Kesadaran Lingkungan di Bandung Timur
Bio Farma Group Perkuat Diplomasi Kesehatan Global, Dorong Daya Saing Industri Farmasi Nasional

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 20:05 WIB

Indonesia Berbagi Reformasi Pendidikan ke Palestina, Perkuat Kerja Sama Global

Sabtu, 18 April 2026 - 07:35 WIB

Perdagangan 24 Satwa Dilindungi di Manado Terungkap, Tersangka Terancam 15 Tahun Penjara

Sabtu, 18 April 2026 - 07:31 WIB

Kemenhut Perkuat Pengamanan Perbatasan di Entikong Antisipasi Karhutla akibat El Nino

Sabtu, 18 April 2026 - 07:16 WIB

Prabowo Terbitkan 3 Regulasi Baru untuk Ketahanan Pangan Nasional, Ini Rinciannya

Kamis, 16 April 2026 - 19:03 WIB

BMKG: Musim Kemarau 2026 di Jawa Barat Lebih Kering dan Panjang, 93 Persen Wilayah Alami Hujan di Bawah Normal

Berita Terbaru