Klopakindonesia.com – Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul terdeteksinya virus influenza A (H3N2) subclade K, yang populer disebut superflu, di Indonesia. Varian influenza ini dilaporkan memiliki daya penularan yang cepat, meski hingga kini belum terbukti menyebabkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan flu musiman.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat, hingga akhir Desember 2025 terdapat 62 kasus terkonfirmasi influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia. Kasus tersebut teridentifikasi melalui pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) dan tersebar di sedikitnya delapan provinsi, dengan konsentrasi terbesar di wilayah Jawa dan Kalimantan.
Awal Mula Munculnya Superflu Subclade K di Dunia
Virus influenza A (H3N2) sejatinya bukan virus baru. Tipe ini telah dikenal secara global sejak 1968, saat menjadi penyebab pandemi Hong Kong Flu. Sejak saat itu, H3N2 terus mengalami perubahan genetik atau mutasi alami yang lazim terjadi pada virus influenza.
Subclade K merupakan turunan mutasi terbaru dari influenza A (H3N2) yang berkembang dari kelompok genetik sebelumnya. Perubahan pada struktur genetik virus inilah yang membuat subclade K dinilai lebih mudah menular, terutama di lingkungan padat penduduk.
Secara global, subclade K pertama kali teridentifikasi secara resmi pada pertengahan 2025. Data surveilans genom internasional menunjukkan, sekuens genetik subclade K pertama kali tercatat di Amerika Serikat, tepatnya di wilayah New York pada Juni 2025.
Temuan ini kemudian diumumkan secara luas oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025, setelah virus tersebut terdeteksi konsisten dalam pemantauan influenza musiman. Dalam waktu singkat, subclade K menyebar ke berbagai negara, termasuk Australia, Selandia Baru, Eropa, dan Asia, seiring mobilitas global dan musim flu 2025–2026.
Masuk dan Terdeteksi di Indonesia
Indonesia mulai mendeteksi keberadaan influenza A (H3N2) subclade K pada paruh kedua 2025 melalui sistem surveilans nasional. Pemeriksaan WGS memastikan bahwa sebagian kasus flu yang beredar merupakan subclade K, meski secara klinis gejalanya masih menyerupai influenza musiman.
Kemenkes menegaskan bahwa hingga saat ini situasi nasional masih terkendali dan tidak menunjukkan lonjakan kasus berat atau peningkatan angka kematian. Otoritas kesehatan juga memastikan bahwa kemunculan subclade K bukan tanda munculnya pandemi baru seperti COVID-19.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Secara umum, gejala superflu subclade K mirip dengan flu biasa, namun pada sebagian kasus dapat terasa lebih berat, terutama pada kelompok rentan. Gejala yang umum dilaporkan antara lain:
- Demam tinggi dan menggigil
- Batuk dan pilek
- Sakit tenggorokan
- Sakit kepala
- Nyeri otot dan sendi
- Kelelahan ekstrem
- Pada anak-anak: mual, muntah, dan diare
Kelompok yang berisiko mengalami komplikasi meliputi anak kecil, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan.
Penularan Cepat, Tapi Tidak Lebih Mematikan
Salah satu karakteristik yang menjadi perhatian adalah kecepatan penularan subclade K, terutama melalui droplet saat batuk, bersin, atau kontak dekat di ruang tertutup. Namun, hingga kini otoritas kesehatan nasional dan internasional menyatakan tidak ada bukti ilmiah bahwa subclade K lebih mematikan dibandingkan influenza musiman lainnya.
Imbauan Pemerintah
Pemerintah mengimbau masyarakat tetap tenang namun waspada dengan menerapkan langkah pencegahan, seperti:
- Rutin mencuci tangan dengan sabun
- Menggunakan masker saat sakit atau berada di kerumunan
- Menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin
- Menghindari kontak dekat dengan orang bergejala flu
- Menjaga daya tahan tubuh dan istirahat cukup
- Mengikuti anjuran vaksin influenza tahunan, terutama bagi kelompok berisiko
Masyarakat yang mengalami gejala flu berat atau tidak kunjung membaik diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Dengan kewaspadaan bersama, penyebaran superflu subclade K diharapkan dapat ditekan dan tidak berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang lebih luas.


























