Cirebon — Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan produksi dan pasokan bawang merah nasional dalam kondisi aman untuk menghadapi Ramadan hingga Idulfitri 1447 Hijriah. Kepastian ini tercermin dari pelaksanaan panen raya bawang merah di Kabupaten Cirebon yang tetap berjalan optimal meski wilayah tersebut diguyur curah hujan tinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus menjaga keseimbangan antara produksi, distribusi, dan harga pangan strategis agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
“Proyeksi produksi pangan strategis nasional dilakukan untuk memastikan kecukupan pasokan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Ramadan dan Idulfitri, sekaligus menggambarkan kondisi harga komoditas pangan di tingkat produsen,” ujar Mentan Amran dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI, Selasa (3/2/2026).
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, Agung Sunusi, menyampaikan bahwa di tengah cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi, produktivitas bawang merah di Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, masih mencapai rata-rata 10 ton per hektare.
“Jika mengacu data BPS, rata-rata nasional berada di kisaran 11 hingga 12,5 ton per hektare. Dengan kondisi hujan hampir setiap hari, capaian Cirebon ini sudah di atas ekspektasi dan sangat luar biasa,” ujar Agung saat panen raya bawang merah di Desa Ender, Kecamatan Pangenan, Sabtu (31/1/2026).
Kondisi tersebut sejalan dengan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan (month-to-month) pada Januari 2026. Sejumlah komoditas hortikultura dan pangan strategis menjadi pendorong utama deflasi, termasuk bawang merah yang menyumbang andil deflasi sebesar 0,07 persen akibat panen raya.
Agung menambahkan, dari satu hamparan panen seluas 26 hektare di Desa Ender, potensi produksi bawang merah dapat mencapai 260 ton. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon dan Champion Bawang Merah setempat, masih terdapat sekitar 350 hektare lahan bawang merah yang siap panen hingga Lebaran. Dengan produktivitas rata-rata 10 ton per hektare, pasokan bawang merah dari Cirebon dinilai cukup untuk mengamankan kebutuhan selama Ramadan hingga Idulfitri.
“Artinya, Kabupaten Cirebon siap mengamankan pasokan bawang merah untuk puasa dan Lebaran,” tegasnya.
Selain itu, Cirebon juga menerapkan pola tanam berkelanjutan. Setelah panen, petani langsung mengolah lahan dan kembali menanam tanpa jeda panjang. Saat ini, sekitar 500 hektare lahan telah kembali ditanami.
“Tidak ada istilah lahan tidur. Panen ada, tanam juga ada. Ini sejalan dengan arahan Bapak Menteri Pertanian agar produksi dan harga bawang merah tetap aman dan stabil,” jelas Agung.
Dari sisi distribusi, bawang merah hasil panen Cirebon hanya memerlukan waktu pengeringan sekitar dua hingga tiga hari sebelum dipasarkan, termasuk ke wilayah Jabodetabek. Harga bawang merah di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp25.000 per kilogram, sehingga harga di tingkat konsumen diharapkan berada di kisaran Rp35.000 per kilogram sesuai harga acuan pemerintah.
“Harga berada di rel yang tepat. Petaninya tersenyum, konsumennya juga tenang dan bisa fokus beribadah menyambut Ramadan,” katanya.
Ketua Champion Bawang Merah Kabupaten Cirebon, Syaiful, menyampaikan bahwa dalam kondisi normal produktivitas bawang merah bisa mencapai 12–14 ton per hektare. Namun akibat cuaca ekstrem, produksi rata-rata turun menjadi sekitar 10 ton per hektare.
“Meski turun, petani masih untung. Dengan luas panen sekitar 350 hektare, pasokan bawang merah Cirebon aman hingga pasca-Lebaran,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Makam Wada, Nashori, menilai harga bawang merah di kisaran Rp20.000–Rp25.000 per kilogram sudah menguntungkan petani. Namun ia menyoroti masih kuatnya peran tengkulak dalam rantai perdagangan.
“Sebagian besar bawang merah dibeli tengkulak sejak usia tanaman 45 hari dan langsung di lahan. Ke depan, kami berharap Cirebon difasilitasi menjadi sentra bawang merah seperti Brebes, agar nilai tambahnya tetap di daerah,” ungkapnya.
Senada, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Deni, menyatakan penurunan produktivitas akibat cuaca ekstrem masih dalam batas aman dan tetap menguntungkan petani. Ia menegaskan pasokan bawang merah Cirebon tetap terjaga menjelang Ramadan hingga pasca-Lebaran.
“Ke depan kami akan mendorong penguatan permodalan dan fasilitas pascapanen agar bawang merah Cirebon memiliki identitas sendiri dan mampu bersaing sebagai kawasan sentra,” pungkasnya.


























