BAKN DPR Soroti Tata Kelola PLN dan Subsidi Energi Rp525 Triliun, Amin: Laba Riil Diduga Hanya Rp1 Triliun

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 13 Februari 2026 - 20:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara DPR RI, Amin Ak saat kunjungan kerja ke PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Semarang, Jawa Tengah, Kamis (12/2/2026). Foto : Foto : Mro/Andri

Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara DPR RI, Amin Ak saat kunjungan kerja ke PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Semarang, Jawa Tengah, Kamis (12/2/2026). Foto : Foto : Mro/Andri

Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Amin, menyatakan bahwa kunjungan kerja ke PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Semarang, Jawa Tengah, Kamis (12/2/2026), dilakukan untuk mendalami langsung persoalan tata kelola perusahaan serta besarnya beban subsidi energi yang semakin membebani keuangan negara.

Menurut Amin, isu subsidi energi bukan semata persoalan teknis korporasi, melainkan menyangkut kepentingan seluruh warga negara karena berdampak langsung terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia mengungkapkan bahwa pada 2025 total beban APBN mencapai sekitar Rp525 triliun, dengan porsi terbesar dialokasikan untuk sektor energi.

“Ini menjadi perhatian utama kami di BAKN DPR RI. Beban APBN semakin berat, dan subsidi energi menjadi salah satu faktor dominan. Karena itu, setelah sebelumnya fokus pada sektor lain, kami kini mendalami subsidi energi dan memulainya dari PLN,” ujar Amin.

Politisi Fraksi PKS ini menegaskan bahwa PT PLN (Persero) merupakan BUMN terbesar di Indonesia, dengan aset mencapai sekitar Rp1.700 triliun dan ekuitas mendekati Rp1.000 triliun. Dengan skala dan peran strategis sebesar itu, ia menilai PLN seharusnya dikelola dengan standar profesionalisme dan efisiensi yang jauh lebih tinggi.

“Namun faktanya, dari hasil pengawasan sementara kami, tata kelola PLN masih jauh dari harapan. Masih terdapat banyak ruang perbaikan, terutama dalam aspek efisiensi dan profesionalisme pengelolaan,” tegasnya.

Baca Juga :  Optimalkan Tumbuh Kembang Anak Di Kelas Pengasuhan Di Satyagatra Sauyunan

Amin menjelaskan bahwa kunjungan lapangan tersebut merupakan tindak lanjut dari Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara BAKN DPR RI dan Direksi PLN yang telah dilakukan sebelumnya. Peninjauan langsung ke unit pembangkitan dinilai penting untuk mencocokkan laporan manajemen dengan kondisi riil di lapangan.

“Kami ingin melihat secara langsung kesesuaian antara apa yang dilaporkan kepada DPR dengan fakta yang ada di lapangan. Karena itu, kami datang ke Indonesia Power di Semarang untuk mendalami detail pengelolaan pembangkit,” jelasnya.

Dari hasil peninjauan awal, Amin menilai tata kelola PLN masih belum berjalan efisien, meskipun pemerintah telah memberikan dukungan subsidi yang sangat besar, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Ia mencontohkan subsidi bahan baku batubara yang ditetapkan sebesar 70 dolar AS per ton, jauh di bawah harga pasar internasional yang berada di atas 100 dolar AS per ton. Selain itu, pemerintah juga menyalurkan subsidi dan kompensasi tarif listrik dalam jumlah signifikan.

“Dari sisi bahan baku saja, pemerintah sudah memberikan subsidi yang luar biasa besar. Ditambah lagi subsidi dan kompensasi tarif listrik. Ini menunjukkan bahwa negara sudah hadir sangat kuat untuk menopang PLN,” ujarnya.

Namun demikian, Amin mengungkapkan bahwa meskipun PLN melaporkan laba sebesar Rp17,1 triliun pada 2025, hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan menunjukkan adanya sejumlah temuan penting. Berdasarkan kajian tersebut, jika tata kelola dilakukan secara benar, transparan, dan efisien, keuntungan riil PLN diperkirakan hanya sekitar Rp1 triliun.

Baca Juga :  Mentan Amran Bongkar 3 Dugaan Kasus Korupsi dan Mafia Pertanian, Kerugian Capai Miliaran Rupiah

“Ini tentu menjadi perhatian serius kami. Artinya, ada persoalan mendasar dalam tata kelola yang harus segera dibenahi. Di mana letak masalah utamanya, itulah yang akan kami dalami lebih lanjut,” tegas Amin.

Ia menambahkan bahwa BAKN DPR RI akan melakukan kajian menyeluruh terhadap akar persoalan tata kelola tersebut dengan melibatkan jajaran direksi dan manajemen, baik di tingkat holding maupun subholding. Diperlukan forum bersama yang konstruktif untuk merumuskan arah perbaikan yang konkret, terukur, dan berkelanjutan.

“Intinya adalah bagaimana BUMN terbesar ini dapat dikelola secara efisien, transparan, dan akuntabel, sehingga benar-benar memberikan kemaslahatan yang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Legislator Daerah Pemilihan Jawa Timur IV itu.

Amin menegaskan bahwa tujuan akhir fungsi pengawasan BAKN DPR RI bukan untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan masyarakat memperoleh energi, khususnya listrik, dengan harga yang terjangkau dan berkeadilan. Selain itu, pihak-pihak yang selama ini menikmati kompensasi yang tidak tepat sasaran dan justru membebani APBN harus dievaluasi dan dihentikan.

“Dengan demikian, beban subsidi yang sangat besar itu dapat dialihkan untuk program-program yang jauh lebih produktif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Pada akhirnya, ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sebagaimana dicanangkan Presiden,” pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel klopakindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Resmi! Harga Dexlite dan Pertamina Dex Turun Mulai 1 Juni 2026, Pertamax Turbo Naik
Viral BRIN, Setwapres dan Polri Salah Posting Garuda Pancasila, Jumlah Bulu Jadi Sorotan
Angklung, Warisan Musik Bambu Indonesia yang Mendunia
Wamendikdasmen Fajar Riza: Sekolah Rakyat Perkuat Akses Pendidikan dan Putus Rantai Kemiskinan
SIM Digital Setara dengan SIM Fisik, Begini Cara Membuat dan Mengaktifkannya
Polisi Ungkap Modus WO Marwah Tipu 58 Calon Pengantin, Kerugian Tembus Rp2,6 Miliar
Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Hari Raya Waisak 2570 BE, Ajak Perkuat Persaudaraan dan Kerukunan
BGN Ungkap 8.182 SPPG Pernah Disuspend, Ribuan Dapur MBG Terkendala Infrastruktur dan Tata Kelola

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 17:40 WIB

Resmi! Harga Dexlite dan Pertamina Dex Turun Mulai 1 Juni 2026, Pertamax Turbo Naik

Selasa, 2 Juni 2026 - 06:35 WIB

Viral BRIN, Setwapres dan Polri Salah Posting Garuda Pancasila, Jumlah Bulu Jadi Sorotan

Senin, 1 Juni 2026 - 19:41 WIB

Angklung, Warisan Musik Bambu Indonesia yang Mendunia

Senin, 1 Juni 2026 - 19:27 WIB

Wamendikdasmen Fajar Riza: Sekolah Rakyat Perkuat Akses Pendidikan dan Putus Rantai Kemiskinan

Senin, 1 Juni 2026 - 11:07 WIB

Polisi Ungkap Modus WO Marwah Tipu 58 Calon Pengantin, Kerugian Tembus Rp2,6 Miliar

Berita Terbaru

NEWS

Angklung, Warisan Musik Bambu Indonesia yang Mendunia

Senin, 1 Jun 2026 - 19:41 WIB