INDRAMAYU, KLOPAKINDONESIA.COM – Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) menyasar keluarga berisiko stunting di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Program ini memberikan dukungan kepada keluarga yang memiliki anak bawah dua tahun (baduta), ibu hamil, serta keluarga dengan kondisi tempat tinggal dan sanitasi yang kurang layak.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., bersama jajaran dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, mengunjungi sejumlah keluarga sasaran GENTING di Indramayu, Kamis sore (17/9/2026).
Salah satu keluarga yang dikunjungi adalah Muhammad Nabil dan istrinya, Rismawati, yang tinggal di Desa Karangampel, Kabupaten Indramayu. Nabil sehari-hari bekerja sebagai pengamen dan pedagang.
Keluarga tersebut tinggal bersama ibu dan anggota keluarga lainnya dalam satu rumah. Mereka memiliki anak yang masih berusia di bawah dua tahun. Kondisi rumah yang ditempati terbuat dari triplek dengan atap asbes.
Keluarga Nabil termasuk dalam kategori Keluarga Berisiko Stunting (KRS) karena memiliki baduta dan kondisi jamban yang tidak layak.
Kondisi Rumah dan Sanitasi Jadi Perhatian
Saat mengunjungi kediaman Nabil, Menteri Wihaji melihat langsung kondisi tempat tinggal dan fasilitas sanitasi keluarga tersebut.
“Keluarga Berisiko Stunting (KRS), yang kebetulan punya anak 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) atau baduta. Tadi punya anak baduta, ini juga punya anak baduta. Ternyata rumahnya termasuk kategori KRS, Keluarga Berisiko Stunting. Saya sudah lihat sampai ke dalam, tadi saya sholat di sana. Antara kebutuhan air, antara MCK, kemudian dapur, itu menyatu,” ungkap Wihaji.
Kondisi sanitasi yang tidak layak menjadi salah satu faktor risiko gangguan kesehatan dan stunting pada anak. Sanitasi buruk dapat meningkatkan risiko pencemaran lingkungan dan penyakit infeksi, termasuk diare berulang, yang berpotensi mengganggu penyerapan nutrisi serta pertumbuhan anak.
Karena itu, dukungan GENTING tidak hanya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi, tetapi juga perbaikan sanitasi, akses air bersih, dan kondisi tempat tinggal keluarga sasaran.
Keluarga Ibu Hamil Juga Mendapat Perhatian
Selain mengunjungi keluarga Nabil, Menteri Wihaji juga mendatangi kediaman Nur Alfi, seorang ibu hamil yang tinggal bersama suaminya, Agys Hermawan.
Agys sehari-hari bekerja sebagai buruh harian lepas. Keluarga tersebut tinggal bersama kedua orang tua mereka dalam kondisi rumah yang memprihatinkan.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung kondisi keluarga yang masuk dalam kategori berisiko stunting serta kebutuhan dukungan yang diperlukan.
Bantuan GENTING Bukan Berupa Uang Tunai
Menteri Wihaji menjelaskan bahwa bantuan GENTING yang diberikan kepada keluarga sasaran bukan dalam bentuk uang tunai, melainkan bantuan langsung yang disesuaikan dengan kebutuhan keluarga.
“Bukan uang, tapi nanti langsung jadi rumah. Ada timnya yang dari kita bersama BRI. Itu yang pertama. Yang kedua, tentu yang begini-begini masih banyak. Yang penting yang bisa kita bantu dari Kementerian, namanya GENTING, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting, pentahelix kerja sama dengan berbagai stakeholders,” ujar Wihaji.
Ia menyebutkan sejumlah mitra yang terlibat dalam gerakan tersebut, antara lain BRI, Bank Mandiri, BSI, BAZNAS, Rumah Zakat, dan Yayasan Kita Bisa.
Wihaji juga menyampaikan apresiasi kepada BRI yang turut mendampingi pelaksanaan program GENTING di Kabupaten Indramayu.
Dalam pelaksanaannya, Kemendukbangga/BKKBN tidak menerima atau mengelola uang tunai dari donatur. Mitra atau Orang Tua Asuh (OTA) yang telah memiliki rekanan atau menunjuk pihak ketiga dapat mengelola dan menyalurkan bantuan secara langsung kepada keluarga sasaran.
Bantuan tersebut diprioritaskan dalam bentuk paket nutrisi fisik maupun bantuan non-nutrisi, seperti penyediaan sanitasi, air bersih, dan jamban sehat.
Indramayu Catat 27.051 Keluarga Berisiko Stunting
Berdasarkan data Sistem Informasi Keluarga (SIGA), jumlah Keluarga Berisiko Stunting (KRS) di Kabupaten Indramayu tercatat sebanyak 27.051 keluarga, berdasarkan hasil verifikasi dan validasi KRS tahun 2025.
Dalam kunjungannya, Menteri Wihaji juga mengapresiasi capaian Kabupaten Indramayu dalam penurunan prevalensi stunting.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 yang disampaikan dalam keterangan tersebut, prevalensi stunting di Kabupaten Indramayu tercatat sebesar 9,8 persen, lebih rendah dibandingkan angka prevalensi stunting nasional sebesar 19,8 persen.
Melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting, Kemendukbangga/BKKBN bersama mitra berupaya memperkuat dukungan bagi keluarga berisiko stunting, khususnya melalui pemenuhan kebutuhan gizi, sanitasi, air bersih, dan perbaikan kondisi tempat tinggal.

























