Kabupaten Tangerang, 25 April 2026 — Peluncuran program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) jenjang pendidikan menengah membawa harapan baru dalam menekan angka anak tidak sekolah (ATS) di Indonesia. Program ini dinilai mampu memperluas akses pendidikan, khususnya bagi anak-anak yang terkendala faktor geografis dan ekonomi.
Kepala Tata Usaha Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Sukma Sabdani, menyebutkan bahwa PJJ telah memberikan dampak signifikan bagi anak-anak Indonesia di Sabah, Malaysia.
“Dari sekitar 1.700 lulusan SMP setiap tahun, PJJ mampu menampung lebih dari separuh murid yang sebelumnya tidak terakomodasi dalam pendidikan formal. Ini menjadi solusi efektif, terutama bagi anak-anak di wilayah terpencil,” ujarnya.
Menurutnya, fleksibilitas PJJ memungkinkan murid tetap belajar sambil membantu orang tua, termasuk di kawasan perkebunan yang jauh dari pusat pendidikan.
Hal senada disampaikan Kepala SMAN 1 Ternate, Sabaria Umahuk. Ia menegaskan kesiapan sekolahnya sebagai sekolah induk dalam pelaksanaan PJJ yang akan berkolaborasi dengan sejumlah sekolah mitra di Maluku Utara.
“Program ini menjadi peluang besar untuk menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan akses pendidikan. Dengan dukungan pemerintah daerah, kami optimistis layanan pendidikan dapat lebih merata,” katanya.
Sementara itu, Kepala SMAN 2 Padalarang, Kicky Eceu Wardani, menyatakan bahwa pihaknya siap mendukung implementasi PJJ. Pengalaman menyelenggarakan SMA Terbuka menjadi modal penting dalam menjalankan program tersebut.
“PJJ sangat membantu murid yang tidak bisa mengikuti pembelajaran tatap muka. Fokusnya juga pada anak-anak yang sempat putus sekolah agar bisa kembali melanjutkan pendidikan,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya integrasi PJJ dengan konsep pembelajaran mendalam.
“Peran sekolah induk dan mitra tidak hanya menekan angka ATS, tetapi juga membentuk karakter serta mengembangkan kompetensi murid secara utuh,” ungkapnya.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mendorong perluasan akses pendidikan melalui PJJ. Program ini ditujukan bagi anak usia 16–18 tahun yang putus sekolah agar tetap mendapatkan layanan pendidikan formal yang berkualitas, inklusif, dan berkeadilan.
Dalam implementasinya, pembelajaran PJJ didukung oleh platform digital Rumah Pendidikan yang memungkinkan guru dan murid mengakses materi secara fleksibel kapan saja dan di mana saja.
Program ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua serta menekan angka anak tidak sekolah di berbagai daerah.


























