Tangerang – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa kompetensi dan mentalitas unggul menjadi kunci utama bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk mampu bersaing di kancah internasional.
Hal tersebut disampaikan Fajar saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Bantuan Pemerintah Program Sertifikasi Kompetensi dan Sertifikasi Bahasa Asing Murid SMK Tahun 2026 di Kota Tangerang, Banten.
Menurutnya, pemerintah terus memperkuat pendidikan vokasi sebagai langkah strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang siap kerja dan adaptif terhadap dinamika global.
“Tahun ini, Kemendikdasmen mengalokasikan lebih dari Rp112,5 miliar untuk sertifikasi kompetensi dan Rp75 miliar untuk sertifikasi bahasa asing bagi siswa SMK. Ini bentuk nyata keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan vokasi di tengah tantangan global,” ujar Fajar.
Ia menekankan pentingnya perubahan paradigma bagi siswa SMK agar tidak hanya siap bekerja di dalam negeri, tetapi juga mampu menembus pasar kerja internasional.
“Kita boleh bekerja di mana saja, termasuk di daerah sendiri, tetapi cara pandangnya harus global. Siswa SMK harus punya hard skill, soft skill, mental kompetitif, serta kemampuan adaptasi yang cepat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Fajar menyebut program sertifikasi ini menjadi upaya konkret untuk memperkuat posisi lulusan SMK dalam rantai pasok talenta global. Selain itu, lulusan SMK juga didorong untuk tidak hanya menjadi pekerja, tetapi mampu berwirausaha dan memperkuat kelas menengah Indonesia.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menilai bahwa optimalisasi potensi lulusan SMK menjadi keharusan di tengah dinamika geopolitik dan ketimpangan tenaga kerja global.
Ia menegaskan bahwa penguasaan bahasa asing menjadi salah satu kunci penting agar lulusan SMK dapat bersaing di pasar internasional.
“Tahun ini, bantuan sertifikasi bahasa asing mencakup bahasa Inggris serta bahasa lainnya seperti Jepang, Prancis, Mandarin, dan Jerman,” jelas Tatang.
Ia menambahkan, jumlah penerima manfaat program ini juga meningkat signifikan. Jika pada tahun sebelumnya menjangkau sekitar 100 ribu peserta, pada 2026 ditargetkan mencapai 250 ribu siswa di seluruh Indonesia.
“Kami ingin pemerataan lulusan SMK yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kemampuan bahasa asing yang memadai,” tambahnya.
Kegiatan bimtek ini juga menjadi forum strategis bagi para kepala sekolah untuk menyelaraskan pelaksanaan program serta berbagi praktik baik dalam penguatan pendidikan vokasi.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap lulusan SMK mampu mengisi posisi strategis di sektor industri global sekaligus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.


























