Lebaran 2026 Berpotensi Beda, Muhammadiyah Tetapkan 20 Maret, Pemerintah Tunggu Sidang Isbat

- Jurnalis

Senin, 16 Maret 2026 - 16:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perayaan Lebaran 2026 atau Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah diprediksi berpotensi berbeda antara Muhammadiyah dan pemerintah. Perbedaan tersebut kembali memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai penetapan hari raya secara nasional.

Dilansir dari laman resmi Nahdlatul Ulama, Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) merilis data posisi hilal sebagai dasar penentuan 1 Syawal 1447 H. Berdasarkan perhitungan tersebut, ijtimak atau konjungsi menjelang Syawal terjadi pada Kamis (19/3/2026).

Meski hilal diperkirakan sudah berada di atas ufuk, namun belum memenuhi kriteria imkanur rukyat. Secara data, tinggi hilal terbesar tercatat di Kota Sabang, Provinsi Aceh dengan tinggi hilal mar’i 2 derajat 53 menit dan elongasi hilal haqiqi 6 derajat 09 menit, serta lama hilal sekitar 14 menit 44 detik.

Sementara itu, ketinggian hilal terkecil diperkirakan terjadi di wilayah Merauke, Provinsi Papua Selatan dengan tinggi hilal mar’i 0 derajat 49 menit, elongasi hilal haqiqi 4 derajat 36 menit, dan lama hilal sekitar 6 menit 36 detik. Perhitungan tersebut dilakukan menggunakan metode tahqiqi tadqiki ashri kontemporer.

Baca Juga :  Sukses Lepas Rindu Sheilagank di Samarinda, 4 Kota Lainnya Menanti Konser Sheila On 7"Tunggu Aku di Special Tour 2024"

Data serupa juga disampaikan oleh BMKG yang mencatat lama hilal di atas ufuk saat matahari terbenam pada 19 Maret 2026 berkisar antara 5,6 menit di Merauke hingga 15,66 menit di Sabang.

Berdasarkan perhitungan tersebut, terdapat potensi besar bulan Ramadan 1447 H digenapkan menjadi 30 hari karena posisi hilal dinilai belum memenuhi kriteria pada 29 Ramadan. “Karenanya, besar kemungkinan Idulfitri 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026,” tulis NU dalam keterangannya yang dikutip Senin (16/3/2026).

Meski demikian, NU mengimbau masyarakat untuk tetap menunggu kepastian awal Syawal melalui hasil rukyat yang akan diumumkan LF PBNU serta keputusan sidang isbat pemerintah yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (19/3/2026).

Di sisi lain, Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid telah lebih dahulu menetapkan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan tersebut didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal, yakni sistem perhitungan astronomi yang menentukan awal bulan hijriah berdasarkan posisi bulan setelah terjadi ijtimak.

Baca Juga : 

Penetapan tersebut tertuang dalam Maklumat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah. Dalam maklumat tersebut dijelaskan bahwa ijtimak menjelang Syawal terjadi pada 19 Maret 2026 pukul 01.23 UTC, dan setelah peristiwa itu terdapat wilayah di bumi yang memenuhi parameter kalender hijriah global dengan ketinggian bulan lebih dari 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat.

Pemerintah melalui Kementerian Agama menegaskan akan tetap menggunakan mekanisme sidang isbat sebagai dasar penetapan awal Syawal secara nasional. Keputusan pemerintah akan mempertimbangkan hasil pemantauan hilal di berbagai titik di Indonesia serta masukan dari para ahli dan perwakilan organisasi keagamaan.

Perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri di Indonesia bukan hal baru dan telah beberapa kali terjadi. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menyikapi potensi perbedaan dengan sikap saling menghormati serta menjaga persatuan dan ketertiban selama momentum Lebaran.

Follow WhatsApp Channel klopakindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DPRD Jawa Barat Sahkan Perda Pertanggungjawaban APBD 2025, Dedi Mulyadi Tekankan APBD untuk Kesejahteraan Rakyat
Bio Farma Resmikan Fasilitas CNG, Emisi Karbon Turun 24 Persen dan Biaya Energi Hemat 37 Persen
Tahun Ajaran Baru Dimulai, Mendikdasmen Tegaskan MPLS 2026 Wajib Bebas Perpeloncoan dan Senioritas
FLHBN Tanam 10.000 Bibit Mangrove di Cirebon, Perkuat Pesisir dari Ancaman Abrasi
Puncak HLUN 2026, 3.000 Lansia Bekasi Meriahkan Kriyaan Lansia dan Dukung Program SIDAYA
Hari Pustakawan Indonesia, Kemendikdasmen Ubah Perpustakaan Jadi Rumah Pendidikan
Kemendikdasmen Cetak Influencer Positif Lewat Bintang Sobat SMP 2026
Kemendikdasmen Perkuat LKP, Lulusan Disiapkan Tembus Dunia Kerja Internasional

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 20:31 WIB

DPRD Jawa Barat Sahkan Perda Pertanggungjawaban APBD 2025, Dedi Mulyadi Tekankan APBD untuk Kesejahteraan Rakyat

Rabu, 15 Juli 2026 - 19:24 WIB

Bio Farma Resmikan Fasilitas CNG, Emisi Karbon Turun 24 Persen dan Biaya Energi Hemat 37 Persen

Senin, 13 Juli 2026 - 16:02 WIB

Tahun Ajaran Baru Dimulai, Mendikdasmen Tegaskan MPLS 2026 Wajib Bebas Perpeloncoan dan Senioritas

Sabtu, 11 Juli 2026 - 14:40 WIB

FLHBN Tanam 10.000 Bibit Mangrove di Cirebon, Perkuat Pesisir dari Ancaman Abrasi

Kamis, 9 Juli 2026 - 10:39 WIB

Puncak HLUN 2026, 3.000 Lansia Bekasi Meriahkan Kriyaan Lansia dan Dukung Program SIDAYA

Berita Terbaru