KlopakIndonesia – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan yang diklaim dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengirimkan peringatan langsung kepada kapal-kapal yang berada di kawasan tersebut bahwa tidak ada aktivitas pelayaran yang diizinkan melintasi selat strategis itu hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Langkah ini diambil bersamaan dengan operasi balasan militer Iran yang menargetkan sejumlah fasilitas yang disebut terkait dengan kepentingan AS di kawasan. Kantor berita Tasnim melaporkan, berdasarkan sumber yang mengetahui operasi tersebut, sedikitnya 14 pangkalan militer Amerika menjadi sasaran serangan.
IRGC juga mengklaim telah menghantam kapal perang pendukung tempur milik Angkatan Laut Amerika Serikat menggunakan rudal yang diluncurkan oleh unit Angkatan Laut mereka.
Sementara itu, laporan media internasional menyebutkan bahwa dampak penutupan Selat Hormuz langsung terasa pada sektor energi global. Sejumlah perusahaan minyak dan lembaga perdagangan menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, serta gas alam cair (LNG).
Citra satelit menunjukkan antrean kapal tanker yang tertahan di sekitar pelabuhan dan perairan terdekat sambil menunggu kepastian keamanan jalur pelayaran.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati perairan ini setiap hari, termasuk ekspor gas alam cair dari Qatar yang sangat bergantung pada stabilitas jalur tersebut.
Gangguan di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia serta memperbesar risiko krisis pasokan energi global.


























