Kasus Jambi “Potret Kelam Pendidikan Bangsa Ini”

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 16 Januari 2026 - 17:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kejadian miris di dunia pendidikan kembali terulang dan kali ini cukup mengagetkan banyak masyarakat yang selama ini punya harapan tinggi atas keberhasilan dunia pendidikan melahirkan generasi yang memiliki karakter mulia.

Penggalan video dalam durasi beberapa menit, yang memperlihatkan Bagaimana ke brutalan peserta didik sebuah sekolah di Jambi yang mengeroyok gurunya tanpa ada rasa beradab dan mengasihi, sebagaimana layaknya peserta didik menghargai orang tuanya.

*Menguatkan peran Satuan Pendidikan*
Apapun alasannya yang melatarbelakangi terjadinya pengeroyokan peserta didik terhadap guru saya rasa tidak terlalu penting walaupun saya tidak menganggap hal itu tidak penting karena ruang-ruang pendidikan selama ini cukup direpotkan dengan hadirnya berbagai macam ketimpangan perilaku peserta didik dimulai dari hadirnya mentalitas yang temperamental sampai bentuk-bentuk penyimpangan perilaku yang bermuara pada tindakan kejahatan.
Ruang pendidikan yang sejatinya memiliki peran strategis dalam melahirkan generasi yang tidak hanya cakap secara intelektual tapi memiliki potensi kebaikan secara spiritual dan emosional dengan dihadirkannya berbagai macam layanan pendidikan yang tentunya disesuaikan dengan muatan kurikulum yang secara utuh dan semuanya itu bermuara terhadap proses melahirkan peserta didik yang betul-betul punya tanggung jawab terbaik bagi dirinya termasuk bagi lingkungan di sekitarnya.

Ada banyak faktor yang membuat jalan dari proses melahirkan peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan tidak begitu mudah dan menghadapi jalan cukup terjal diantaranya karena berbagai macam tantangan hadir di era kekinian.
Salah satunya anak semakin jauh dari pola asuh orang tuanya yang dikarenakan orang tua memiliki kesibukan lain dalam rangka memberikan hak-hak anak sesuai dengan kewajiban orang tuanya.
Tidak sedikit orang tua berjibaku sebanyak-banyaknya waktu dalam rangka mencari nilai-nilai ekonomi untuk menghidupi keluarga walaupun pada gilirannya kegiatan itu harus dapat mengorbankan hadirnya hubungan emosional yang baik antara keluarga tersebut baik antara suami dan istri termasuk suami istri dan anak.

*Sesaknya Informasi yang mendistorsi*

Banyaknya informasi yang menjejali otak peserta didik dari media sosial turut menjadi faktor yang membersamai mereka selama mereka tidak bersama dengan orang tuanya, selain itu proses tersebut menjadi katalisator pembentukan pencarian identitas diri peserta didik bahkan terkadang tindakan itu masuk ke ranah-ranah yang tidak mendukung proses terjadinya pendidikan akhlak mulia.
Berbagai macam modus operandi kejahatan dan sikap-sikap intoleransi terhadap siapapun menjadi suguhan yang dapat dinikmati oleh peserta didik kapanpun juga oleh karena itu informasi yang tidak akurat bahkan cenderung distorsi secara tidak langsung mendidik anak yang secara fundamental telah hadir tanpa pola asuh orang tua.
Hal ini menjadi faktor yang harus diperhatikan oleh siapapun yang selama ini punya motivasi untuk melahirkan generasi yang benar-benar punya mentalitas yang baik bagi kehidupan masa depannya.

Baca Juga :  Zulfikar Arse Sadikin: Rakyat Jadi Subjek Jika Pilkada Diselenggarakan Secara Langsung

*Sekolah sebagai rumah kedua yang membahagiakan*
Selain kesibukan orang tua yang menimbulkan akses jauhnya pola asuh terhadap peserta didik dan tuntutan pribadi peserta didik yang berupaya menghadirkan eksistensi dirinya terkadang lebih tinggi dari ekspektasi, ada faktor lain yang harus menjadi perhatian para civitas akademika diantaranya sebuah keharusan ruang pendidikan untuk menjadikan dirinya sebagai rumah kedua yang nyaman yang aman dan memberikan rasa bahagia bagi para peserta didik.

*Peran strategis guru BK*
Hal ini bisa diciptakan untuk meminimalisir riak gejolak psikologis yang dialami kejiwaan peserta didik adalah dengan terus membangun komunikasi keterbukaan serta mengeksplorasi berbagai macam permasalahan peserta didik melalui kanal-kanal pelayanan yang ada di satuan pendidikan tersebut.
Guru BK memiliki peranan yang strategis dalam rangka menginventarisir permasalahan yang selama ini dapat menjadi stimulus hadirnya gejolak psikologis emosional para peserta didik.

Dari data yang diperoleh melalui kegiatan penjaringan kasus per kasus yang dimiliki oleh peserta didik maka guru BK bisa menyampaikan informasi itu melalui wali kelas atau guru wali secara terperinci apabila diperlukan maka berbagai solusi pun harus disampaikan sebagaimana pelayanan yang semestinya diterima oleh para peserta didik sesuai dengan masalah psikologis yang dihadapinya.
Selain itu setiap informasi yang didapatkan dan menjadi database yang akurat dapat menjadi informasi penting bagi orang tua siswa untuk bersama-sama memberikan pelayanan sesuai dengan kadar dari masalah yang dihadapi oleh para peserta didik itu.

Baca Juga :  Minyak Kita atau Minyak Kamu?

Jalinan komunikasi yang baik dan positif melalui kanal-kanal media digital akan sesegera mungkin menjadi solusi atas masalah yang kemungkinan akan membesar manakala tidak menemui ruang-ruang yang berbasis atas penyelesaian masalah itu.
Dengan komunikasi yang terjalin baik maka orang tua dan satuan pendidikan dapat memetakan pelayanan yang terbaik seperti apa, tentunya disesuaikan dengan yang diharapkan oleh peserta didik.

Dari berbagai masalah yang hadir termasuk yang kita saksikan lewat media sosial sejatinya kita tidak harus terlalu masuk untuk sibuk menyalahkan siapa yang menjadi penyebab atas terjadinya masalah itu namun sebaiknya kita berusaha semaksimal mungkin sebagai orang-orang yang punya perhatian dalam rangka menghadirkan sosok generasi yang mumpuni dan memiliki kebaikan budi pekerti untuk terus berjibaku mencari solusi terbaik.

*Kolaborasi lintas sektor*
Kerjasama lintas sektor pun bisa dilakukan satuan pendidikan dengan menggandeng para pemuka agama yang ada di sekitar sekolah tersebut ataupun bisa bekerja sama dengan pihak kepolisian atau TNI apabila diperlukan untuk melakukan pembinaan mental peserta didik.
Sampai saat ini pun sepertinya banyak dinas yang bisa digaet untuk bersama-sama berkolaborasi dalam rangka Bagaimana peserta didik untuk memahami tentang posisi dirinya sebagai anak yang harus bertanggung jawab untuk masa depannya dan salah satunya memerlukan pelayanan dari satuan pendidikan sehingga manakala anak memiliki empati untuk memperhatikan nasib dirinya melalui pelayanan pendidikan dari satuan pendidikan maka mereka akan menjadi pribadi yang betul-betul punya rasa tanggung jawab untuk berterima kasih kepada siapapun.

Peserta didik pun diharapkan menjadi sosok pribadi yang tidak perlu memperbesar masalah tapi justru menjadi orang yang senantiasa punya toleransi bahwa setiap manusia dihadirkan di atas ketidaksempurnaan dan tentunya memiliki prilaku sabar dan pemaaf.

Kejadian di Jambi adalah sebuah potret dan bukti nyata tentang degradasi moral generasi Z dan ini menjadi krisis bagi lahirnya generasi emas 2045.
Kualitas pendidikan sepertinya Jauh Panggang dari Api.

 

Rahmat Suprihat, S.Pd – Aktivis Pendidikan, Guru SMPN 55 Kota Bandung

Follow WhatsApp Channel klopakindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perjuangan Kader KB Menembus Medan Berat Demi Gizi Anak Desa Ciguha
Jadwal Resmi TKA SD–SMP 2026: April, Bukan Syarat Kelulusan
Pegadaian Kanwil X Jawa Barat Dukung Tren Loud Budgeting, Generasi Muda Berani Berhemat demi Masa Depan
Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Pendidikan Bermutu Harus Libatkan Sekolah, Keluarga, Masyarakat, dan Media
Turunkan Stunting di Sukabumi, Kemendukbangga Lakukan Bedah Rumah dan Intervensi Gizi
Festival Tring! Pegadaian Cirebon Dorong Gaya Hidup Sehat dan Investasi Emas Digital
Ratusan Kader TPK Sukabumi Teguhkan Komitmen Dukung Program Makan Bergizi Gratis MBG 3B
Waspada Penipuan Mengatasnamakan Kemendikdasmen

Berita Terkait

Jumat, 16 Januari 2026 - 17:44 WIB

Kasus Jambi “Potret Kelam Pendidikan Bangsa Ini”

Jumat, 16 Januari 2026 - 13:33 WIB

Perjuangan Kader KB Menembus Medan Berat Demi Gizi Anak Desa Ciguha

Kamis, 15 Januari 2026 - 17:05 WIB

Jadwal Resmi TKA SD–SMP 2026: April, Bukan Syarat Kelulusan

Rabu, 14 Januari 2026 - 12:18 WIB

Pegadaian Kanwil X Jawa Barat Dukung Tren Loud Budgeting, Generasi Muda Berani Berhemat demi Masa Depan

Selasa, 13 Januari 2026 - 18:53 WIB

Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Pendidikan Bermutu Harus Libatkan Sekolah, Keluarga, Masyarakat, dan Media

Berita Terbaru

NEWS

Kasus Jambi “Potret Kelam Pendidikan Bangsa Ini”

Jumat, 16 Jan 2026 - 17:44 WIB