KLOPAKINDONESIA.COM – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat memicu reaksi kontras di dalam dan luar negeri. Di tengah kecaman pemerintah Venezuela dan sejumlah negara, sebagian warga Venezuela justru merayakan kabar tersebut dengan berpesta di jalanan, terutama di kalangan komunitas diaspora.
Penangkapan Maduro diumumkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui pernyataan resmi dan unggahan di media sosial pada Sabtu (3/1/2026). Trump menyebut operasi tersebut sebagai langkah tegas terhadap kepemimpinan Maduro yang selama ini dituding melakukan pelanggaran hak asasi manusia, korupsi, dan kejahatan lintas negara.
Menurut laporan sejumlah media internasional, Maduro dan istrinya Cilia Flores ditangkap dalam operasi gabungan pasukan khusus AS dan kemudian diterbangkan keluar dari wilayah Venezuela. Hingga kini, pemerintah AS menyatakan Maduro akan menghadapi proses hukum lebih lanjut di Amerika Serikat.
Perayaan di Kalangan Warga dan Diaspora
Tak lama setelah kabar penangkapan tersebar, sejumlah warga Venezuela di luar negeri terlihat merayakan peristiwa tersebut. Di beberapa kota di Amerika Serikat seperti Miami dan Los Angeles, komunitas diaspora Venezuela berkumpul sambil mengibarkan bendera nasional, bernyanyi, dan meneriakkan yel-yel kemenangan.
Bagi mereka, penangkapan Maduro dianggap sebagai simbol berakhirnya kekuasaan yang dinilai bertanggung jawab atas krisis ekonomi, hiperinflasi, kelangkaan pangan, serta eksodus jutaan warga Venezuela dalam satu dekade terakhir.
“Ini momen yang kami tunggu bertahun-tahun,” ujar salah satu warga diaspora Venezuela kepada media setempat, menggambarkan perasaan lega dan harapan akan perubahan politik di tanah air.
Reaksi Berlawanan di Dalam Negeri
Sementara itu, di Venezuela sendiri, situasi berlangsung lebih kompleks. Pendukung Maduro menggelar aksi di Caracas dan sejumlah kota lain, mengecam penangkapan tersebut sebagai tindakan agresi dan pelanggaran kedaulatan negara.
Pemerintah Venezuela menolak klaim AS dan menegaskan bahwa Nicolás Maduro masih merupakan presiden sah. Otoritas setempat juga menyebut operasi militer asing sebagai bentuk intervensi ilegal yang melanggar hukum internasional.
Respons Internasional Terbelah
Respons dunia internasional terhadap penangkapan Maduro pun terbelah. Sejumlah negara di Amerika Latin dan tokoh oposisi Venezuela menyambut langkah AS sebagai upaya mengakhiri rezim otoriter. Sebaliknya, negara-negara seperti Kuba dan sekutunya mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai preseden berbahaya dalam hubungan internasional.
Hingga kini, situasi politik Venezuela masih belum stabil. Perkembangan selanjutnya, termasuk status hukum Maduro dan dampaknya terhadap pemerintahan Venezuela, terus menjadi perhatian dunia.


























