Pilot Diduga Salah Matikan Mesin: Fakta Baru Kecelakaan Tragis Jeju Air Tewaskan 179 Orang

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 22 Juli 2025 - 18:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Otoritas Korea Selatan pada Minggu (29/12/2024) melaporkan bahwa 179 orang diduga tewas dalam kecelakaan pesawat di Bandara Internasional Muan, seperti diberitakan oleh media lokal. - ANTARA

Otoritas Korea Selatan pada Minggu (29/12/2024) melaporkan bahwa 179 orang diduga tewas dalam kecelakaan pesawat di Bandara Internasional Muan, seperti diberitakan oleh media lokal. - ANTARA

Klopakindonesia.com — Fakta mengejutkan terungkap dalam penyelidikan sementara atas kecelakaan tragis pesawat Jeju Air Penerbangan 2216 yang menewaskan 179 dari 181 orang di dalamnya pada Desember 2024 lalu. Laporan investigasi dari otoritas Korea Selatan menunjukkan bahwa pilot diduga mematikan mesin yang salah sesaat setelah pesawat mengalami serangan burung (bird strike).

Pesawat Jeju Air rute Bangkok–Muan mengalami serangan burung saat akan mendarat di Bandara Muan pada 29 Desember 2024. Akibat kejadian tersebut, pilot memutuskan melakukan go-around atau kembali terbang untuk mencoba pendaratan ulang.

Namun dalam kondisi darurat itu, pilot diduga mematikan mesin kiri, padahal yang lebih rusak akibat bird strike adalah mesin kanan. Akibatnya, pesawat kehilangan daya dorong dan sistem listrik vital, termasuk sistem roda pendaratan (landing gear), tidak berfungsi.

Baca Juga :  Kolaborasi Percepatan Penanganan Pandemi, Bio Farma Terima Kunjungan dari CEO CEPI

Pesawat kemudian melakukan pendaratan darurat dengan perut pesawat (belly landing) dan tergelincir keluar landasan hingga menabrak tanggul beton, menyebabkan ledakan hebat dan kebakaran.

Otoritas investigasi Korea Selatan (ARAIB) menyatakan bahwa temuan dari cockpit voice recorder, komputer mesin, serta posisi fisik sakelar mesin menunjukkan adanya kesalahan prosedur kritis dari kru penerbang. Mereka dengan tegas menyebut mesin yang salah telah dimatikan dalam situasi penuh tekanan tersebut.

“Data-data ini menunjukkan bukti yang tidak akan berubah,” ungkap seorang sumber dari tim investigasi sebagaimana dilansir Reuters.

Laporan sementara ini mendapat penolakan keras dari keluarga korban dan serikat pilot Jeju Air. Mereka menganggap penyelidikan terlalu cepat menyimpulkan kesalahan ada pada kru, tanpa mempertimbangkan faktor lain, seperti kerusakan indikator kokpit atau keberadaan tanggul beton yang memperparah dampak kecelakaan.

Baca Juga :  Harvard Tolak Tuntutan Donald Trump, Dana Hibah Sebesar 2,2 Milyar Dollar Dibekukan

Karena tekanan publik dan keluarga korban, otoritas Korea Selatan akhirnya menunda rilis resmi laporan sementara tersebut. Laporan akhir direncanakan terbit pada Juni 2026.

Dalam situasi bird strike dan kehilangan sistem informasi kokpit, pilot diduga mengalami disorientasi dan keliru dalam mengidentifikasi mesin yang rusak. Situasi darurat, alarm menyala, serta tekanan waktu bisa menjadi faktor yang menyebabkan pengambilan keputusan fatal tersebut.

Insiden ini menjadi pengingat penting bagi dunia penerbangan akan krusialnya sistem pelatihan pilot dalam menghadapi multiple failure sekaligus, serta pentingnya desain bandara yang aman dan responsif terhadap insiden darurat. Pertanyaan mengenai standar landasan, posisi tanggul beton, dan perlindungan terhadap bird strike kini menjadi perhatian dunia.

 

Follow WhatsApp Channel klopakindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Berbagi Reformasi Pendidikan ke Palestina, Perkuat Kerja Sama Global
Perdagangan 24 Satwa Dilindungi di Manado Terungkap, Tersangka Terancam 15 Tahun Penjara
Kemenhut Perkuat Pengamanan Perbatasan di Entikong Antisipasi Karhutla akibat El Nino
Prabowo Terbitkan 3 Regulasi Baru untuk Ketahanan Pangan Nasional, Ini Rinciannya
BMKG: Musim Kemarau 2026 di Jawa Barat Lebih Kering dan Panjang, 93 Persen Wilayah Alami Hujan di Bawah Normal
Pasanggiri Paduan Suara Puspa Swara Wanoja Sunda 2026 Resmi Dibuka di Bogor
Poltekkes Kemenkes Bandung dan Pelija Tanam Pohon, Dorong Kesadaran Lingkungan di Bandung Timur
Bio Farma Group Perkuat Diplomasi Kesehatan Global, Dorong Daya Saing Industri Farmasi Nasional

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 20:05 WIB

Indonesia Berbagi Reformasi Pendidikan ke Palestina, Perkuat Kerja Sama Global

Sabtu, 18 April 2026 - 07:35 WIB

Perdagangan 24 Satwa Dilindungi di Manado Terungkap, Tersangka Terancam 15 Tahun Penjara

Sabtu, 18 April 2026 - 07:31 WIB

Kemenhut Perkuat Pengamanan Perbatasan di Entikong Antisipasi Karhutla akibat El Nino

Sabtu, 18 April 2026 - 07:16 WIB

Prabowo Terbitkan 3 Regulasi Baru untuk Ketahanan Pangan Nasional, Ini Rinciannya

Kamis, 16 April 2026 - 19:03 WIB

BMKG: Musim Kemarau 2026 di Jawa Barat Lebih Kering dan Panjang, 93 Persen Wilayah Alami Hujan di Bawah Normal

Berita Terbaru