BMKG Tegaskan Informasi Andal Jadi Pilar Utama Pengelolaan Risiko Bencana Hidrometeorologi

- Jurnalis

Kamis, 18 Desember 2025 - 10:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BMKG Tegaskan Informasi Andal Jadi Pilar Utama Pengelolaan Risiko Bencana Hidrometeorologi (Foto : BMKG)

BMKG Tegaskan Informasi Andal Jadi Pilar Utama Pengelolaan Risiko Bencana Hidrometeorologi (Foto : BMKG)

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menegaskan bahwa pengelolaan informasi yang andal, terintegrasi, dan berkelanjutan dari hulu ke hilir merupakan pilar utama dalam manajemen risiko bencana hidrometeorologi. Informasi yang kuat menjadi fondasi penting dalam mendukung sistem peringatan dini, upaya mitigasi, hingga pengambilan keputusan kebencanaan yang efektif.

Penegasan tersebut disampaikan Faisal saat menjadi pembicara kunci dalam webinar bertajuk “Early Warning, Early Action: Kilas Balik Bencana Hidrometeorologi sebagai Basis Rekomendasi Aksi Mendatang” yang diselenggarakan secara hybrid oleh Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu (17/12/2025).

Dalam paparannya, Faisal mengungkapkan bahwa berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kejadian bencana di Indonesia masih didominasi oleh banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem yang hampir merata terjadi di seluruh wilayah. Dinamika atmosfer, termasuk pengaruh siklon tropis seperti Cempaka, Seroja, dan Senyar, turut memperparah intensitas hujan ekstrem yang memicu banjir dan longsor.

“Secara umum trennya terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga kewaspadaan dan kesiapsiagaan harus diperkuat secara berkelanjutan,” ungkap Faisal.

Menurutnya, tantangan tersebut harus dijawab melalui penguatan sistem peringatan dini yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Dalam konteks ini, BMKG berperan di hulu sebagai penyedia data, informasi, dan peringatan dini berbasis sains.

“BMKG berada di hulu. Kami menyediakan data yang didukung big data dan analisis. Selanjutnya, melalui Disaster Management Command Center ditetapkan langkah-langkah yang harus dilakukan,” ujar Faisal yang mengikuti webinar secara daring melalui Zoom.

Baca Juga :  Masyarakat Padati Jalan dari Istana Merdeka ke Monas, Sambut Presiden Prabowo dalam Rangkaian Kebesaran HUT ke-80 TNI

Ia menjelaskan, hasil analisis tersebut kemudian didiseminasikan melalui berbagai kanal komunikasi, mulai dari peringatan dini resmi, media sosial, hingga aplikasi perpesanan. Diseminasi informasi yang cepat, tepat, akurat, dan mudah dipahami menjadi kunci agar peringatan dini tidak berhenti pada penyampaian pesan, tetapi mampu mendorong aksi penyelamatan di lapangan.

“Intinya, BMKG bekerja di hulu memberikan early warning. Harapannya, peringatan dini tidak hanya sampai sebagai pesan, tetapi juga dipahami dan menimbulkan aksi penyelamatan atau early action menuju zero victim,” jelasnya.

Untuk mendukung sistem tersebut, BMKG saat ini mengoperasikan lebih dari 191 unit pelaksana teknis (UPT) yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan dukungan sekitar 10.800 peralatan operasional utama. BMKG juga mengelola 44 radar cuaca berstandar World Meteorological Organization (WMO), sejumlah stasiun Global Atmosphere Watch (GAW), serta dua superkomputer yang berlokasi di Jakarta dan Bali.

Selain itu, BMKG mengoperasikan berbagai sistem peringatan dini berbasis multi-bahaya, seperti Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS), Meteorological Early Warning System (MEWS), hingga Tropical Cyclone Warning Center (TCWC), yang dirancang untuk memberikan peringatan secara cepat dan akurat.

Sebagai bagian dari upaya mitigasi, BMKG juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem, termasuk risiko banjir serta kebakaran hutan dan lahan di wilayah rawan bencana.

Lebih lanjut, Faisal menekankan bahwa penguatan teknologi harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas masyarakat. Oleh karena itu, BMKG secara konsisten menyelenggarakan berbagai program edukasi, seperti Sekolah Lapang Cuaca bagi nelayan, literasi iklim bagi generasi muda, program BMKG Goes to School, hingga kunjungan edukatif ke kantor-kantor BMKG. Materi edukasi dan video mitigasi bencana juga disediakan melalui kanal resmi BMKG untuk memperkuat kesiapsiagaan publik.

Baca Juga :  Anak Terlindungi, Indonesia Maju

“Kita terus meningkatkan pelibatan masyarakat melalui berbagai pembelajaran, pengajaran, dan edukasi yang berkelanjutan,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Faisal juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan risiko bencana. Menurutnya, pembangunan yang tangguh terhadap bencana membutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat.

Ia mengapresiasi peran Universitas Gadjah Mada yang selama ini aktif mendukung penguatan kapasitas kebencanaan melalui kuliah lapangan, program magang, serta pengembangan riset bersama.

“Ke depan, kami berharap kolaborasi ini tidak hanya berhenti pada kunjungan, tetapi berkembang menjadi riset-riset kolaboratif yang memberikan manfaat,” pungkasnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UGM Selo menyampaikan bahwa webinar Early Warning, Early Action menjadi forum strategis untuk merumuskan pemikiran dan rekomendasi dalam merespons meningkatnya bencana hidrometeorologi.

“Melalui forum ini, kami berharap lahir rekomendasi komprehensif yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam memperkuat kesiapsiagaan dan ketahanan bencana di Indonesia,” ujarnya.

Webinar ini menghadirkan narasumber lintas sektor, antara lain Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, akademisi UGM, serta panelis dari komunitas dan lembaga internasional. Kegiatan tersebut diikuti oleh peserta dari unsur pemerintah, akademisi, mahasiswa, komunitas, dan praktisi, baik secara luring maupun daring.

Follow WhatsApp Channel klopakindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rumah Pendidikan dan Bug Bounty Masuk Nominasi ITU WSIS 2026, Kemendikdasmen Ajak Publik Voting
Kemendikdasmen Luncurkan Pelatihan Pendidikan Inklusif 2026, Target 1.500 Guru Bersertifikat GPK
Indonesia Berbagi Reformasi Pendidikan ke Palestina, Perkuat Kerja Sama Global
Perdagangan 24 Satwa Dilindungi di Manado Terungkap, Tersangka Terancam 15 Tahun Penjara
Kemenhut Perkuat Pengamanan Perbatasan di Entikong Antisipasi Karhutla akibat El Nino
Prabowo Terbitkan 3 Regulasi Baru untuk Ketahanan Pangan Nasional, Ini Rinciannya
BMKG: Musim Kemarau 2026 di Jawa Barat Lebih Kering dan Panjang, 93 Persen Wilayah Alami Hujan di Bawah Normal
Pasanggiri Paduan Suara Puspa Swara Wanoja Sunda 2026 Resmi Dibuka di Bogor

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 17:51 WIB

Rumah Pendidikan dan Bug Bounty Masuk Nominasi ITU WSIS 2026, Kemendikdasmen Ajak Publik Voting

Senin, 20 April 2026 - 17:47 WIB

Kemendikdasmen Luncurkan Pelatihan Pendidikan Inklusif 2026, Target 1.500 Guru Bersertifikat GPK

Sabtu, 18 April 2026 - 20:05 WIB

Indonesia Berbagi Reformasi Pendidikan ke Palestina, Perkuat Kerja Sama Global

Sabtu, 18 April 2026 - 07:35 WIB

Perdagangan 24 Satwa Dilindungi di Manado Terungkap, Tersangka Terancam 15 Tahun Penjara

Sabtu, 18 April 2026 - 07:31 WIB

Kemenhut Perkuat Pengamanan Perbatasan di Entikong Antisipasi Karhutla akibat El Nino

Berita Terbaru