Program afirmasi pendidikan kembali menunjukkan dampak nyata. Lukas Norman Kbarek, putra asli Kabupaten Biak Numfor, Papua, berhasil menembus pendidikan tinggi hingga ke Inggris melalui jalur beasiswa pemerintah. Kisahnya menjadi bukti bahwa akses pendidikan yang merata mampu mengubah masa depan anak bangsa.
Alumni Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) di SMA Bhineka Tunggal Ika Yogyakarta ini menuturkan bahwa ADEM menjadi pengalaman yang mengubah jalan hidupnya.
“Bagi saya, ADEM merupakan life-changing experience yang membantu anak-anak Papua berkembang di lingkungan yang berbeda,” ujarnya.
Selepas pendidikan menengah, Lukas melanjutkan kuliah melalui Program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK) di Universitas Pendidikan Ganesha, Bali. Berbekal semangat dan kerja keras, ia kemudian meraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk melanjutkan studi magister di Lancaster University, Inggris, pada bidang Hukum Internasional.
Dalam waktu satu tahun, Lukas sukses meraih gelar LL.M.
Kini, ia telah mengabdi sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kementerian Luar Negeri. Baginya, perjalanan merantau dari Papua ke Jawa, Bali, hingga Inggris mempertemukannya dengan banyak sosok inspiratif yang semakin memotivasi dirinya untuk terus berkontribusi bagi Indonesia.
Ketertarikannya pada hukum internasional berangkat dari kepedulian terhadap masyarakat di tingkat akar rumput. Ia meyakini bahwa isu-isu global seperti hak asasi manusia, lingkungan hidup, dan perdamaian memiliki dampak langsung bagi kehidupan sehari-hari.
Sejak masa kuliah, jiwa kepemimpinan Lukas telah terlihat. Ia aktif mengikuti Asia Youth International Model United Nations 2018 di Thailand dan menjadi finalis Duta Muda ASEAN 2019.
Lukas berharap keberhasilannya dapat menjadi motivasi bagi generasi muda Papua lainnya.
“Saya berharap lahir SDM unggul dari anak asli Papua yang mampu bersaing di forum nasional maupun internasional,” ungkapnya.
Komitmen Pemerintah Perluas Akses Pendidikan
Program ADEM sendiri merupakan program strategis pemerintah yang telah berjalan sejak 2013 untuk memperluas akses pendidikan bagi wilayah Papua, daerah khusus 3T (terdepan, terluar, tertinggal), serta anak-anak pekerja migran melalui jalur repatriasi.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Suharti, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mengurangi kesenjangan pendidikan antardaerah.
Berdasarkan capaian tahun 2025, sebanyak 4.616 murid telah menerima manfaat ADEM dengan total realisasi anggaran mencapai Rp90 miliar.
“Tanpa kerja sama dan koordinasi yang erat antara pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan orang tua, program ini tidak akan berjalan optimal,” ujarnya.
Apresiasi juga disampaikan Kepala Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan, Adhika Ganendra. Menurutnya, keberhasilan Lukas menjadi bukti nyata bahwa ADEM merupakan intervensi pemerintah untuk menghadirkan akses pendidikan yang lebih luas, merata, dan berkelanjutan.
“Setiap anak Indonesia, dari latar belakang apa pun, berhak memperoleh pendidikan berkualitas untuk mencapai cita-citanya,” tegasnya.
Kisah Lukas menegaskan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar program, tetapi investasi masa depan bangsa. Dengan akses yang tepat, anak-anak dari pelosok negeri pun mampu berdiri sejajar di kancah global.


























