BANDUNG – PT Bio Farma terus memperluas pengembangan produk vaksin sekaligus memperkuat posisi perusahaan di pasar global. Selain memenuhi kebutuhan vaksin dalam negeri, perusahaan menargetkan peningkatan kapasitas riset, teknologi, sumber daya manusia, fasilitas produksi, dan tata kelola agar mampu bersaing dengan perusahaan farmasi internasional.
Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, mengatakan perusahaan saat ini memasok 13 jenis antigen vaksin dari total 14 antigen yang dibutuhkan. Sejumlah produk Bio Farma juga telah memperoleh standar prequalification dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Salah satu produk unggulan yang menjadi andalan ekspor adalah vaksin polio nOPV. Vaksin yang dikembangkan di Bandung selama lebih dari 15 tahun tersebut kini digunakan di lebih dari 150 negara melalui UNICEF.
“Produk unggulan yang sudah dijadikan sebagai tujuan utama dalam hal ekspor itu adalah untuk vaksin polio,” kata Shadiq, Rabu (16/9/2026).
Menurutnya, Bio Farma menjadi satu-satunya produsen di dunia yang saat ini memproduksi vaksin polio jenis nOPV.
Namun, pencapaian tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Bio Farma perlu melakukan transformasi agar tidak hanya memiliki produk berstandar global, tetapi juga mampu menerapkan tata kelola dan proses bisnis yang setara dengan perusahaan farmasi internasional.
“Bukan berarti kita juga 100 persen sudah menjadi perusahaan global dalam tata kelola, dalam bisnis proses, oleh karena itu diperlukan transformasi. Yang pertama transformasi adalah mindset orangnya,” ujar Shadiq.
Dari IndoVac ke Vaksin Tifoid
Setelah meluncurkan vaksin Covid-19 IndoVac pada 2022, Bio Farma terus memperluas portofolio produknya.
Salah satu produk terbaru yang dikembangkan adalah BioTCV, yaitu vaksin Typhoid Conjugate Vaccine untuk mencegah penyakit tifoid. Produk tersebut mulai diarahkan ke pasar internasional dan telah didaftarkan di sejumlah negara, termasuk Pakistan.
Pengembangan BioTCV menunjukkan upaya Bio Farma memperluas pasar produk vaksin, sehingga tidak hanya berfokus pada kebutuhan program kesehatan dalam negeri, tetapi juga mempersiapkan produk untuk pasar global.
“Ini juga sebagai usaha kami untuk memenuhi kebutuhan daripada masyarakat di dunia,” kata Shadiq.
Bio Farma Kembangkan Vaksin Rotavirus
Bio Farma juga berencana mengembangkan vaksin rotavirus untuk mencegah diare pada anak.
Selama ini, kebutuhan vaksin rotavirus yang digunakan Kementerian Kesehatan dalam program imunisasi dipenuhi melalui produk impor. Bio Farma menargetkan pemenuhan kebutuhan tersebut melalui produksi dalam negeri secara bertahap mulai 2027.
Shadiq menjelaskan, proses produksi vaksin rotavirus direncanakan berlangsung secara menyeluruh di Bandung, mulai dari pengembangan seed, pertumbuhan dan pemanenan, formulasi hingga pengemasan.
“Jadi itu murni 100% dari pengembangan seed ya yang diperoleh di luar seed-nya, kemudian kita tumbuhkan, kita panen, kemudian kita formulasi, sampai dengan pengemasan itu adanya di Bandung,” jelasnya.
Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya Bio Farma memperkuat kemampuan produksi vaksin dalam negeri.
Vaksin HPV Menjadi Pengembangan Berikutnya
Selain rotavirus, Bio Farma juga membidik pengembangan vaksin HPV (human papillomavirus), yang berkaitan dengan pencegahan infeksi HPV dan kanker serviks.
Produk tersebut dikembangkan melalui kerja sama dengan MSD dan ditargetkan memperoleh nomor izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2026.
Shadiq mengatakan, program vaksinasi HPV juga akan diperluas kepada anak laki-laki. Kementerian Kesehatan disebut akan melakukan uji coba atau piloting untuk kelompok usia sekitar 9–11 tahun.
Pengembangan program tersebut turut mempertimbangkan pengalaman sejumlah negara, termasuk Australia yang telah menjalankan vaksinasi HPV untuk perempuan dan laki-laki selama lebih dari satu dekade.
“Efektivitasnya sudah lebih daripada 85 persennya,” ujar Shadiq.
Bio Farma juga tengah mengembangkan vaksin kombinasi pentavalen dan heksavalen. Pengembangan produk tersebut ditargetkan berlangsung pada 2027 atau awal 2028.
Saat ini, kebutuhan vaksin kombinasi tersebut masih dipenuhi melalui impor. Karena itu, pengembangan vaksin dalam negeri menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas kemampuan produksi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk dari luar negeri.
Tantangan Besar Pengembangan Vaksin: Riset dan Waktu
Pengembangan industri vaksin tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas produksi. Proses riset, pengujian, dan registrasi membutuhkan waktu serta sumber daya yang besar.
Shadiq mengungkapkan, riset tahap hulu saja dapat berlangsung selama satu hingga dua tahun. Setelah itu, pengembangan vaksin masih harus melalui tahapan praklinis, uji klinis fase I, fase II, fase III, hingga proses registrasi.
Dalam skenario paling cepat, seluruh proses pengembangan dapat memakan waktu sekitar tujuh tahun.
Untuk memperkuat kemampuan riset, Bio Farma menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), universitas, serta organisasi internasional seperti CEPI, Gavi, dan Gates Foundation.
Perusahaan juga mulai mengembangkan platform mRNA yang dikenal luas dalam pengembangan vaksin Covid-19. Teknologi tersebut memiliki potensi untuk mempercepat pengembangan produk vaksin tertentu.
“Platform yang sekarang ini bisa melakukan percepatan untuk membuat satu produk vaksin,” kata Shadiq.
Teknologi mRNA juga dijajaki untuk pengembangan vaksin malaria melalui konsorsium internasional.
Bio Farma Mulai Mengirimkan Teknologi ke Negara Lain
Selain memperluas ekspor produk, Bio Farma mulai mengembangkan strategi transfer teknologi vaksin ke negara lain.
Jika sebelumnya Indonesia lebih banyak menerima teknologi dari luar negeri, perusahaan kini berupaya membawa teknologi produksi dari Bandung ke negara mitra.
Shadiq mengatakan, transfer teknologi vaksin polio telah dilakukan ke India. Kerja sama serupa juga dikembangkan dengan Senegal dan Ghana.
“Bahwa dari Bio Farma pun bukan hanya menerima teknologi dari luar ke Bandung, ke Indonesia. Tapi mulai dari tahun 2 tahun lalu, kita membawa teknologi dari Bandung ke luar negeri,” ujarnya.
Transfer teknologi tersebut membuka peluang bagi Bio Farma untuk memperluas jangkauan bisnis tanpa seluruh kegiatan produksi harus dilakukan di Indonesia.
Langkah ini juga dikaitkan dengan diplomasi kesehatan, terutama melalui dukungan terhadap ketahanan kesehatan nasional di negara-negara mitra.
“Dengan berharap bahwa kalau kita bawa ke luar, tentunya mereka itu kita membantu dalam upaya diplomasi kesehatan dengan ketahanan kesehatan nasional di masing-masing negara,” kata Shadiq.
Transformasi Internal dan Peran Danantara
Di tengah ambisi memperluas bisnis global, Bio Farma masih menghadapi pekerjaan rumah dalam penguatan internal perusahaan.
Sejak 2024, Bio Farma menjalankan dua agenda transformasi, yaitu reorientasi bisnis dan restrukturisasi keuangan.
Menurut Shadiq, transformasi tidak cukup hanya berfokus pada perbaikan kinerja keuangan. Perusahaan perlu membenahi fundamental bisnis dan proses operasional terlebih dahulu.
“Sekarang adalah perbaiki bisnis prosesnya yang di bawah-bawahnya dulu, baru nanti akan menghasilkan dari sisa uangnya,” ujar Shadiq.
Bio Farma juga menyiapkan perbaikan sistem Enterprise Resource Planning (ERP), peningkatan efisiensi pabrik, serta penataan efektivitas fasilitas produksi.
Perusahaan berencana membangun gedung pendukung tambahan di Bandung untuk memenuhi regulasi sekaligus meningkatkan kapasitas produksi.
Di bawah arahan Danantara, Bio Farma juga mencari peluang pengembangan produk dan fasilitas baru.
Menjawab Tantangan Menjadi Perusahaan Farmasi Global
Bio Farma telah memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan dan produksi vaksin. Produk vaksinnya juga telah menjangkau lebih dari 150 negara.
Namun, tantangan berikutnya bukan hanya menghasilkan produk yang memenuhi standar global, melainkan memastikan seluruh rantai bisnis perusahaan memiliki standar yang sejalan dengan tuntutan industri farmasi internasional.
Aspek riset, teknologi, sumber daya manusia, fasilitas produksi, proses bisnis, dan tata kelola menjadi bagian penting dalam agenda transformasi tersebut.
Dengan pengembangan vaksin rotavirus, HPV, vaksin kombinasi, serta eksplorasi teknologi mRNA untuk malaria, Bio Farma berupaya memperluas kemampuan produknya.
Perusahaan juga mulai memperkuat posisi sebagai pemasok teknologi vaksin ke negara lain.
Langkah tersebut menunjukkan arah pengembangan Bio Farma yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan vaksin nasional, tetapi juga pada perluasan peran dalam industri vaksin global.


























