BANDUNG — Pemerintah Inggris kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat kolaborasi dengan Kota Bandung dan Jawa Barat dalam mempercepat transisi menuju emisi nol bersih atau net zero, sekaligus membangun ketahanan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan risiko bencana.
Komitmen tersebut disampaikan dalam kunjungan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, ke Bandung. Kunjungan ini menyoroti sejumlah kerja sama Inggris-Indonesia di bidang aksi iklim, investasi hijau, sains, inovasi, mitigasi risiko bencana, hingga pemberdayaan generasi muda.
Salah satu fokus utama kerja sama tersebut adalah dukungan Inggris melalui International Finance Corporation (IFC) terhadap program Climate Investment Opportunities Diagnostic (CIOD) yang dikembangkan melalui inisiatif APEX atau Advanced Practices for Environmental Excellence in Cities Green Cities.
Program tersebut membantu kota-kota mengidentifikasi investasi iklim yang menjadi prioritas serta menjajaki berbagai skema pembiayaan untuk mendukung pelaksanaannya.
Identifikasi Investasi Iklim untuk Bandung
Didanai oleh UK’s Department for Energy Security and Net Zero, program CIOD mendukung Pemerintah Kota Bandung dalam mengevaluasi peluang kebijakan dan investasi di sejumlah sektor strategis.
Sektor tersebut meliputi energi dan lingkungan binaan, transportasi, air, hingga pengelolaan limbah.
Melalui diagnostik tersebut, berbagai langkah prioritas diidentifikasi untuk membantu mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus memperkuat ketahanan Kota Bandung terhadap dampak perubahan iklim.
Program ini juga diarahkan untuk membangun portofolio proyek yang memiliki potensi mendapatkan dukungan investasi.
Dalam catatan program CIOD, langkah-langkah yang diidentifikasi berpotensi membantu mengurangi emisi gas rumah kaca Bandung lebih dari 20 persen pada tahun 2035.
Selain itu, program tersebut juga mengidentifikasi peluang untuk memobilisasi investasi iklim sekitar USD 4,5 miliar atau sekitar Rp74 triliun.
CIOD dikembangkan melalui APEX, sebuah inovasi dari IFC dan World Bank Group, yang bertujuan membantu kota menerjemahkan ambisi iklim menjadi peluang investasi yang layak didanai.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan Pemerintah Inggris melalui program Market Accelerator for Green Construction.
Dominic Jermey Buka Pameran Setanah, Tak Diam
Dalam kunjungannya ke Bandung, Duta Besar Inggris Dominic Jermey juga membuka pameran seni dan sains bertajuk “Setanah, Tak Diam” di Selasar Sunaryo Art Space.
Pameran tersebut menerjemahkan hasil penelitian geosains yang kompleks mengenai Sesar Lembang menjadi pengalaman publik yang lebih menarik dan imersif.
Melalui perpaduan seni, sains, dan dialog publik, pameran ini mengajak masyarakat untuk memahami kehidupan di tengah lanskap geologi yang dinamis.
Pameran tersebut juga diharapkan dapat mendorong percakapan publik mengenai kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana serta pentingnya membangun ketahanan masyarakat.
Penelitian yang menjadi dasar pameran ini dilakukan melalui kolaborasi sejumlah lembaga dari Indonesia dan Inggris.
Kolaborasi tersebut melibatkan British Geological Survey, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Institut Teknologi Bandung (ITB), University of Leeds, serta Resilience Development Initiative (RDI).
Penelitian tersebut didanai bersama melalui International Science Partnership Fund (ISPF) dari British Council dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, serta dukungan dari Toyota Foundation.
Kerja sama tersebut menjadi salah satu contoh penguatan hubungan Inggris dan Indonesia di bidang sains dan inovasi untuk membantu masyarakat serta para pemangku kepentingan mempersiapkan diri menghadapi risiko bahaya geologi.
Pameran Terbuka hingga 31 Oktober 2026
Pameran Setanah, Tak Diam mengeksplorasi bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan lanskap yang terus berubah akibat gempa bumi, aktivitas gunung berapi, dan berbagai kekuatan alam lainnya.
Pameran ini didasarkan pada penelitian dari dua proyek utama.
Proyek pertama merupakan kolaborasi British Geological Survey, BRIN, ITB, University of Leeds, dan RDI yang didukung melalui ISPF.
Sementara kemitraan lainnya melibatkan ITB, Kyoto University, dan Institute of Himalayan Risk Reduction (IHRR) dengan dukungan pendanaan dari Toyota Foundation.
Pameran tersebut dibuka untuk masyarakat umum mulai 28 Agustus hingga 31 Oktober 2026 di Selasar Sunaryo Art Space, Kota Bandung.
Dorong Peran Generasi Muda dalam Aksi Iklim
Agenda kunjungan Dominic Jermey di Bandung juga mencakup pertemuan dengan perwakilan generasi muda dari Jawa Barat yang mengikuti program Climate Skills dari British Council.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari komitmen Inggris dalam mendorong aksi iklim sekaligus memberdayakan generasi muda melalui pendidikan dan pengembangan keterampilan.
Menurut Dominic Jermey, kerja sama antara Inggris dan Pemerintah Kota Bandung merupakan bagian dari upaya bersama untuk mempercepat transisi menuju net zero serta memperkuat ketahanan masyarakat.
“Inggris dan Pemerintah Kota Bandung bekerja sama untuk mempercepat transisi menuju emisi nol bersih (net zero) serta memperkuat ketahanan masyarakat melalui aksi iklim, sains, dan inovasi,” ujar Dominic Jermey.
Ia mengatakan Inggris telah lama menjadi mitra bagi Jawa Barat dan berkomitmen untuk terus mendorong investasi serta pembangunan infrastruktur ramah lingkungan.
Selain itu, kerja sama di bidang sains, inovasi, dan pendidikan juga terus diperkuat untuk memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat.
“Berbagai inisiatif yang kami lakukan di Bandung dan Jawa Barat merupakan bagian dari pelaksanaan Kemitraan Strategis Inggris-Indonesia yang lebih luas, khususnya dalam prioritas bersama di bidang Iklim dan Energi, serta Sosial dan Masyarakat,” katanya.
Dominic menegaskan Inggris akan terus memperdalam kemitraan dengan Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan mendorong kemakmuran bersama.
Kolaborasi yang dilakukan di Bandung dan Jawa Barat diharapkan tidak hanya menghasilkan pengurangan emisi dan peningkatan investasi hijau, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap berbagai risiko lingkungan dan geologi.
Dengan keterlibatan pemerintah, lembaga internasional, akademisi, komunitas, sektor swasta, hingga generasi muda, upaya menuju pembangunan yang lebih berkelanjutan diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Indonesia dan Inggris.


























