Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama UNESCO mengajak generasi muda Indonesia untuk menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi berbagai tantangan lingkungan, mulai dari ketahanan pangan, pelestarian laut, hingga perubahan iklim.
Ajakan tersebut disampaikan dalam National Forum on Education for Sustainable Development (ESD) atau Forum Nasional Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan yang diselenggarakan UNESCO bersama Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) di Jakarta, Senin (15/6/2026).
Mengusung tema “Biosphere Reserves and Oceans as Learning Spaces for People and the Planet”, forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, hingga mitra pembangunan untuk memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan pendidikan berkelanjutan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk manusia Indonesia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Menurutnya, tantangan masa depan membutuhkan generasi yang mampu menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan tanggung jawab terhadap alam.
“Pendidikan harus mendekatkan murid-murid dengan alam di mana mereka berada. Kita harus memastikan pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia yang mampu hidup di dunia, tetapi juga manusia yang mampu menjaga dunia,” ujarnya.
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa Kemendikdasmen terus mendorong penerapan pendekatan Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam. Melalui pendekatan ini, peserta didik diajak belajar secara reflektif, kontekstual, dan bermakna dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai ruang belajar yang nyata.
Ia menambahkan, penguatan pendidikan pembangunan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam membentuk karakter peserta didik yang memiliki kepedulian sosial, kemampuan berpikir kritis, serta semangat gotong royong dalam menghadapi persoalan global.
Sementara itu, Direktur Kantor Regional UNESCO Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, menilai bahwa dunia pendidikan perlu bertransformasi untuk menjawab tantangan global seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan degradasi ekosistem.
“ESD bukan sekadar mengajarkan topik keberlanjutan. Ini adalah tentang mentransformasi cara kita belajar, cara kita mengajar, dan cara kita berinteraksi dengan dunia di sekitar kita,” katanya.
Melalui proyek Sustaining Our Oceans (SOO) yang didukung oleh Fast Retailing, UNESCO bersama berbagai mitra terus memperkuat kapasitas pendidik dan masyarakat agar mampu menjadi agen perubahan dalam menjaga kelestarian laut.
Program tersebut telah diterapkan di Wakatobi melalui pengembangan materi pembelajaran yang mengintegrasikan sains modern dengan pengetahuan ekologi lokal. Pendekatan ini diharapkan membuat proses belajar lebih dekat dengan kehidupan peserta didik sekaligus memperkuat kesadaran lingkungan sejak dini.
Forum nasional ini juga ditandai dengan penyerahan simbolis paket pembelajaran Wakatobiku kepada Mendikdasmen sebagai simbol kolaborasi antara pemerintah, organisasi internasional, pemerintah daerah, dan berbagai mitra pembangunan dalam memperkuat pendidikan berkelanjutan di Indonesia.
Dengan kolaborasi yang semakin kuat antara dunia pendidikan dan berbagai pemangku kepentingan, diharapkan lahir generasi muda Indonesia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan bumi bagi masa depan.

























