Bandung – Di tengah arus konsumerisme dan budaya flexing yang kian masif di media sosial, generasi muda mulai melawan arus. Loud budgeting, sebuah tren pengelolaan keuangan yang menekankan keberanian menyatakan prioritas finansial secara terbuka, kini menjelma menjadi gaya hidup baru Gen Z dan Milenial.
Berbeda dari praktik hemat konvensional yang kerap dianggap pelit, loud budgeting justru menempatkan penghematan sebagai sikap sadar dan membanggakan. Intinya sederhana: berani mengatakan tidak pada pengeluaran impulsif demi tujuan keuangan jangka panjang, tanpa rasa sungkan atau takut tertinggal tren (FOMO).
Fenomena ini mulai terasa nyata di Jawa Barat. Aji (28), karyawan BUMN asal Bandung, menjadi salah satu contohnya. Ia tak lagi ragu menolak ajakan nongkrong mahal demi fokus menabung emas.
“Dulu saya merasa tidak enak menolak. Sekarang saya bilang apa adanya, sedang fokus tabung emas untuk DP rumah. Ternyata efeknya positif. Bulan ini saya bisa menambah tabungan lebih dari satu gram emas,” ujarnya.
Normalisasi Keuangan Sehat
Loud budgeting dinilai sebagai bentuk normalisasi kondisi keuangan di tengah tekanan sosial. Tren ini mendorong pergeseran perilaku dari konsumsi simbolik menuju value-based spending, yakni membelanjakan uang berdasarkan nilai dan tujuan, bukan gengsi semata.
Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kantor Wilayah X Jawa Barat, Dede Kurniawan, melihat tren ini sebagai sinyal positif perubahan pola pikir finansial masyarakat, khususnya generasi muda.
“Loud budgeting bukan sekadar tren media sosial, tetapi refleksi kesadaran baru. Anak muda mulai jujur pada kemampuan finansialnya dan berani mengalihkan gaya hidup konsumtif ke investasi riil seperti emas,” kata Dede.
Menurutnya, emas tetap menjadi pilihan utama karena sifatnya yang likuid, mudah diakses, dan relatif tahan terhadap inflasi. Ia menegaskan bahwa investasi tidak harus dimulai dengan dana besar.
“Justru konsistensi dari nominal kecil yang dilakukan secara sadar dan berkelanjutan adalah kunci. Loud budgeting mengajarkan keberanian untuk memulai,” tambahnya.
Nasabah Muda Terus Tumbuh
Sejalan dengan tren tersebut, Sekretaris Perusahaan PT Pegadaian, Dwi Hadi Atmaka, menyebut loud budgeting sejalan dengan misi Pegadaian mendorong kebiasaan finansial produktif.
“Ini adalah pergeseran dari kebiasaan konsumtif menuju produktif. Data nasional per Desember 2025 menunjukkan pertumbuhan nasabah Milenial mencapai 49 persen, sementara Gen Z melonjak hingga 116 persen,” ungkapnya.
Melalui aplikasi Tring! by Pegadaian, masyarakat dapat mulai menabung emas dari Rp10 ribu, memantau aset secara real-time, dan menjadikan loud budgeting lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan konsistensi, loud budgeting diyakini bukan hanya membantu mengendalikan pengeluaran, tetapi juga membangun fondasi keuangan yang lebih kuat dan berkelanjutan bagi generasi masa depan.


























