BANDUNG BARAT – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji memperkuat komitmen pendampingan keluarga dalam upaya menurunkan angka stunting di Kabupaten Bandung Barat.
Hal tersebut disampaikan Wihaji saat bertemu dengan sekitar 1.500 kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Sekolah Polisi Negara (SPN) Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (30/9/2026).
Persoalan stunting menjadi salah satu pembahasan utama dalam pertemuan tersebut. Kenaikan angka stunting di Kabupaten Bandung Barat pada 2024 menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan pendampingan keluarga di tingkat lapangan.
Di hadapan para kader, Wihaji mengingatkan bahwa pendampingan keluarga dilakukan sepanjang siklus kehidupan, mulai dari calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, bayi di bawah dua tahun (baduta), balita, remaja hingga lanjut usia.
Pendampingan tersebut sejalan dengan transformasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN dalam membangun keluarga melalui pendampingan yang berkelanjutan.
“Saat ini tugas TPK di lapangan ditambah, untuk menyukseskan program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya untuk menyalurkan MBG pada sasaran spesifik 3B: Bumil, Busui dan Balita nonpaud,” ujar Wihaji.
Menurutnya, keberadaan kader TPK menjadi bagian penting dalam memastikan pendampingan keluarga berjalan hingga ke tingkat sasaran.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail mengakui masih terdapat pekerjaan rumah yang harus diselesaikan daerahnya terkait persoalan stunting.
Jeje menekankan tiga hal yang perlu menjadi perhatian dalam upaya memperkuat pendampingan keluarga.
Pertama, seluruh proses harus dilakukan berdasarkan data. Kedua, koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan di berbagai tingkatan perlu diperkuat. Ketiga, para pendamping harus hadir langsung untuk mendengarkan dan mengetahui persoalan masyarakat hingga tingkat terkecil, yakni keluarga.
“Jika seluruh proses pendampingannya sudah benar, maka kelak kerja TPK akan berdampak,” harap Jeje.
Temu kader yang digelar di SPN Cisarua tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat komitmen bersama dalam menangani persoalan stunting di Kabupaten Bandung Barat.
Di akhir pertemuan, Wihaji menyampaikan optimisme bahwa persoalan stunting dapat ditangani melalui pendampingan keluarga yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Antusiasme para kader untuk terus menjalankan tugas pendampingan di lapangan dinilai menjadi modal penting dalam memperkuat upaya penurunan angka stunting di Kabupaten Bandung Barat.


























