Bio Farma Group Perkuat Ketahanan Kesehatan Lewat Pengembangan Antivirus Influenza

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDUNG – PT Bio Farma (Persero) terus memperkuat perannya sebagai holding BUMN Farmasi dalam membangun ekosistem kesehatan nasional yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing global.

Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui pencapaian PT Kimia Farma Tbk (KAEF), bagian dari Bio Farma Group, yang memperoleh sublisensi (sublicense) dari Medicines Patent Pool (MPP) dalam kerangka voluntary licensing agreement antara MPP dan Roche.

Melalui sublisensi tersebut, Kimia Farma mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan dan memproduksi versi generik baloxavir marboxil, obat antivirus yang digunakan untuk pengobatan influenza.

Kimia Farma menjadi satu-satunya perusahaan farmasi asal Indonesia yang terpilih dalam program tersebut. Secara keseluruhan, terdapat 11 manufaktur dari sembilan negara yang memperoleh sublisensi, yakni Brasil, Tiongkok, India, Indonesia, Malaysia, Nigeria, Uganda, Ukraina, dan Vietnam.

Inisiatif tersebut merupakan bagian dari upaya global untuk membangun kapasitas produksi obat yang lebih terdiversifikasi secara geografis sebelum terjadi keadaan darurat kesehatan.

Penguatan kapasitas manufaktur di berbagai wilayah diharapkan dapat memperkuat ketahanan rantai pasok sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi wabah dan pandemi di masa mendatang.

Bagi Bio Farma Group, keterlibatan Kimia Farma dalam inisiatif tersebut tidak hanya menjadi pencapaian perusahaan, tetapi juga bagian dari strategi memperkuat ekosistem industri kesehatan nasional melalui peningkatan kapabilitas manufaktur, teknologi, regulasi, serta konektivitas dengan mitra kesehatan global.

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero), Shadiq Akasya, mengatakan kepercayaan yang diperoleh Kimia Farma menjadi momentum untuk memperkuat kemampuan industri farmasi Indonesia sekaligus memperluas kontribusi dalam ekosistem kesehatan global.

“Kepercayaan yang diperoleh Kimia Farma melalui sublisensi baloxavir marboxil dari Medicines Patent Pool dalam kerangka voluntary licensing MPP dan Roche merupakan pencapaian strategis bagi Bio Farma Group. Hal ini menunjukkan semakin kuatnya kapabilitas industri farmasi nasional untuk berpartisipasi dalam kolaborasi kesehatan global sekaligus memperkuat kesiapan Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan di masa mendatang,” ujar Shadiq.

Baca Juga :  Sarasehan Jurnalis Peduli Keluarga Dorong Penguatan Peran Media sebagai Mitra Strategis Bangun Ketahanan Keluarga Menuju Jawa Barat Istimewa

Menurutnya, penguatan ketahanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan produk, tetapi juga membutuhkan kemampuan industri nasional dalam mengembangkan teknologi, memperkuat manufaktur, memenuhi persyaratan mutu dan regulasi, serta membangun rantai pasok yang tangguh.

“Sebagai holding BUMN Farmasi dan bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, kami ingin memastikan setiap penguatan kapabilitas perusahaan memberikan manfaat yang lebih luas. Pengembangan kemampuan industri kesehatan nasional harus bermuara pada peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui akses terhadap solusi kesehatan yang semakin baik, memperkuat kinerja dan daya saing industri strategis nasional, serta membangun ketahanan kesehatan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,” tambahnya.

Kimia Farma Dapat Dukungan Teknis Pengembangan Produk

Dalam proses seleksi sublisensi, MPP menilai kandidat berdasarkan sejumlah kriteria, termasuk kapabilitas teknis dan regulatori serta komitmen untuk mengembangkan dan memproduksi produk baloxavir yang memenuhi persyaratan mutu.

Melalui kerja sama tersebut, Kimia Farma memperoleh akses terhadap technical data package, produk referensi untuk studi bioekuivalensi, serta dukungan teknis lainnya yang ditujukan untuk mendukung proses pengembangan produk dan memperoleh persetujuan regulatori.

Dukungan tersebut menjadi peluang bagi Kimia Farma untuk memperkuat kemampuan pengembangan produk farmasi strategis di dalam negeri.

Direktur Komersial PT Kimia Farma Tbk, Hanadi Setiarto, mengatakan keterlibatan perusahaan dalam inisiatif global tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk mengembangkan kapabilitas sekaligus meningkatkan daya saing industri farmasi nasional.

Baca Juga :  Baru 20% Jadi Sekolah Penggerak, Kepala BBPMP Jabar Dorong Pengimbasan ke Sekolah Sekitar

“Keterlibatan Kimia Farma dalam perjanjian sublisensi ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapabilitas industri farmasi nasional sekaligus mendukung kesiapsiagaan Indonesia dalam menghadapi berbagai kondisi kesehatan di masa mendatang,” ujar Hanadi.

Ia mengatakan kolaborasi dengan mitra global memberikan kesempatan bagi Kimia Farma untuk memperkuat kemampuan di bidang pengembangan, regulasi, dan manufaktur.

Perkuat Produksi Obat Strategis di Dalam Negeri

Pengembangan baloxavir marboxil secara lokal di Indonesia diharapkan dapat membantu memperkuat diversifikasi rantai pasok obat strategis dan meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri.

Langkah tersebut juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri secara bertahap, sekaligus memperkuat fondasi industri farmasi nasional dalam menghadapi kebutuhan kesehatan di masa mendatang.

Bagi Bio Farma Group, peluang tersebut turut memperkuat posisi industri farmasi Indonesia untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus semakin terhubung dengan rantai pasok kesehatan global.

Kimia Farma juga berkomitmen mengembangkan dan memasok generik baloxavir marboxil ke pasar yang tercakup dalam lisensi dengan tetap memenuhi ketentuan regulasi yang berlaku.

Sebagai bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, Bio Farma Group terus mendorong transformasi dan penguatan kapabilitas industri kesehatan yang diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat dan perekonomian nasional.

Penguasaan teknologi, peningkatan kapasitas produksi dalam negeri, diversifikasi rantai pasok, dan perluasan kolaborasi internasional menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan kesehatan nasional yang berkelanjutan.

Melalui sinergi antarentitas dalam Bio Farma Group, pengembangan inovasi dan kolaborasi global terus didorong untuk memperkuat ketahanan kesehatan Indonesia sekaligus meningkatkan keterhubungan industri farmasi nasional dengan ekosistem kesehatan global.

Follow WhatsApp Channel klopakindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wihaji Perintahkan Program Bangga Kencana Masuk Sekolah Rakyat
84 Bangunan di Jalan Cihampelas Bandung Ditertibkan, Ini Rinciannya
Penyaluran Bantuan Stimulan Buruan SAE Tahap II 2026 di Kota Bandung
Jabar Uji Rujukan Berbasis Kemampuan Pelayanan, Pasien Tak Lagi Harus Lewati Rujukan Berjenjang
Wihaji Temui Kader TPK Ciamis, Fokus Pendampingan Keluarga Berisiko Stunting
Bio Farma Perkuat Kolaborasi Indonesia-Ghana Lewat Transfer Teknologi Vaksin
Pegadaian Raih 10 Penghargaan di Ajang The Best Contact Center Indonesia 2026
DPR Minta Lapas Bebas Diskriminasi dan Fasilitas Mewah

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:27 WIB

Bio Farma Group Perkuat Ketahanan Kesehatan Lewat Pengembangan Antivirus Influenza

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:22 WIB

Wihaji Perintahkan Program Bangga Kencana Masuk Sekolah Rakyat

Rabu, 30 September 2026 - 15:16 WIB

84 Bangunan di Jalan Cihampelas Bandung Ditertibkan, Ini Rinciannya

Rabu, 30 September 2026 - 13:18 WIB

Penyaluran Bantuan Stimulan Buruan SAE Tahap II 2026 di Kota Bandung

Rabu, 30 September 2026 - 07:16 WIB

Jabar Uji Rujukan Berbasis Kemampuan Pelayanan, Pasien Tak Lagi Harus Lewati Rujukan Berjenjang

Berita Terbaru