Bagi para pencinta siomay, kewaspadaan tampaknya menjadi hal yang wajib belakangan ini. Pasalnya, isu penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan campuran siomay kembali mencuat dan memicu keresahan di tengah masyarakat.
Alasannya cukup sederhana. Harga daging ikan sapu-sapu jauh lebih murah dibandingkan ikan tenggiri yang selama ini dikenal sebagai bahan utama siomay. Dengan menggunakan bahan baku yang lebih murah, oknum pedagang diduga dapat menekan biaya produksi sekaligus meraup keuntungan lebih besar.
Padahal, praktik tersebut jelas merugikan konsumen dan berpotensi membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, masyarakat penting untuk mengetahui dan mengenali ciri-ciri siomay yang diduga dicampur ikan sapu-sapu, sekaligus memahami perbedaannya dengan siomay berbahan ikan tenggiri asli.
Ciri-Ciri Siomay yang Diduga Menggunakan Ikan Sapu-Sapu
Berikut sejumlah tanda yang patut diwaspadai:
1. Warna daging kusam dan abu-abu gelap
Daging ikan sapu-sapu umumnya berwarna lebih gelap dibandingkan ikan tenggiri. Siomay yang dihasilkan tampak kusam dengan warna abu-abu kehitaman.
Namun demikian, konsumen juga diingatkan agar tidak terkecoh dengan siomay yang terlihat putih bersih. Warna putih mencolok bisa saja berasal dari pemutih atau bahan tambahan berbahaya lainnya. Siomay berbahan ikan tenggiri yang sehat biasanya berwarna putih pucat dengan semburat abu-abu alami.
2. Aroma janggal dan amis berlebihan
Siomay yang dibuat dari ikan segar umumnya memiliki aroma khas ikan yang ringan dan tidak menyengat.
Sebaliknya, siomay berbahan ikan sapu-sapu—terutama yang berasal dari perairan tercemar—sering kali mengeluarkan bau amis yang kuat disertai aroma janggal yang tidak lazim untuk produk olahan ikan.
Ciri-Ciri Siomay yang Terbuat dari Ikan Tenggiri Asli
Sebagai pembanding, berikut ciri siomay yang dibuat dari ikan tenggiri asli dan berkualitas:
1. Warna putih pucat alami
Siomay tenggiri memiliki warna putih pucat dengan sedikit semburat abu-abu alami. Warnanya tidak kusam dan tidak pula terlalu putih mencolok.
2. Aroma gurih khas ikan segar
Aroma siomay tenggiri cenderung gurih dan lembut. Tidak tercium bau amis tajam, apalagi aroma langu yang menyimpang.
3. Tekstur kenyal lembut
Tekstur siomay dari ikan tenggiri kenyal alami namun tetap lembut dan mudah digigit. Tidak terasa keras atau liat saat dikunyah.
4. Rasa ikan bersih dan dominan
Rasa ikan tenggiri terasa jelas, gurih, dan bersih di lidah tanpa meninggalkan rasa pahit atau getir.
5. Serat daging halus dan menyatu
Adonan siomay tenggiri biasanya halus, padat, dan tidak berserat kasar. Bentuk siomay juga rapi dan tidak mudah hancur saat dikukus.
Perbandingan Siomay Ikan Tenggiri Asli dan Siomay Diduga Ikan Sapu-Sapu
| Aspek Perbandingan | Siomay Ikan Tenggiri Asli | Siomay Diduga Ikan Sapu-Sapu |
|---|---|---|
| Warna adonan | Putih pucat alami | Kusam, abu-abu gelap |
| Aroma | Gurih lembut, segar | Amis menyengat |
| Tekstur | Kenyal lembut | Keras dan liat |
| Rasa | Gurih bersih | Kurang bersih, terkadang getir |
| Serat daging | Halus dan menyatu | Kasar dan tidak merata |
| Perubahan saat dikukus | Tetap cerah alami | Semakin kusam |
| Keamanan konsumsi | Relatif aman jika higienis | Berisiko jika dari perairan tercemar |
Mengapa Ikan Sapu-Sapu Berbahaya Jika Dikonsumsi?
Pada dasarnya, ikan sapu-sapu bukanlah ikan beracun. Namun, masalah utama terletak pada habitat tempat ikan ini hidup.
Ikan sapu-sapu banyak ditemukan di sungai-sungai yang tercemar limbah domestik dan industri. Logam berat seperti merkuri umumnya mengendap di dasar sungai bersama lumpur dan sedimen. Sementara itu, ikan sapu-sapu tergolong ikan dasar (bottom feeder) yang hidup dan mencari makan di area tersebut.
Akibatnya, merkuri dapat masuk ke tubuh ikan sapu-sapu melalui makanan dan kontak langsung dengan sedimen. Zat ini kemudian mengalami bioakumulasi, yakni menumpuk di jaringan tubuh ikan karena sulit dikeluarkan secara alami. Semakin lama ikan hidup di perairan tercemar, semakin tinggi pula kandungan merkuri di dalam tubuhnya.
Dalam kondisi lingkungan yang kotor, merkuri juga dapat berubah menjadi metilmerkuri, bentuk yang jauh lebih beracun dan mudah diserap oleh jaringan otot ikan. Saat ikan sapu-sapu dikonsumsi manusia, merkuri tersebut tidak akan hilang meski melalui proses pemasakan, melainkan ikut masuk ke dalam tubuh.
Paparan merkuri dalam jangka panjang diketahui dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari kerusakan saraf, gangguan fungsi hati dan ginjal, hingga meningkatkan risiko penyakit kronis.
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta sebelumnya juga mencatat sejumlah sungai di wilayah Jakarta telah tercemar logam berat. Kondisi ini membuat ikan yang hidup di dalamnya berisiko tinggi dan dinilai tidak layak untuk dikonsumsi.
Kasus dugaan siomay berbahan ikan sapu-sapu ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat agar lebih selektif dalam memilih makanan. Konsumen diimbau memperhatikan kualitas, warna, aroma, serta memilih pedagang yang menjaga kebersihan dan transparan demi melindungi kesehatan diri dan keluarga.


























