Subang – Sebagai bagian dari komitmen mewujudkan keluarga berkualitas menuju Indonesia Emas 2045, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menggelar Pelayanan Keluarga Berencana (KB) Serentak dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) ke-33 Tahun 2026. Salah satu kegiatan dilaksanakan di Kabupaten Subang pada Rabu, 24 Juni 2026, melalui pelayanan KB Metode Operasi Wanita (MOW).
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhakti TNI Angkatan Udara ke-79, hasil kolaborasi antara Kemendukbangga/BKKBN, Pemerintah Kabupaten Subang, dan TNI Angkatan Udara dalam memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang aman dan berkualitas.
Puluhan Akseptor Ikuti Pelayanan KB MOW
Pelayanan KB MOW diselenggarakan oleh Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Subang di Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Hoediyono Lanud Suryadarma.
Sebanyak 49 akseptor memperoleh layanan kontrasepsi Metode Operasi Wanita (MOW), yaitu metode kontrasepsi permanen bagi perempuan yang telah merencanakan tidak memiliki anak lagi.
Pelayanan dilakukan oleh tenaga kesehatan sesuai standar medis, dengan memperhatikan aspek keamanan, kualitas pelayanan, serta prosedur yang berlaku.
Pelayanan Sesuai Standar Kesehatan
Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dadi Ahmad Roswandi, menegaskan bahwa pelaksanaan pelayanan KB MOW di Kabupaten Subang telah sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2021.
Regulasi tersebut mengamanatkan bahwa pelayanan kontrasepsi harus dilaksanakan di fasilitas pelayanan kesehatan yang memenuhi standar agar mutu pelayanan, keselamatan pasien, serta kualitas tindakan medis dapat terjamin.
Menurut Dadi, penyelenggaraan pelayanan di rumah sakit menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memastikan masyarakat memperoleh layanan keluarga berencana yang aman, profesional, dan sesuai dengan standar pelayanan kesehatan.
Kolaborasi Menjadi Kunci Keberhasilan
Dalam kesempatan tersebut, Dadi menekankan bahwa keberhasilan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) sangat bergantung pada sinergi lintas sektor.
Kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, TNI, tenaga medis, serta para Penyuluh Keluarga Berencana (PKB/PLKB) dinilai menjadi faktor penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan reproduksi.
“Koordinasi dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan Program Bangga Kencana, termasuk dalam pelaksanaan pelayanan KB. Selain itu, kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang dilakukan oleh Penyuluh KB sangat penting karena kesertaan KB MOW di Provinsi Jawa Barat masih tergolong rendah,” ujar Dadi.
Pentingnya Edukasi Sebelum Memilih Kontrasepsi
Selain pelayanan medis, kegiatan ini juga menekankan pentingnya Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat mengenai berbagai pilihan metode kontrasepsi.
Melalui edukasi yang dilakukan oleh Penyuluh KB, pasangan usia subur diharapkan memahami manfaat, risiko, serta karakteristik setiap metode kontrasepsi sehingga dapat memilih metode yang sesuai dengan kondisi kesehatan, kebutuhan, dan rencana keluarga.
Peningkatan literasi mengenai kesehatan reproduksi dinilai menjadi langkah penting untuk mendorong pengambilan keputusan yang sadar, sukarela, dan bertanggung jawab dalam mengikuti program keluarga berencana.
Mendukung Keluarga Sehat dan Berkualitas
Pelayanan KB Serentak yang dilaksanakan dalam momentum HARGANAS ke-33 merupakan bagian dari upaya Kemendukbangga/BKKBN untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan keluarga berencana yang berkualitas.
Program keluarga berencana tidak hanya bertujuan mengatur kelahiran, tetapi juga mendukung kesehatan ibu dan anak, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta membantu pasangan merencanakan kehidupan keluarga secara lebih matang.
Melalui sinergi antara Kemendukbangga/BKKBN, pemerintah daerah, TNI, tenaga kesehatan, dan seluruh pemangku kepentingan, diharapkan semakin banyak masyarakat yang memperoleh akses terhadap layanan kesehatan reproduksi yang aman, bermutu, dan mudah dijangkau. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi membangun keluarga Indonesia yang sehat, sejahtera, dan berkualitas sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.


























