Bandung – Peran keluarga sebagai caregiver utama dinilai menjadi faktor paling penting dalam mencegah sekaligus mendampingi lanjut usia (lansia) yang mengalami demensia. Seiring meningkatnya jumlah penduduk lansia di Jawa Barat, Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Provinsi Jawa Barat terus memperkuat kapasitas kader dan pengelola Bina Keluarga Lansia (BKL) melalui program pendampingan Perawatan Jangka Panjang (PJP) berbasis keluarga.
Komitmen tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dadi Roswandi, saat membuka kegiatan Orientasi Pendampingan Perawatan Jangka Panjang (PJP) bagi Lansia Berbasis Keluarga yang diselenggarakan secara hybrid pada Kamis (16/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 6.000 kader dan pengelola BKL dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat.
Dalam sambutannya, Dadi mengungkapkan bahwa Jawa Barat kini memasuki fase meningkatnya populasi penduduk lanjut usia. Berdasarkan data yang dipaparkannya, terdapat sekitar 5,8 juta jiwa atau 11,48 persen dari total penduduk Jawa Barat yang telah berusia 60 tahun ke atas.
Menurutnya, peningkatan jumlah lansia merupakan indikator keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama dalam penyediaan layanan kesehatan, perlindungan sosial, serta pendampingan bagi lansia yang mengalami penurunan kemampuan fisik maupun mental.
“Lansia memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan kondisi fisik, gangguan kesehatan, disabilitas, hingga demensia. Oleh karena itu, keluarga dan masyarakat harus memiliki kepedulian yang lebih besar, terutama bagi lansia yang sudah tidak mampu merawat dirinya sendiri sehingga membutuhkan layanan Perawatan Jangka Panjang,” ujarnya.
Dadi menegaskan bahwa Pendampingan Perawatan Jangka Panjang merupakan salah satu menu layanan dalam Program Prioritas Kemendukbangga/BKKBN melalui Program Sidaya (Lansia Berdaya). Program tersebut menempatkan keluarga sebagai pendamping utama yang memiliki peran penting dalam menjaga kualitas hidup lansia agar tetap sehat, mandiri, aktif, dan bermartabat.
Menurutnya, keberhasilan pendampingan lansia tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan, tetapi juga sangat ditentukan oleh kesiapan anggota keluarga dalam memberikan perhatian, perawatan, dan dukungan emosional secara berkelanjutan.
Sementara itu, narasumber kegiatan, Susiana, menjelaskan bahwa demensia bukanlah sekadar penyakit lupa sebagaimana yang masih banyak dipahami masyarakat.
Ia menerangkan bahwa demensia merupakan gangguan pada otak yang menyerang berbagai fungsi penting, mulai dari kemampuan mengingat, berpikir, mengendalikan emosi, perilaku sosial, hingga kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut dapat berkembang secara bertahap dan berdampak besar terhadap kualitas hidup penderitanya maupun keluarga yang merawat.
Menurut Susiana, pencegahan demensia sebenarnya dapat dilakukan sejak dini dengan mengendalikan berbagai faktor risiko yang masih dapat dimodifikasi.
Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain menjaga aktivitas fisik secara rutin, menerapkan pola hidup sehat untuk menjaga kesehatan jantung dan metabolisme tubuh, tetap aktif bersosialisasi, menjaga kesehatan mental, serta melakukan pemeriksaan fungsi pendengaran dan penglihatan secara berkala.
Selain membahas upaya pencegahan, peserta orientasi juga dibekali mengenai pendekatan prinsip 6C dalam mendampingi Orang dengan Demensia (ODD), yang menjadi pedoman dasar bagi keluarga maupun kader BKL dalam memberikan pelayanan yang manusiawi dan berkesinambungan.
Prinsip tersebut meliputi:
- Care, memberikan perhatian, rasa aman, dan perlindungan kepada lansia.
- Compassion, mendampingi dengan penuh kasih sayang, empati, serta kesabaran.
- Competence, memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai gejala serta cara merawat penderita demensia secara tepat.
- Communication, membangun komunikasi yang jelas, lembut, sederhana, dan tetap menghormati martabat lansia.
- Courage, berani mengambil keputusan terbaik demi keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan Orang dengan Demensia.
- Commitment, menunjukkan komitmen untuk terus mendampingi serta memberikan dukungan dalam jangka panjang.
Melalui orientasi ini, Kemendukbangga/BKKBN Jawa Barat berharap seluruh kader BKL dapat menjadi penggerak di masyarakat dalam memberikan edukasi mengenai pencegahan demensia sekaligus mendampingi keluarga yang memiliki anggota lansia dengan kebutuhan perawatan jangka panjang.
Penguatan kapasitas kader dinilai menjadi langkah strategis mengingat keluarga merupakan lingkungan pertama dan terdekat bagi lansia. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai, keluarga diharapkan mampu memberikan perawatan yang lebih baik sehingga lansia tetap memiliki kualitas hidup yang optimal, terhindar dari komplikasi, serta dapat menjalani masa tua secara sehat, aktif, mandiri, dan bermartabat.


























