Ramadhan bukan sekadar bulan istimewa bagi umat Islam. Pada bulan inilah Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi manusia. Namun, di balik kemuliaannya, muncul pertanyaan di tengah umat mengenai kapan tepatnya Al-Qur’an pertama kali diturunkan ke alam dunia.
Apakah Al-Qur’an turun pada malam Lailatul Qadar, atau pada 17 Ramadhan yang selama ini diperingati sebagai peristiwa Nuzulul Qur’an?
Memahami kronologi turunnya Al-Qur’an tidak hanya memperkaya wawasan sejarah Islam, tetapi juga memperdalam penghargaan umat terhadap proses turunnya wahyu secara bertahap hingga menjadi pedoman hidup yang sempurna.
Ramadhan dan Pengagungan Al-Qur’an
Dalam tafsirnya, ulama Andalusia Ibnu Athiyyah mengutip pendapat ulama tabi’in Ad-Dhahhak mengenai makna turunnya Al-Qur’an.
Menurut Ad-Dhahhak, turunnya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan merupakan penegasan tentang kewajiban mengagungkan kitab suci tersebut serta anjuran untuk mengamalkannya dalam kehidupan.
Dengan kata lain, perintah-perintah dalam Al-Qur’an mulai ditegaskan keutamaannya pada bulan Ramadhan. Penyandingan Al-Qur’an dengan Ramadhan menjadi bentuk penghormatan Allah terhadap kitab suci tersebut sekaligus dorongan bagi umat Islam agar lebih giat membaca, memahami, dan mengamalkannya.
Ibnu Athiyyah juga mengutip pendapat lain yang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan turunnya Al-Qur’an adalah permulaan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW yang memang terjadi pada bulan Ramadhan.
Nuzulul Qur’an dan Peristiwa Perang Badar
Dalam Tafsir Al-Munir, ulama kontemporer Syekh Wahbah az-Zuhaili menyebutkan salah satu pendapat yang dikuatkan oleh ahli sejarah Ibnu Ishaq mengenai waktu turunnya wahyu pertama.
Pendapat ini merujuk pada firman Allah dalam Surah Al-Anfal ayat 41:
“Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari Al-Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan…”
Hari Al-Furqan yang dimaksud dalam ayat tersebut dipahami sebagai hari pembeda antara yang benar dan yang batil. Peristiwa itu bertepatan dengan Perang Badar, ketika pasukan Muslim bertemu dengan pasukan Quraisy pada 17 Ramadhan.
Karena itulah, tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai momentum Nuzulul Qur’an, sekaligus mengenang kemenangan besar umat Islam dalam sejarah awal dakwah.
Turunnya Al-Qur’an ke Baitul Izzah
Sementara itu, terdapat riwayat lain dari sahabat Ibnu Abbas yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan terlebih dahulu secara utuh dari Lauhul Mahfuz ke Sama’ ad-Dunya (langit dunia) yang dikenal dengan Baitul Izzah.
Peristiwa ini disebut terjadi pada malam ke-24 Ramadhan.
Keterangan tersebut sejalan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Watsilah bin Al-Asqa’, di mana Rasulullah SAW bersabda:
“Suhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat diturunkan pada malam keenam, Injil pada malam ketiga belas, dan Al-Qur’an pada malam kedua puluh empat.”
Setelah diturunkan ke langit dunia, Al-Qur’an kemudian disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun, sesuai dengan kebutuhan dakwah dan kondisi umat pada masa itu.
Hikmah Perbedaan Pendapat
Perbedaan pendapat mengenai waktu Nuzulul Qur’an sebenarnya bukanlah pertentangan, melainkan menunjukkan kedalaman makna proses turunnya wahyu.
Pendapat Ad-Dhahhak menekankan bahwa Ramadhan adalah momentum pengagungan syariat.
Pendapat Ibnu Ishaq menunjukkan keterkaitan turunnya wahyu dengan perjuangan umat Islam dalam Perang Badar.
Sementara riwayat Ibnu Abbas dan Watsilah bin Al-Asqa’ memberikan gambaran historis tentang proses sistematis turunnya Al-Qur’an, dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah, hingga akhirnya disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.
Dengan demikian, ketiga pandangan tersebut saling melengkapi.
Al-Qur’an diturunkan secara utuh untuk memuliakan langit dunia, kemudian mulai disampaikan kepada Nabi sebagai awal perjuangan risalah Islam, dan akhirnya menjadi pedoman hidup yang menerangi hati manusia sepanjang zaman.
Perbedaan penjelasan ini justru memperlihatkan betapa agungnya proses turunnya Al-Qur’an, kitab suci yang tidak hanya mengubah sejarah umat manusia, tetapi juga menetapkan nilai-nilai abadi bagi seluruh alam.


























