Cegah “Brain Rot” pada Anak, Begini Langkah Nyatanya
Fenomena “brain rot” atau pembusukan otak digital kini menjadi perhatian di era serba gawai. Istilah ini bukan berarti otak rusak secara fisik, tetapi menggambarkan kondisi ketika anak kehilangan kemampuan fokus, berpikir mendalam, dan berimajinasi karena terlalu sering mengonsumsi konten digital yang cepat dan dangkal.
Apa yang Menyebabkan Brain Rot?
Kondisi ini muncul karena otak terbiasa menerima kepuasan instan dari video pendek, game cepat, atau konten hiburan yang tidak edukatif. Anak menjadi sulit berkonsentrasi, mudah bosan, dan kurang tertarik pada kegiatan yang menuntut proses berpikir. Beberapa penyebab utamanya antara lain:
-
Waktu layar berlebihan tanpa pendampingan.
-
Terpapar konten dangkal dan adiktif.
-
Minim interaksi sosial dan aktivitas di dunia nyata.
-
Kurang tidur serta gizi yang tidak seimbang.
-
Kurangnya stimulasi intelektual seperti membaca atau bermain peran.
Langkah Nyata Mencegah Brain Rot pada Anak
-
Batasi waktu layar. Untuk anak di bawah 6 tahun maksimal 1 jam per hari, sedangkan anak usia sekolah hingga remaja cukup 2 jam di luar keperluan belajar.
-
Dampingi dan arahkan konten. Pilih tontonan dan permainan yang edukatif dan sesuai usia, lalu diskusikan bersama.
-
Dorong aktivitas nyata. Ajak anak bermain di luar rumah, berolahraga, membaca, atau berkarya.
-
Jadilah teladan digital. Gunakan gawai secara bijak agar anak meniru kebiasaan positif.
-
Perhatikan tidur dan nutrisi. Pastikan anak cukup istirahat dan mengonsumsi makanan bergizi seperti ikan, telur, dan sayur.
-
Bangun komunikasi terbuka. Dengarkan cerita anak tentang apa yang mereka tonton agar bisa diarahkan tanpa mengekang.
Mencegah brain rot bukan berarti menjauhkan anak dari teknologi, tetapi mengajarkan mereka untuk menggunakannya dengan bijak. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat tumbuh sebagai generasi digital yang cerdas, fokus, dan kreatif.


























