Klopakindonesia.com – Microsoft kembali menjadi sorotan setelah sejumlah pengguna Windows 11 melaporkan kemunculan pesan yang mendorong mereka agar tidak mengunduh Google Chrome dan tetap menggunakan Microsoft Edge. Pesan tersebut terutama muncul ketika pengguna membuka halaman unduhan Chrome melalui browser Edge.
Dalam salah satu tampilan yang dilaporkan media teknologi, Microsoft menampilkan banner berisi ajakan agar pengguna memilih Edge dengan alasan keamanan dan privasi. Pesan itu berbunyi, “Protect your privacy and security with Microsoft Edge.” Notifikasi ini dinilai sebagai langkah baru Microsoft untuk secara langsung memengaruhi keputusan pengguna sebelum berpindah ke browser pesaing.
Pendekatan ini berbeda dari strategi Microsoft sebelumnya. Selama beberapa tahun terakhir, perusahaan kerap menekankan bahwa Edge dibangun di atas basis Chromium—fondasi yang sama dengan Google Chrome—untuk memberi kesan pengalaman penggunaan yang serupa. Kini, narasi “kesamaan mesin” tersebut justru ditinggalkan. Microsoft lebih menonjolkan Edge sebagai browser dengan perlindungan terintegrasi, mulai dari mode penjelajahan privat, pemantauan kebocoran kata sandi, hingga perlindungan terhadap ancaman online.
Tim Kami mencatat, ketika pengguna menekan tombol ajakan bertindak di banner tersebut, mereka tidak sekadar menutup notifikasi. Pengguna justru diarahkan ke halaman khusus keamanan online milik Microsoft. Alur ini membuat pengalaman tersebut terasa seperti proses onboarding yang sengaja dibangun untuk menahan pengguna agar tetap berada di ekosistem Edge. Media tersebut menilai pendekatan ini lebih menyerupai kampanye terstruktur dibanding sekadar pesan peringatan biasa.
Langkah Microsoft tersebut menuai kritik dari Browser Choice Alliance, sebuah koalisi pengembang browser yang beranggotakan sejumlah nama besar, termasuk Google Chrome. Mengutip laporan TechRepublic, aliansi ini menilai Microsoft telah “pushing misleading messages about browsing security” untuk mengganggu kebebasan pengguna dalam memilih browser saat mengunduh produk pesaing.
Dalam pernyataan resminya, Browser Choice Alliance juga menuding Microsoft menggunakan praktik dark patterns di Windows. Praktik tersebut dinilai membuat pilihan browser tidak benar-benar netral, mulai dari hambatan saat mengunduh browser lain, hingga pesan koersif yang mendorong pengguna untuk “mengembalikan setelan rekomendasi Microsoft”.
Isu kebebasan memilih browser ini bahkan sempat merembet ke ranah hukum dan regulator. Pada Juli 2025, Opera mengajukan keluhan persaingan di Brasil dan menuding Microsoft menggunakan taktik desain manipulatif untuk mendorong penggunaan Edge. Tuduhan itu mencakup banner yang menghalangi atau mengganggu pengguna saat hendak mengunduh browser alternatif.
“Microsoft thwarts browser competition on Windows at every turn,” kata penasihat hukum Opera, Aaron McParlan, seperti dikutip The Verge.
Fenomena promosi browser dengan mengangkat isu keamanan dan privasi sejatinya bukan hal baru di industri teknologi. Apple, misalnya, secara konsisten menonjolkan Safari sebagai peramban yang membatasi pelacakan berbasis fingerprinting. Dalam penjelasan resminya, Apple menyebut Safari dirancang untuk mencegah pengiklan membuat “sidik jari” perangkat dengan menyederhanakan konfigurasi sistem, sehingga lebih banyak perangkat tampak serupa di mata pelacak.
Di saat bersamaan, perdebatan soal fingerprinting kembali mengemuka setelah regulator Inggris, Information Commissioner’s Office (ICO), merespons perubahan kebijakan Google terkait penggunaan teknik tersebut untuk produk periklanan. ICO menegaskan bahwa praktik fingerprinting harus tetap digunakan secara sah dan transparan.
Meski Microsoft Edge telah lama terpasang sebagai browser bawaan di Windows 11, dominasi Google Chrome di pasar global masih belum tergoyahkan. Kondisi inilah yang dinilai mendorong Microsoft semakin agresif dalam mempertahankan pengguna di ekosistemnya sendiri.
Hingga kini, Microsoft belum memberikan penjelasan rinci yang secara khusus menanggapi kritik dari aliansi pengembang browser terkait kemunculan pesan pop-up tersebut. Namun, dinamika “perang ekosistem” antar-browser diperkirakan masih akan terus berlanjut seiring ketatnya persaingan di pasar peramban global.


























