JAKARTA, 25 Februari 2026 – Inovasi pendidikan Indonesia kembali mendapat perhatian internasional. Konsep Taman Numerasi yang dikembangkan dalam rangka memperkuat Gerakan Numerasi Nasional menarik minat akademisi Jepang.
Program ini merupakan bagian dari transformasi pembelajaran yang didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui pendekatan pembelajaran berpusat pada murid (student based learning) yang terinspirasi dari praktik pendidikan di Jepang.
Salah satu implementasi nyata hadir di SDN 04 Meruya Selatan melalui inovasi INTAN (Inovasi Taman Numerasi). Taman ini dirancang sebagai ruang belajar interaktif yang menghubungkan konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari melalui media konkret, permainan edukatif, serta aktivitas berbasis proyek.
Berlokasi di Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, Taman Numerasi INTAN menghadirkan berbagai sudut numerasi lengkap dengan alat peraga, papan interaktif, media visual, dan tantangan numerik sesuai jenjang kelas. Suasana belajar dikemas terbuka dan kolaboratif agar siswa dapat belajar sambil bermain dalam lingkungan yang inspiratif.
Kepala SDN 04 Meruya Selatan, Tri Susilawati, mengatakan inovasi ini lahir dari komitmen untuk menjadikan numerasi sebagai budaya belajar.
“Kami ingin numerasi tidak lagi menjadi materi yang menakutkan. Melalui Taman Numerasi INTAN, siswa belajar lebih menyenangkan dan bermakna,” ujarnya.
Guru Komala Sari menambahkan, pendekatan kontekstual membuat siswa lebih percaya diri dalam menyelesaikan tantangan numerik karena materi dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
Hal senada disampaikan Rindy Afrizal yang menilai inovasi ini membuktikan transformasi pendidikan dapat dimulai dari sekolah ketika guru diberi ruang untuk berkreasi.
Secara konsep, Taman Numerasi di Indonesia memiliki keunggulan berupa ruang fisik yang dirancang khusus untuk pembelajaran mendalam yang terintegrasi dengan pendekatan STEM. Model ini berbeda dengan praktik di Jepang yang lebih banyak memanfaatkan lingkungan sekitar secara kontekstual.
Inovasi tersebut menarik perhatian akademisi Jepang. Sakai Chihiro dari Universitas Hokkaido bahkan berkunjung langsung untuk melihat proses pembelajaran dan berinteraksi dengan guru serta siswa.
Kehadiran Taman Numerasi juga memperkuat pembelajaran berdiferensiasi, di mana guru berperan sebagai fasilitator sesuai kebutuhan dan tingkat pemahaman murid. Dengan pendekatan ini, numerasi tidak lagi dipandang sebagai mata pelajaran yang kaku, tetapi sebagai keterampilan hidup yang aplikatif.
Inovasi INTAN diharapkan dapat menginspirasi satuan pendidikan lain dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup, kontekstual, dan relevan, sekaligus mencetak generasi yang cakap numerasi dan siap menghadapi tantangan masa depan.


























