Penghujung September 2026 menghadirkan sejumlah fenomena langit yang menarik untuk diamati masyarakat. Setelah ekuinoks September berlangsung pada 23 September, langit malam pada akhir bulan akan dihiasi Bulan Purnama atau Harvest Moon, disusul kedekatan posisi Bulan dengan planet Saturnus.
Fenomena-fenomena tersebut dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengamati benda langit tanpa harus menggunakan peralatan astronomi khusus.
1. Harvest Moon pada 26 September 2026
Fenomena utama pada akhir September adalah Harvest Moon, sebutan untuk Bulan Purnama yang waktunya berdekatan dengan ekuinoks September di belahan Bumi utara.
BMKG menyebut Harvest Moon akan menghiasi langit Indonesia pada Sabtu, 26 September 2026. Piringan Bulan akan tampak bulat dan terang sehingga dapat diamati dengan mata telanjang.
Untuk Jakarta, Bulan terbit sekitar 17.29 WIB. Namun, ketika baru terbit, posisinya masih sangat dekat dengan horizon. BMKG menyebut waktu pengamatan yang lebih optimal dimulai sekitar 20.00 WIB hingga mendekati puncak pengamatan sekitar 23.39 WIB.
Data astronomi untuk Jakarta mencatat fase Bulan Purnama mencapai puncaknya pada 23.49 WIB pada 26 September 2026.
Istilah Harvest Moon memiliki sejarah yang berkaitan dengan masyarakat pertanian di Eropa dan Amerika Utara. Sebelum adanya penerangan listrik, cahaya Bulan Purnama yang terang memberikan tambahan penerangan bagi petani untuk melakukan aktivitas panen hingga malam hari.
2. Bulan Purnama Berdekatan dengan Saturnus
Pada malam yang sama, Bulan Purnama akan tampak berdekatan dengan Saturnus dari perspektif pengamat di Bumi.
Keduanya dapat dicari di langit malam setelah Matahari terbenam. Saturnus akan terlihat sebagai titik terang di dekat Bulan. Peristiwa ini merupakan kedekatan secara visual dari sudut pandang Bumi, bukan berarti Bulan dan Saturnus berada dalam jarak yang berdekatan secara fisik.
Menariknya, Saturnus juga sedang menuju kondisi oposisi pada awal Oktober sehingga planet tersebut menjadi salah satu objek yang cukup menarik untuk diamati pada periode akhir September.
Bagi pengamatan sederhana, teleskop tidak diperlukan untuk menemukan Saturnus. Namun, teleskop dapat digunakan untuk melihat planet tersebut secara lebih detail.
3. Ekuinoks September Sudah Berlalu
Fenomena astronomi penting lainnya yang menjadi latar belakang akhir September adalah ekuinoks September.
Ekuinoks terjadi ketika Matahari melintasi ekuator langit dari utara menuju selatan. Pada 2026, ekuinoks September berlangsung pada 23 September dalam waktu Indonesia. Peristiwa ini menandai awal musim gugur secara astronomis di belahan Bumi utara dan awal musim semi di belahan Bumi selatan.
Indonesia yang berada di sekitar khatulistiwa juga mengalami perubahan posisi semu Matahari dalam siklus tahunannya, meskipun pembagian musim di Indonesia tidak menggunakan empat musim seperti di wilayah subtropis.
Ekuinoks September juga berkaitan dengan penamaan Harvest Moon karena Bulan Purnama pada September 2026 menjadi Bulan Purnama yang paling dekat dengan ekuinoks musim gugur di belahan Bumi utara.
4. Bulan Tetap Terlihat Menarik hingga Akhir September
Setelah mencapai fase Purnama pada 26 September, Bulan akan memasuki fase mengecil atau waning gibbous.
Di Jakarta, pada 27 September Bulan masih memiliki iluminasi sekitar 99 persen, kemudian secara bertahap berkurang pada hari-hari berikutnya. Pada 30 September, bagian Bulan yang tampak terang masih sekitar 88 persen.
Artinya, masyarakat masih dapat menikmati Bulan yang relatif terang pada beberapa malam setelah Harvest Moon.
5. Kesempatan Mengamati Langit Malam
Untuk menikmati fenomena langit akhir September, masyarakat tidak harus menggunakan teleskop.
Pengamatan dapat dilakukan dari tempat yang memiliki pandangan luas ke langit dan minim penghalang seperti gedung atau pepohonan. Kondisi cuaca juga menjadi faktor penting karena awan dapat menghalangi objek langit.
Pada malam 26 September, Bulan Purnama menjadi objek yang paling mudah ditemukan. Setelah itu, pengamat dapat mencoba mencari titik terang Saturnus di sekitar Bulan.
Untuk wilayah perkotaan dengan polusi cahaya tinggi, objek langit yang lebih redup mungkin lebih sulit diamati. Karena itu, lokasi yang lebih gelap dan memiliki pandangan terbuka dapat memberikan pengalaman pengamatan yang lebih baik.
6. Waspadai Pasang Purnama di Wilayah Pesisir
Selain menjadi fenomena astronomi yang menarik, Bulan Purnama juga berkaitan dengan kondisi pasang air laut.
BMKG mengingatkan masyarakat pesisir mengenai potensi Pasang Purnama. Ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada konfigurasi yang menghasilkan pengaruh gravitasi gabungan lebih kuat, pasang air laut dapat menjadi lebih tinggi dan surut lebih rendah dibandingkan kondisi tertentu lainnya.
Karena itu, masyarakat yang melakukan aktivitas di kawasan pantai dan perairan tetap perlu memperhatikan informasi pasang surut serta kondisi cuaca dan laut setempat.
Akhir September Jadi Waktu Menarik untuk Menatap Langit
Akhir September 2026 menjadi salah satu periode menarik bagi pengamatan langit malam.
Harvest Moon pada 26 September, kedekatan visual Bulan dengan Saturnus, serta periode setelah ekuinoks September menjadi rangkaian fenomena yang dapat diamati masyarakat.
Tidak semua fenomena membutuhkan alat khusus. Bulan Purnama bahkan dapat diamati langsung dengan mata telanjang. Yang dibutuhkan terutama adalah lokasi dengan pandangan langit yang cukup terbuka dan kondisi cuaca yang mendukung.
(KlopakIndonesia.com)

























