Kalau bicara bulutangkis, rasanya sulit bagi orang Indonesia untuk tidak ikut terbawa perasaan.
Ada kenangan masa kecil. Ada suara kok dipukul. Ada lapangan di kampung yang gegap gempita kala pertandingan Agustusan. Ada raket yang senarnya putus. Ada pertandingan yang ditonton beramai-ramai di televisi.
Dan tentu saja ada satu hal yang paling ditunggu: Indonesia menang!
Dulu, kalau televisi menayangkan pertandingan bulutangkis, suasana rumah bisa berubah seperti stadion.
Bapak-bapak serius di depan televisi. Anak-anak ikut menonton meskipun belum terlalu mengerti aturan permainan. Kalau pemain Indonesia tertinggal, suasana mendadak sunyi.
Begitu pemain kita mendapatkan angka…
“Ayo… ayo… ayo!”
Begitu menang, satu rumah bisa ikut bersorak.
Begitulah bulutangkis.
Ia bukan sekadar olahraga.
Ia sudah menjadi bagian dari cerita hidup banyak orang Indonesia.
DARI RUDY HARTONO…
Generasi kita pernah mengenal Rudy Hartono.
Nama yang bagi penggemar bulutangkis zaman dulu tidak perlu banyak penjelasan.
Kemudian muncul Liem Swie King dengan smes kerasnya yang kemudian terkenal dengan istilah “King Smash”.
Ada Tjun Tjun dan Johan Wahyudi.
Ada Christian Hadinata.
Ada Icuk Sugiarto.
Lalu generasi berikutnya menghadirkan Ricky Subagja-Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, dan kemudian Taufik Hidayat.
Nama-nama itu bukan sekadar daftar juara. Mereka adalah bagian dari sejarah.
Mereka membuat anak-anak Indonesia bermimpi menjadi pemain bulutangkis.
Dulu mungkin kita bermain di lapangan kampung. Lapangan di alam terbuka. Yang kalau main malam diterangi lampu neon yang di tempel di tiang kayu.
Raket belum tentu bagus.
Sepatu pun kadang seadanya.
Tetapi mimpi?
Tetap setinggi langit.
DAN SEKARANG… MUNCUL GENERASI BARU
Tahun 2026, kita kembali melihat cerita yang hampir membuat jantung copot.
Di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, tim beregu putra Indonesia berhadapan dengan China.
Awalnya bukan cerita yang menyenangkan. Jonathan Christie pemain rangking 1 Dunia harus mengakui raja bulutangkis China, Shi Yu Qi, disusul ganda andalan Indonesia Fajar Alfian/Moh. Sohibul Fikri, rangking 2 Dunia juga harus terkapar melawan ganda China Liang Wei Keng/Wang Chang.
Indonesia tertinggal 0-2.
Kalau ini pertandingan di kampung, mungkin sudah ada yang mulai berkata:
“Wah, beres ieu mah…”
Tapi pertandingan belum selesai.
Dan para pemain Indonesia ternyata belum mau menyerah.
Alwi Farhan memperkecil ketertinggalan dengan mengalahkan Li Shi Feng
Kemudian Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin menyamakan kedudukan dengan meluluhlantahkan He Ji Ting/Liu Ye
Dari 0-2 menjadi 2-2.
Tinggal satu pertandingan.
Satu kesempatan.
Satu pemain harus berdiri membawa harapan seluruh tim.
Muncullah Moh Zaki Ubaidillah.
Anak muda.
Namanya mungkin belum sebesar nama-nama legenda yang pernah kita kenal.
Tetapi malam itu, ia mendapatkan kesempatan untuk menulis namanya sendiri dalam sejarah.
Dan ia tidak menyia-nyiakannya.
Ubed menang. Tampil perkasa dengan mengalahkan andalan terakhir China Weng Hongyang.
Indonesia menang 3-2.
Emas!
*28 TAHUN MENUNGGU*
Ada sesuatu yang membuat kemenangan ini terasa semakin istimewa.
Indonesia harus menunggu 28 tahun untuk kembali meraih emas beregu putra bulutangkis Asian Games.
Bayangkan.
Hampir tiga dekade.
Selama itu pula generasi berganti.
Anak-anak yang dulu menonton Rudy Hartono dan Taufik Hidayat kini mungkin sudah menjadi bapak atau bahkan kakek.
Dan sekarang mereka melihat generasi baru berdiri di podium.
Begitulah olahraga.
Yang kita lihat bukan hanya pertandingan.
Tetapi juga perjalanan waktu.
*DULU KITA MENONTON, SEKARANG MEREKA YANG MENJADI CERITA*
Mungkin suatu hari nanti, anak-anak yang sekarang melihat Zaki Ubaidillah dan kawan-kawan mengangkat medali emas akan bercerita kepada anak-anak mereka:
“Dulu, waktu Asian Games 2026, Indonesia tertinggal 0-2 dari China. Tapi akhirnya menang 3-2.”
Lalu anaknya bertanya:
“Siapa yang menentukan?”
Jawabannya:
“Namanya Zaki Ubaidillah.”
Begitulah legenda terbentuk.
Bukan dalam sehari.
Bukan karena nama besar.
Tetapi karena ada satu momen ketika seorang atlet berdiri di bawah tekanan dan berkata kepada dirinya sendiri:
“Saya belum selesai.”
*BULUTANGKIS DAN INDONESIA*
Itulah sebabnya bulutangkis selalu punya tempat khusus di hati orang Indonesia.
Olahraga ini mengajarkan sesuatu yang sederhana:
jangan cepat menyerah.
Ketinggalan bukan berarti kalah.
Terdesak bukan berarti selesai.
Dan selama kok belum jatuh untuk terakhir kalinya…
Pertandingan belum berakhir.
pertandingan belum berakhir.
Dari lapangan kampung hingga arena Asian Games.
Dari raket sederhana hingga podium emas.
Dari Rudy Hartono, Liem Swie King, Christian Hadinata, Icuk Sugiarto, Susi Susanti, Taufik Hidayat dan generasi-generasi sebelumnya…
Kini tongkat estafet itu berada di tangan generasi baru.
Mereka punya tugas yang tidak ringan:
menjaga tradisi.
Bukan untuk hidup dalam bayang-bayang para legenda.
Tetapi untuk menciptakan legenda mereka sendiri.
Dan kita
Kita tinggal menikmati pertandingannya.
Sesekali boleh tegang.
Sesekali boleh ngomel di depan televisi.
Kalau kalah, kecewa.
Kalau menang…
teriak sekampung!
Karena begitulah kita mencintai bulutangkis.
Merah Putih boleh berganti generasi.
Pemain boleh berganti nama.
Tetapi kecintaan kita pada bulutangkis Indonesia… semoga tidak pernah berganti.
*Selamat, Tim Bulutangkis Putra Indonesia*
Terima kasih sudah membuat kita kembali percaya:
bahwa pertandingan belum selesai sebelum angka terakhir diperoleh
Hari Sinastrio
( Pengamat Olah Raga )

























