Mengapa AI Membutuhkan Banyak Air dan Listrik? Ini Penjelasannya

- Jurnalis

Senin, 21 September 2026 - 07:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) seperti ChatGPT, Gemini, dan berbagai platform AI lainnya membutuhkan energi listrik dan air dalam jumlah besar, terutama karena pengoperasiannya bergantung pada pusat data (data center).

Pusat data merupakan fasilitas yang dipenuhi komputer berkemampuan tinggi untuk memproses data, menjalankan model AI, dan menjawab pertanyaan pengguna.

Berikut penjelasannya.

1. Mengapa AI Membutuhkan Listrik Sangat Banyak?

AI bekerja menggunakan komputer dengan prosesor berkemampuan tinggi, termasuk GPU (Graphics Processing Unit).

GPU digunakan untuk:

  • Melatih model AI dengan jumlah data yang sangat besar.
  • Memproses pertanyaan dan perintah pengguna.
  • Menghasilkan teks, gambar, video, dan berbagai konten lainnya.

Semakin kompleks model AI dan semakin banyak penggunanya, semakin besar pula kebutuhan energi listrik.

Contoh sederhana:
Ketika seseorang meminta AI membuat gambar atau video, komputer di pusat data harus melakukan jutaan hingga miliaran perhitungan untuk menghasilkan konten tersebut.

Proses ini membutuhkan listrik dan menghasilkan panas.

2. Mengapa AI Membutuhkan Air?

Salah satu alasan utamanya adalah untuk mendinginkan peralatan komputer di pusat data.

Komputer yang bekerja terus-menerus menghasilkan panas. Jika suhu terlalu tinggi, perangkat bisa mengalami gangguan atau kerusakan.

Untuk mengatasi panas tersebut, pusat data menggunakan berbagai sistem pendingin, termasuk sistem yang memanfaatkan air.

Bagaimana proses pendinginannya?

  1. Server AI bekerja dan menghasilkan panas.
  2. Sistem pendingin menyerap atau memindahkan panas tersebut.
  3. Air dapat digunakan untuk membantu proses pendinginan.
  4. Sebagian air menguap dalam sistem pendingin tertentu sehingga perlu diganti.

Jumlah air yang digunakan bergantung pada teknologi pendingin, lokasi pusat data, kondisi cuaca, dan sumber listrik yang digunakan.

Tidak semua pusat data menggunakan air dalam jumlah yang sama. Ada pula sistem pendingin yang menggunakan udara atau teknologi pendinginan tertutup.

Baca Juga :  Alasan Tahun di Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Ditulis Angka 05, Bukan 45

3. AI Tidak Hanya Menggunakan Air untuk Pendinginan

Kebutuhan air AI juga berkaitan dengan produksi listrik yang digunakan pusat data.

Mengapa?

Sebagian pembangkit listrik, terutama pembangkit listrik tenaga uap dan sejumlah pembangkit lainnya, menggunakan air untuk proses pendinginan.

Artinya, penggunaan air AI dapat dibedakan menjadi:

Jenis penggunaan Penjelasan
Air langsung Digunakan dalam sistem pendingin pusat data.
Air tidak langsung Digunakan dalam proses pembangkitan listrik yang memasok energi ke pusat data.
Air untuk produksi perangkat Digunakan dalam pembuatan chip dan perangkat elektronik.

Oleh karena itu, dampak penggunaan air AI tidak hanya berasal dari pusat data, tetapi juga dari rantai pasokan energinya dan pembuatan perangkat keras.

4. Mengapa Penggunaan AI Terus Meningkat?

Pertumbuhan penggunaan AI mendorong pembangunan pusat data baru dan peningkatan kapasitas komputasi.

AI digunakan untuk berbagai keperluan, seperti:

  • Mesin pencari dan asisten virtual.
  • Pembuatan gambar dan video.
  • Penelitian ilmiah.
  • Industri dan manufaktur.
  • Pendidikan dan layanan kesehatan.
  • Analisis data dan bisnis.

Semakin banyak aktivitas yang membutuhkan komputasi AI, semakin besar kebutuhan infrastruktur pendukungnya.

Namun, konsumsi energi setiap permintaan AI tidak selalu sama. Permintaan teks sederhana umumnya berbeda kebutuhan komputasinya dibandingkan pembuatan video beresolusi tinggi atau pelatihan model AI besar.

5. Apakah AI Bisa Mengancam Ketersediaan Air?

AI dapat menambah tekanan terhadap sumber daya air, terutama apabila pusat data dibangun di wilayah yang sudah mengalami kekurangan air.

Risikonya bergantung pada beberapa faktor:

  • Lokasi pusat data: Apakah berada di wilayah yang memiliki cukup air?
  • Teknologi pendinginan: Seberapa banyak air yang digunakan?
  • Sumber energi: Bagaimana listrik diproduksi?
  • Efisiensi teknologi: Seberapa banyak energi dan air yang dibutuhkan untuk setiap pekerjaan?
  • Pengelolaan sumber daya: Apakah air yang digunakan dapat didaur ulang atau dikelola secara berkelanjutan?
Baca Juga :  Dari Unix ke Linux: Evolusi Sistem Operasi Open Source Dunia

Dampak lingkungan tidak dapat ditentukan hanya dari jumlah server, karena teknologi dan kondisi operasional setiap pusat data berbeda.

6. Apakah AI Bisa Menjadi Lebih Hemat Energi dan Air?

Bisa. Pengembang teknologi terus mengembangkan berbagai solusi, antara lain:

Pendinginan yang lebih efisien

  • Penggunaan sistem pendingin tertutup.
  • Pendinginan langsung pada komponen tertentu.
  • Pemanfaatan udara luar dalam kondisi yang sesuai.

Penggunaan energi yang lebih bersih

  • Pemanfaatan energi surya, angin, dan sumber energi rendah emisi lainnya.
  • Peningkatan efisiensi infrastruktur listrik.

Pengembangan chip dan model AI

  • Chip dengan efisiensi energi yang lebih baik.
  • Model AI yang lebih kecil untuk tugas tertentu.
  • Optimalisasi perangkat lunak agar perhitungan lebih efisien.

Meski demikian, peningkatan efisiensi per unit pekerjaan tidak selalu berarti total konsumsi energi dan air akan turun. Jika penggunaan AI meningkat sangat pesat, kebutuhan keseluruhan bisa tetap bertambah.

Kesimpulan

AI membutuhkan listrik besar karena menjalankan komputer berkemampuan tinggi untuk memproses data dan menghasilkan berbagai layanan.

Sementara itu, air terutama digunakan dalam sistem pendinginan pusat data dan secara tidak langsung dalam proses pembangkitan listrik serta pembuatan perangkat keras.

Tantangan ke depan bukan hanya mengembangkan AI yang semakin cerdas, tetapi juga memastikan teknologi tersebut menggunakan energi dan air secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, perkembangan AI perlu diimbangi dengan efisiensi teknologi, pengelolaan air yang baik, dan pemilihan sumber energi yang sesuai dengan kondisi lingkungan.

Ingin baca lebih detail : klik disini

Follow WhatsApp Channel klopakindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hujan Meteor Perseid 2026 Capai Puncak 13 Agustus, Ini Jam Terbaik Menyaksikannya di Indonesia
Tips Aman Berkendara Saat Macet di Tanjakan Curam Saat Mudik Lebaran
Ciri Master Kopling Mobil Manual Rusak: Gejala Master Atas dan Bawah yang Wajib Diketahui
Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Malam Ini, Simak Jam Puncak dan Jadwal Lengkapnya di Indonesia
Fenomena Langit 28 Februari 2026: Enam Planet Berjajar, Ini Waktu dan Cara Melihatnya di Indonesia
Mengapa Mobil di Indonesia Menggunakan Stir Kanan? Ini Penjelasan Sejarah dan Alasannya
Hujan Meteor Alpha Centaurid Terjadi Februari 2026, Mengapa Dinamai Demikian?
Langit Februari 2026 Penuh Kejutan, Ini Daftar Fenomena Astronomi yang Terjadi

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 07:47 WIB

Mengapa AI Membutuhkan Banyak Air dan Listrik? Ini Penjelasannya

Kamis, 13 Agustus 2026 - 11:55 WIB

Hujan Meteor Perseid 2026 Capai Puncak 13 Agustus, Ini Jam Terbaik Menyaksikannya di Indonesia

Kamis, 26 Maret 2026 - 07:47 WIB

Tips Aman Berkendara Saat Macet di Tanjakan Curam Saat Mudik Lebaran

Kamis, 26 Maret 2026 - 06:53 WIB

Ciri Master Kopling Mobil Manual Rusak: Gejala Master Atas dan Bawah yang Wajib Diketahui

Selasa, 3 Maret 2026 - 16:37 WIB

Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Malam Ini, Simak Jam Puncak dan Jadwal Lengkapnya di Indonesia

Berita Terbaru

Ilmu Pengetahuan

Mengapa AI Membutuhkan Banyak Air dan Listrik? Ini Penjelasannya

Senin, 21 Sep 2026 - 07:47 WIB