Pembelajaran Mendalam Bantu Guru Ubah Kesulitan Menulis Menjadi Pengalaman Belajar Menyenangkan

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 21 Agustus 2026 - 17:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Kesulitan menulis yang dialami peserta didik tidak selalu harus diatasi dengan menambah latihan. Guru perlu memahami penyebab dan kebutuhan setiap anak agar proses belajar dapat berlangsung secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan bedah buku “Menulis Tanpa Menangis” yang diselenggarakan Pusat Perbukuan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Perpustakaan Kemendikdasmen, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi guru untuk tidak hanya membaca buku, tetapi juga berbagi pengalaman sekaligus menemukan strategi pembelajaran yang dapat diterapkan sesuai kondisi peserta didik di kelas.

Pendekatan tersebut sejalan dengan arah Pembelajaran Mendalam yang dikembangkan Kemendikdasmen, yang menekankan pengalaman belajar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Bagi peserta didik, menulis bukan sekadar menyusun huruf di atas kertas. Aktivitas tersebut melibatkan kemampuan memahami, berkonsentrasi, mengoordinasikan gerakan, sekaligus membangun kepercayaan diri dalam belajar.

Karena itu, penguatan kemampuan membaca dan menulis membutuhkan pendekatan yang mampu memahami kondisi serta kebutuhan setiap anak.

Guru Mengubah Cara Melihat Kesulitan Menulis

Pengalaman tersebut disampaikan Redha, guru kelas III sekolah dasar negeri di Depok. Setelah mempelajari buku “Menulis Tanpa Menangis”, ia mulai melihat kesulitan menulis peserta didik dengan cara yang berbeda.

Redha tidak hanya meminta murid lebih rajin menulis atau memberikan motivasi, tetapi berusaha mencari penyebab kesulitan yang dialami setiap anak dan menyesuaikan strategi pembelajaran.

Salah satu muridnya, Lutfy, membutuhkan waktu cukup lama untuk menulis dan mengalami kesulitan memberikan jarak antarkata.

Untuk membantunya, Lutfy ditempatkan di bagian depan kelas. Materi yang harus disalin juga diletakkan lebih dekat. Redha bahkan memberikan salinan soal agar Lutfy tidak harus terus-menerus memindahkan pandangan antara papan tulis dan buku.

Baca Juga :  Santap Siang Bersama, Presiden Prabowo dan Wakil PM Angela Rayner Bahas Program Gizi untuk Anak-anak

Sebagai penanda jarak antarkata, Redha menggunakan stik es krim atau ruas jari. Waktu pengerjaan pun disesuaikan dengan kebutuhan Lutfy.

Perubahan mulai terlihat. Lutfy yang sebelumnya dapat menangis hingga tiga kali sehari karena harus mengerjakan tugas menulis untuk tiga mata pelajaran, kini tidak lagi menangis ketika menulis.

“Perubahan pun terlihat, Lutfy yang sebelumnya dapat menangis hingga tiga kali sehari karena tugas menulis untuk tiga mata pelajaran, kini tidak lagi menangis ketika menulis. Ia mampu menyelesaikan setidaknya setengah catatan setiap mata pelajaran, meski sebagian dilanjutkan di rumah,” ujar Redha dalam kegiatan Bedah Buku di Perpustakaan Kemendikdasmen, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Pensil Diperbesar untuk Kurangi Kelelahan

Pengalaman lain dialami Redha ketika mendampingi Una. Ia menemukan bahwa keluhan cepat lelah ketika menulis ternyata berkaitan dengan tekanan pensil yang terlalu kuat.

Akibatnya, tulisan Una bahkan menembus beberapa halaman.

Redha kemudian menempatkan Una di bagian depan kelas dan memperbesar ukuran pensil menggunakan kain perca atau pencil grip.

“Una kemudian ditempatkan di depan kelas dan pensilnya diperbesar menggunakan kain perca atau pencil grip. Dalam satu bulan, Una mampu menyelesaikan tugas menulisnya, sementara tulisan yang sebelumnya menembus hingga enam halaman berkurang menjadi sekitar tiga halaman,” jelasnya.

Praktik tersebut menunjukkan bahwa penguatan kemampuan membaca dan menulis tidak selalu harus dilakukan dengan menambah jumlah latihan.

Guru terlebih dahulu perlu memahami kondisi peserta didik, kemudian merancang pengalaman belajar yang memungkinkan anak memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pembelajaran sesuai tahap perkembangannya.

Ketiga pengalaman tersebut merupakan bagian dari kerangka Pembelajaran Mendalam Kemendikdasmen.

Guru Sebut Buku “Menulis Tanpa Menangis” Relevan

Kegiatan bedah buku tersebut mendapat respons positif dari guru berbagai jenjang.

Baca Juga :  160 Partisipan dari 17 Negara Hadiri Fair and Expo World Water Forum ke-10

Wahyu Rinaningsih, guru kelas di SLB Negeri 10 Jakarta, menilai buku “Menulis Tanpa Menangis” sesuai dengan kebutuhan peserta didik kelas I dan II yang baru mulai belajar menulis.

“Saya bersyukur banget karena kebetulan saya selalu diberi tugas untuk mengajar kelas 1, kelas 2. Jadi anak-anak yang baru mulai sekolah dan saya itu sering kali ada kesulitan tentang menulis. Jadi ini sangat relate dengan kebutuhan saya,” ungkap Wahyu.

Menurutnya, kegiatan bedah buku juga memberikan tambahan wawasan karena menghadirkan pengalaman dan strategi yang sebelumnya belum pernah diterapkan dalam pembelajaran.

Hal serupa disampaikan Nia, guru SD Negeri Katulampa 5, Bogor. Ia menilai buku tersebut sangat relevan dengan kebutuhan guru sekolah dasar dan berencana membagikan pengetahuan yang diperolehnya kepada rekan-rekan guru.

“Buku ini sangat menarik, ini kali kedua saya ikut bedah buku ini. Apalagi relate banget dengan saya guru SD, ini butuh banget. Saya akan sharing sama teman-teman saya,” tuturnya.

Nia menilai buku tersebut memberikan berbagai strategi untuk menghadapi persoalan menulis yang dialami peserta didik, termasuk anak yang enggan menulis maupun mereka yang memiliki kesulitan tertentu.

Literasi Bukan Sekadar Banyak Menulis

Penguatan literasi pada akhirnya bukan semata-mata tentang seberapa banyak anak mampu menulis. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana peserta didik mengalami proses belajar tersebut.

Ketika guru mampu memahami kesulitan yang dialami anak dan berani menyesuaikan pembelajaran, kegiatan membaca dan menulis yang sebelumnya menjadi sumber kelelahan dapat berubah menjadi pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Pendekatan inilah yang menjadi bagian penting dari penerapan Pembelajaran Mendalam, dengan menempatkan kebutuhan dan pengalaman peserta didik sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran.

Follow WhatsApp Channel klopakindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Satu Tahun Tring!, Pegadaian Luncurkan ATM Emas di Bandung, Cetak Emas Fisik Bisa Instan
Wamentan Saleh Dorong Investasi Fosfat di Aljazair, Perkuat Pasokan Bahan Baku Pupuk Nasional
Kepala DKPP Gin Gin Ginanjar Hadiri Penyaluran Bantuan PANGERSA di Karang Pamulang
Pegadaian Masuk Top 10 BUMN Layanan Terbaik, Kanwil X Jawa Barat Kawal Standar Pelayanan
Coaching Clinic D Tarumanegara Karawang Hadirkan Legenda Persib, Bidik Bibit Pesepak Bola Potensial
DPR RI Setujui RUU Satu Data Indonesia, Perkuat Tata Kelola Data Nasional
Pelindungan Ketenagakerjaan, Pekerja Dapat Perlindungan Lebih Komprehensif
MK Tak Terima Gugatan Ijazah Gibran karena Pemohon Tak Punya Legal Standing

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:18 WIB

Satu Tahun Tring!, Pegadaian Luncurkan ATM Emas di Bandung, Cetak Emas Fisik Bisa Instan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 06:59 WIB

Wamentan Saleh Dorong Investasi Fosfat di Aljazair, Perkuat Pasokan Bahan Baku Pupuk Nasional

Kamis, 15 Oktober 2026 - 15:07 WIB

Kepala DKPP Gin Gin Ginanjar Hadiri Penyaluran Bantuan PANGERSA di Karang Pamulang

Rabu, 14 Oktober 2026 - 10:15 WIB

Pegadaian Masuk Top 10 BUMN Layanan Terbaik, Kanwil X Jawa Barat Kawal Standar Pelayanan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 10:18 WIB

Coaching Clinic D Tarumanegara Karawang Hadirkan Legenda Persib, Bidik Bibit Pesepak Bola Potensial

Berita Terbaru