Bandung – Peringatan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) ke-33 yang diselenggarakan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN pada Senin, 29 Juni 2026, menjadi momentum untuk memperkuat komitmen pemerintah dalam membangun keluarga berkualitas sekaligus mempercepat penurunan angka stunting di Indonesia.
Upacara nasional HARGANAS dipusatkan di Benteng Vredeburg, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, bertindak sebagai inspektur upacara. Setelah upacara, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan agenda “Menteri Menyapa”, yaitu dialog secara daring bersama Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan Keluarga Risiko Stunting (KRS) dari enam provinsi terpilih, termasuk Provinsi Jawa Barat.
Dialog Langsung Bersama Keluarga Risiko Stunting
Dalam sesi dialog bersama perwakilan Jawa Barat, Menteri Wihaji berdiskusi langsung dengan Keluarga Risiko Stunting mengenai berbagai aspek yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam dialog tersebut meliputi pola pengasuhan anak, pemenuhan kebutuhan gizi keluarga, pemanfaatan layanan kesehatan, serta pendampingan yang telah diberikan pemerintah melalui berbagai program pencegahan stunting.
Melalui dialog ini, pemerintah ingin memastikan bahwa berbagai intervensi yang telah dijalankan benar-benar menjangkau keluarga sasaran dan memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak.
Selain menjadi sarana mendengar langsung kondisi masyarakat, kegiatan tersebut juga menjadi ruang evaluasi terhadap pelaksanaan program percepatan penurunan stunting di daerah.
Apresiasi untuk Tim Pendamping Keluarga
Agenda “Menteri Menyapa” juga menjadi bentuk penghargaan kepada Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan para Penyuluh Keluarga Berencana (PKB/PLKB) yang selama ini berada di garis depan dalam memberikan pendampingan kepada masyarakat.
Para pendamping berperan aktif mendampingi calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, keluarga yang memiliki balita, hingga keluarga yang berisiko mengalami stunting.
Melalui edukasi, pemantauan kesehatan, pendampingan gizi, serta fasilitasi akses terhadap layanan kesehatan, mereka menjadi ujung tombak pemerintah dalam mencegah terjadinya stunting sejak sebelum kelahiran hingga masa awal kehidupan anak.
Bantuan Bedah Rumah dan Dukungan Nutrisi
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Wihaji secara langsung memberikan bantuan program bedah rumah kepada salah satu Keluarga Risiko Stunting yang masih menempati rumah tidak layak huni.
Program ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan tempat tinggal yang lebih sehat, aman, dan layak sehingga mendukung tumbuh kembang anak sekaligus meningkatkan kualitas hidup keluarga.
Sebagai tindak lanjut, Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dadi Ahmad Roswandi, menyerahkan berbagai bentuk bantuan kepada keluarga penerima manfaat, meliputi:
- Bantuan nutrisi untuk pemenuhan gizi selama tiga bulan.
- Paket bahan kebutuhan pokok (sembako).
- Paket Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) untuk mendukung pemenuhan gizi anak.
Bantuan tersebut merupakan bagian dari intervensi pemerintah dalam mendukung keluarga yang menjadi sasaran program percepatan penurunan stunting.
Pencegahan Stunting Dimulai dari Keluarga
Dalam kesempatan tersebut, Dadi Ahmad Roswandi menegaskan bahwa pencegahan stunting merupakan investasi penting bagi masa depan bangsa karena berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, stunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak, tetapi juga berpengaruh terhadap perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas, hingga kualitas hidup di masa depan.
“Stunting dapat dicegah dengan mencukupi kebutuhan gizi anak, menjaga sanitasi dan kebersihan lingkungan, serta menerapkan pola pengasuhan anak yang baik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan menurunkan angka stunting membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, Tim Pendamping Keluarga, pemerintah daerah, dunia usaha, hingga masyarakat.
Komitmen Mewujudkan Generasi Sehat
Melalui momentum HARGANAS ke-33, Kemendukbangga/BKKBN kembali menegaskan bahwa pembangunan keluarga merupakan fondasi utama dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Berbagai program seperti pendampingan keluarga, edukasi gizi, bantuan nutrisi, perbaikan rumah tidak layak huni, hingga penguatan peran Tim Pendamping Keluarga menjadi bagian dari strategi nasional dalam mempercepat penurunan stunting.
Kemendukbangga/BKKBN berharap kolaborasi yang terus diperkuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, Tim Pendamping Keluarga, serta masyarakat dapat mempercepat tercapainya target penurunan stunting nasional. Dengan keluarga yang sehat, lingkungan yang layak, dan pola pengasuhan yang tepat, diharapkan lahir generasi Indonesia yang unggul sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.


























