Pembongkaran Teras Cihampelas bukan sekadar soal merobohkan bangunan fisik, melainkan keberanian mengakui bahwa sebuah kebijakan tata kota tidak berjalan sesuai harapan. Skywalk yang sempat digadang-gadang sebagai ikon wisata dan pusat UMKM Kota Bandung itu kini justru menjadi simbol kegagalan perencanaan ruang publik.
Sejak diresmikan, Teras Cihampelas diharapkan menjadi solusi kemacetan, ruang ramah pejalan kaki, sekaligus pengungkit ekonomi pelaku usaha kecil. Namun realitas berbicara lain. Aktivitas ekonomi tidak tumbuh, kios-kios banyak yang tutup, dan arus pengunjung terus menurun. Alih-alih hidup, kawasan tersebut perlahan berubah menjadi ruang kosong yang kehilangan fungsi sosial.
Kondisi fisik Teras Cihampelas pun memprihatinkan. Minim perawatan membuat fasilitas rusak, tampilan kumuh, dan menurunkan citra kawasan wisata yang seharusnya menjadi etalase kota. Ruang publik yang gagal dirawat pada akhirnya justru menjadi beban, bukan aset.
Persoalan keamanan turut memperkuat alasan pembongkaran. Kurangnya pengawasan menjadikan area tersebut rawan tindak kriminal dan aktivitas yang menyimpang dari tujuan awal pembangunan. Ini bertolak belakang dengan konsep ruang publik yang seharusnya aman, inklusif, dan nyaman bagi semua kalangan.
Dari sisi tata kota, keberadaan skywalk dinilai mengganggu wajah Cihampelas. Struktur beton yang membentang di atas jalan menutup pandangan, tidak terintegrasi dengan sistem transportasi, serta bertentangan dengan arah kebijakan penataan kota yang kini lebih menekankan penguatan trotoar di permukaan jalan dan ruang hijau.
Yang tak kalah penting, beban anggaran pemeliharaan Teras Cihampelas tidak sebanding dengan manfaat yang dihasilkan. Dalam kondisi keuangan daerah yang harus dikelola secara bijak, mempertahankan proyek yang tidak produktif justru menjadi pemborosan.
Membongkar Teras Cihampelas bukan berarti anti-inovasi. Sebaliknya, langkah ini bisa menjadi momentum evaluasi agar pembangunan kota tidak sekadar mengejar simbol dan pencitraan, melainkan benar-benar berangkat dari kebutuhan warga.
Bandung membutuhkan ruang publik yang hidup, membumi, dan mudah diakses—bukan proyek ambisius yang megah di awal namun rapuh dalam keberlanjutan. Mengakui kegagalan adalah langkah awal menuju penataan kota yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.


























